Hubungan

Parentnial TV

Recommended

Kehamilan

Powered by Blogger.

Gadis Penjual Keperawanan Rp 33 Miliar dan Fenomena Permisifisme

Monday, April 03, 2017

APAKAH ada korelasi antara perkembangan massif teknologi informasi dengan kian tumbuhnya perilaku permisif juga skeptisme agama? Mungkin ini terlalu subjektif, namun faktanya memang demikian.

Hubungannya bahkan boleh jadi sangat relevan apalagi jika kita coba menilik pola interaksi yang terurai di sana.

Teknologi informasi yang didefinisi sebagai "pembantu" manusia untuk dapat saling terhubung lebih dekat, nyatanya tidak sedikit kasus malah "menjauhkan".


Apa yang terjadi di Rumania beberapa waktu lalu ini pun cukup menggambarkan betapa fenomena permisifisme ini kian menggejala terutama karena pengaruh teknologi informasi.

Seperti dikutip Keluargapedia.com dari laman berita The Sun, Kamis (30/3/2017), diberitakan seorang gadis remaja Rumania, yang berprofesi sebagai model pakaian dalam mengaku telah menjual keperawanannya kepada seorang pengusaha Hongkong senilai 3,2 juta euro atau sekitar Rp 33 miliar.

Keluarganya tidak setuju dan mengancamnya, namun Aleexandra Khefren, gadis berusia 18 tahun itu, mengumumkan bahwa dia telah diam-diam menjual keperawanannya tahun lalu.

Khefren, model dari Bucharest, ibu kota Romania, mengatakan, dia telah memesan sebuah hotel dan menghubungi seorang pengusaha.

Bukan saja nominal harga tinggi dibanderol gadis ini yang bikin kaget, pengakuan atau alasan wanita ini melakukan tindakan tersebut juga membuat kita mengurut dada. Keluarganya pun sangat terguncang.

Betapa tidak. Gadis ini melelang keperawannya dan laku terjual setelah “berkelana” dalam sebuah lelang atau penawaran selama empat bulan lewat sebuah situs.

“Saya menjual keperawanan saya ketimbang menyerahkannya kepada seorang pacar yang mungkin akan pergi meninggalkan saya. Dan saya pikir, banyak gadis juga akan memiliki sikap yang sama. Berapa banyak yang mungkin akan melupakannya  ketika mereka mengingat lagi uang sebesar 2,3 juta itu, bukan,” kata gadis itu kepada The Sun.

Pengelola situs tersebut mengatakan setelah lelang keperawanan Khefren, mereka telah dibanjiri dengan penawaran oleh gadis-gadis muda yang juga bersedia menjual kegadisannya.

Bahkan disebutkan lebih dari 300 gadis perawan mengirimkan penawarannya untuk menjual keperawan mereka melalu situs web kami. Demikian lansir Daily Mail.

“Gadis-gadis itu datang dari Australia, Europa, Afrika, Amerika Utara, Amerika Latin, negara-negara Arab, dan dari Asia. Keinginan menjual keperawanan seseorang itu tanpa pengecualian,” kata pengelola situs.

Permisifisme 

Sebetulnya, kecemasan terhadap terjadinya fenomena seperti terjadi di atas telah menjadi kekhawatiran banyak pihak termasuk kita di Indonesia.

Di luar negeri bahkan fenomena ini telah cukup lama dikaji dan didalami seraya dengan itu coba ditemukan solusinya.

Alfred M. Mirande dari Departemen Sosiologi Universitas California dan Elizabeth L. Hammer yang juga peminat studi yang sama dari Mary Baldwin College adalah di antara peneliti yang pernah menelaah persoalan ini meskipun belum memberikan solusi konfrehensif.

Di dalam negeri sendiri, kekhawatiran akan bahaya perilaku bebas nilai ini telah terwarisi sejak lama. Apalagi memang kita adalah bangsa yang memiliki adat dan budaya yang sakral terhadap masalah-masalah tersebut. Didukung pula ajaran agama tidak bisa dilepaskan dari kultur masyarakat kita dengan segala heteroginitasnya.

Namun, saya kira, inti dari munculnya kejadian seperti di atas -dan semoga tidak terjadi di sini- adalah lebih karena mulai merebaknya permisifisme dan skeptisme terhadap norma kesusilaan terutama yang dipicu oleh gaya hidup dan banal komunitas.

Gejala permisif ini misalnya dapat dilihat dengan pola asuh orangtua yang abai bahkan tak jarang membiarkan anak keluar malam untuk tujuan yang tidak logis serta tanpa kontrol yang cukup. Ini biasa terjadi bukan saja di kota-kota besar.

Massifnya perkembangan teknologi informasi yang -sayangnya- tak selaras dengan kecakapan orangtua dalam penggunaannya membuat mereka membiarkan anak berkomunikasi via media sosial tanpa pantauan memadai.

Akibatnya kemudian, tidak sedikit anak dijebak, dirayu, digoda, diiming-imingi oleh orang dikenal dan tak dikenal via media sosial untuk dijadikan obyek kejahatan seksual. Mungkin, seperti kasus yang dialami gadis Rumania di atas.

Apabila mata rantai siklus tersebut dibiarkan atau tepatnya diabaikan, ia bisa menjadi semacam simulacra dan tren di kalangan anak-anak muda kita.

Anak-anak yang kurang perhatian orangtua, jarang bersua, atau tak ada wakku untuk mereka, maka mereka akan mencari panutan lain di luar figur ayah atau ibu sesungguhnya.

Kondisi inilah pula yang rentan memunculkan hasrat remaja atau anak muda untuk melakukan seks pra-nikah. Terlebih keingintahuan remaja yang besar kini telah didukung dengan perkembangan teknologi informasi yang sekelebatan!.

Kita belum tahu persis prosentase data statistik terbaru tahun 2017 ini tentang perilaku hubungan bebas di dunia remaja. Namun, telaah dari data-data pada tahun sebelumnya, kita dapat saja mendapatkan gambaran kecenderungan pola interaksi mereka.

Data dari Komisi Nasional Perlindungan Anak tahun 2008 menyebutkan dari 4.726 responden siswa SMP dan SMA di 17 kota besar diperoleh hasil, 97 persen remaja pernah menonton film porno serta 93,7 persen pernah melakukan ciuman, meraba kemaluan, ataupun melakukan seks oral.

Lalu sebanyak 62,7 persen remaja SMP tidak perawan dan 21,2 persen remaja mengaku pernah aborsi. Perilaku seks bebas pada remaja terjadi di kota dan desa pada tingkat ekonomi kaya dan miskin.

Kesimpulan ini mungkin dianggap terlalu naif, tapi angka prosentase pola hubungan anak remaja kita saat ini diperkirakan mengalami peningkatan luar biasa. Indikatornya, diantaranya, ketersediaan perangkat-perangkat teknologi pada tahun 2008 relatif sangat tertinggal ketimbang saat ini.

Maka, saya kira, tidak ada jalan lain bagi kita para orangtua selain bahu membahu membangun kesadaran kolektif bahwa peran-peran kepengasuhan sangat penting untuk semakian digiatkan.

Kontrol kita di rumah saja tidak cukup. Kita butuh lebih dari itu, yakni kepesertaan lingkungan dan komunitas di mana kita berada. Kita harus saling membantu menegakkan pola kepengasuhan yang terintegrasi.

Ayah bunda, pulanglah ke rumah. Peluklah anak-anak kita. Doakan mereka. Jadikan dia teman berfikir sekaligus sahabat dalam perjalanan bahkan hingga setelah mati. (AINUDDIN CHALIK)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »