Hubungan

Parentnial TV

Recommended

Kehamilan

Powered by Blogger.

Bulan Ramadhan Sebentar Lagi, Waspada Bahaya Pembungkus Makanan Takjil

Tuesday, May 01, 2018

KEDATANGAN tamu agung bulan Ramadhan tinggal menghitung hari. Bagi umumnya penduduk Indonesia, tidak saja masyarakat muslim, Ramadhan merupakan momen spesial yang selalu dinanti.

Ramadhan tak semata tentang ibadah dan intensitas melakukan kebaikan untuk sesama di bulan suci ini. Ramadhan juga adalah cerita tentang kebersamaan dan cita rasa takjil berbagai kuliner nusantara.

Untuk umumnya pasangan berkeluarga, berbuka puasa di luar merupakan momen spesial. Tak perlu repot. Tinggal datang ke rumah makan atau restoran pilihan, lalu menunggu azan Magrib sambil berdoa. Santapan berbuka pun telah tersedia dinikmati.

Ilustrasi: takjil buka puasa/ Pixabay

Selain makan atau berbuka di luar, ada juga orangtua yang punya kebiasaan membeli jajanan takjil di pusat-pusat jajanan lingkungan sekitar untuk dibawa pulang. Tentu saja ini niat yang baik, tapi tetap perlu berhati-hati.

Kenapa harus tetap berhati-hati? Iya dong. Sebab namanya jajanan apalagi yang dijual di pingir-pinggir jalan tidak selalu disajikan dengan proses yang higienis.

Termasuk soal kemasan makanan. Orangtua perlu memastikan kebersihan dan keamanan kemasan yang digunakan saat membeli makanan di luar. Sebab tidak semua wadah makanan benar-benar aman digunakan.

Tentu kita cinta kepada keluarga di rumah, terlebih tubuh kita sendiri. Karena itu, perlu dipastikan kemasan makanan yang kita gunakan betul aman bagi keluarga kita. Sebab, dalam temuan penelitian, didapati kertas pembungkus makanan yang tidak sehat.

Dalam sebuah penelitian Pusat Penelitian Biomaterial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), misalnya, menemukan adanya bahaya pada kertas nasi dan kertas daur ulang.

Peneliti Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, Lisman Suryanagara, mengingatkan masyarakat akan bahaya kertas nasi dan kertas daur ulang bagi kesehatan manusia.

“Kertas nasi untuk membungkus makanan seperti untuk nasi goreng, nasi bungkus, atau martabak yang berwarna cokelat itu memiliki dampak buruk bagi kesehatan, misalnya mengurangi vitalitas bagi laki-laki,” ujar Lisman Suryanaga dikutip dari laman resmi LIPI.

Menurut Lisman, pemanfaatan bahan yang digunakan sebagai kemasan makan yang umum digunakan dari masa ke masa antara lain keramik, kaca, plastik, aluminium foil, hingga yang berbahan dasar kertas.

Berbicara tentang kemasan pangan berbahan dasar kertas yang paling lazim digunakan di Indonesia, ternyata masih banyak yang belum layak untuk dijadikan sebagai kemasan pangan primer.

“Masih banyak ditemukan penggunaan kertas koran, kertas bekas cetakan, atau kertas daur ulang sebagai kemasan nasi kotak, nasi bungkus, gorengan, dan kotak martabak,” ujar Lisman menyampaikan hasil penelitian LIPI.

Dalam riset yang dilakukan LIPI, diketahui jumlah bakteri yang terkandung dalam kertas pangan yang terbuat dari kertas daur ulang sekitar 1,5 juta koloni per gram, sedangkan rata-rata kertas nasi yang umum digunakan beratnya 70-100 gram, itu artinya ada sebanyak 105 juta-150 juta bakteri yang terdapat di kertas tersebut.

“Kandungan mikroorganisme di kertas daur ulang memiliki nilai tertinggi dibandingkan jenis kertas lainnya, ini melebihi batas yang ditentukan,” ujar Lisman lagi.

Ilustrasi: nasi bungkus 

Selain itu, Lisman mengatakan bahwa zat-zat kimia tersebut berdampak negatif terhadap tubuh manusia dan dapat memicu berbagai penyakit seperti kanker, kerusakan hati dan kelenjar getah bening, mengganggu sistem endokrin, gangguan reproduksi, meningkatkan risiko asma, dan mutasi gen.

Kandungan berbahaya BPA

Senada dengan itu, BPA atau bisphenol A adalah bahan kimia yang sering digunakan sebagai bahan pembuat wadah makan, bukan hanya plastik, tetapi juga kertas. Awalnya BPA digunakan pada wadah makanan kaleng agar kaleng tersebut tidak mudah berkarat.

Dilansir dari WebMD, Kurunthachalam Kannan, Ph.D., seorang ilmuwan riset di New York State Department of Health, menyatakan bahwa BPA juga terkandung pada kertas pembungkus makanan dengan tingkat konsentrasi yang sangat tinggi.

Kadar BPA tinggi pada umumnya terdapat dalam kertas pembungkus makanan yang merupakan hasil daur ulang. Bubuk BPA digunakan untuk melapisi kertas supaya lebih tahan terhadap panas.

Selain pada kertas pembungkus makanan, BPA juga sering terdapat pada tisu toilet, kertas koran, kertas struk belanja, maupun tiket.

Saat BPA masuk ke dalam tubuh, zat tersebut dapat meniru fungsi dan struktur hormon esterogen. Karena kemampuannya tersebut, BPA dapat memengaruhi proses tubuh, seperti pertumbuhan, perbaikan sel, perkembangan janin, tingkat energi dan reproduksi.

Selanjutnya, kemasan makanan berbahan dasar kertas non daur ulang bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan penggunaan kemasan daur ulang dan styrofoam dan kemasan kertas non daur ulang baik untuk konsumen, makanan dan lingkungan.

Seperti di luar negeri trennya sudah seperti itu jadi untuk mengurangi limbah karena biasanya kemasan ini biodegradable dan sudah memiliki standar keamanan.

Alternatif lainnya, masyarakat dapat menggunakan kemasan pangan berkategori food grade yang seratus persen terbuat dari serat alami dengan ciri-ciri tampilan berwarna putih bersih, tidak berbintik-bintik, dan tidak tembus minyak. Di samping itu, karton food grade bersifat ramah lingkungan karena mudah terurai.

Yang terpenting tentunya adalah memastikan keluarga kita seminimal mungkin terpapar dari bahan-bahan berbahaya tersebut. Sebab mencegah 100 persen agaknya menjadi tidak mungkin, kecuali dengan usaha yang betul-betul maksimal.

Seiring dengan itu, ada baiknya orangtua mengolah dan menyediakan sendiri makanan bagi anak-anak dan keluarga besar.

Ketimbang jajan di luar yang belum tentu sehat dan higienis, mengolah sendiri makanan di rumah tentu merupakan pilihan yang bijak.

Apalagi puasa Ramadhan sebentar lagi. Sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita berbelanja bahan makanan berbuka puasa di pusat-pusat kuliner. Tetaplah bijak dan utamakanlah kesehatan.

DEVINA SETIAWAN

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »