Hubungan

Parentnial TV

Recommended

Kehamilan

Powered by Blogger.

Keengganan Mendengarkan Cerita Anak dan Harapan Luar Biasa Mereka

Monday, May 14, 2018

SIANG begitu terik, ketika Muhammad pulang dari sekolah. Ia datang dengan wajah sumringah.

Tak lama kemudian, ia membuka permen yang baru saja dibelinya, lantas memberikan 4 buah kepada adiknya. Ia sendiri hanya mengambil tiga permen.

Tak lama setelah itu ia berkata kepada sang ibu. “Ibu, saya ingin menjadi orang kaya seperti Nabi Muhammad.” Ungkapan anak 5 tahun itu sontak mengagetkan sang ibu.

“Subhanalloh, kenapa mau jadi orang kaya?”

Sang anak dengan tenang menjawab, “Untuk berbagi kepada teman-teman atau kepada orang yang tidak punya uang.”



Sang ibu langsung memeluk buah hatinya dengan penuh kebanggaan. “Semoga Allah kabulkan apa yang menjadi cita-citamu, nak.”

Dialog di atas mungkin biasa saja, toh setiap anak di dalam keluarga, hampir pasti pernah mengutarakan cita-citanya.

Akan tetapi, tidak ada yang terjadi tanpa maksud, tanpa makna.

Ungkapan anak yang bagaimanapun ucapannya belum didasari kemampuan nalar yang memadai boleh jadi adalah sebuah keadaan yang kelak akan ia capai, keadaan yang akan ia raih, keadaan yang akan membuatnya menjadi pribadi bermanfaat bagi kehidupan.

Terlebih, ketika seorang anak mampu menyampaikan argumen mengapa ia memilih sesuatu, maka sungguh itu adalah sebuah tanda kebaikan yang orang tua perlu memupuknya dengan kasih sayang, pengarahan dan tentu saja doa.

Namun, sayang seribu sayang, banyak orang tua zaman now yang berjumpa dan berdialog dengan anaknya begitu sangat jarang.

Kalau pun ada waktu bersama, orang tua membiarkan anak “berdialog” dengan gadget. Padahal, dalam dialog itu boleh jadi Tuhan titipkan pesan bahwa anak-anakmu kelak akan seperti ini atau akan seperti itu.

Ayah bunda, mari sempatkan dialog dengan anak-anak kita. Bukankah Nabi Ibrahim (Abraham) berdialog dengan Nabi Ismail (Samuel)? Bukankah Nabi Ya’kub (Jacob) berdialog dengan Nabi Yusuf (Josep)? Bukankah Lukman Al-Hakim berdialog dengan putranya?.

Lantas apa yang menghalangi kita berdialog dengan anak-anak yang boleh jadi kemurnian dan kesungguhan begitu kental memancar dari dalam jiwanya.

IMAM NAWAWI

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »