Hubungan

Parentnial TV

Recommended

Kehamilan

Powered by Blogger.

Euis Sunarti, Profesor Cantik dan Bundanya Anak-anak Indonesia

Tuesday, July 31, 2018

SOSOKNYA paling dicari ketika sejumlah akademisi dan tokoh yang umumnya para ibu mengajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) agar para pengidap lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dihukum penjara maksimal 5 tahun. Beliau adalah Bunda Prof Dr Euis Sunarti.

Beliau dan para ibu itu tentu tak jahat kepada LGBT, justru sayang kepada mereka. Judicial review itu amatlah manusiawi. Dalam rangka memanusiakan peradaban kita sebagai manusia. Peradaban kita. Karena sejatinya LGBT sejatinya endemi yang sebenarnya bisa disembuhkan, sehingga tak seharusnya diperturutkan.



Menurut Euis dan kawan-kawan, homoseksual haruslah dilarang tanpa membedakan batasan usia korban, baik masih belum dewasa atau sudah dewasa. Sehingga para pelaku lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dikenakan Pasal 292 KUHP dan dipenjara maksimal 5 tahun.

Gagasan tersebut membawa Euis menjadi Kepala Pusat Studi Bencana LPPM IPB, pendiri Forum Perguruan Tinggi untuk Pengurangan Risiko Bencana (FPT-PRB), Koordinator Penelitian FPT-PRB, menjadi inisiator dan deklarator pendirian Platform Nasional (PLanas) PRB, Ketua Kelompok Kerja sociodemografi IABI (Ikatan Ahli Bencana Indonesia), dan menjabat Dewan Pengarah Planas PRB (2015-2017).

Secara insidentil Euis menjadi narasumber berbagai seminar dan workshop di BKKBN, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Bappenas.

Bunda Euis adalah Guru Besar dan profesor di bidang ketahanan dan pemberdayaan keluarga Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia IPB. Perhatiannya pada masalah keluarga mendorongnya untuk aktif melakukan suaka generasi bangsa meskipun dengan tantangan yang tentu tidak ringan.

Sehari-hari Euis mengajar di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, IPB. Ia menjadi dosen IPB sejak 1987 dan sejak 2000 melakukan penelitian dan menulis mengenai Ketahanan-kesejahteraan-pemberdayaan keluarga, juga ekologi keluarga.

Perempuan kelahiran Bandung, 18 Januari 1965 itu pernah meluncurkan tiga buah buku Family Kit Ketahanan Keluarga, Buku Potret Ketahanan Keluarga Indonesia di Wilayah Khusus dan Potret Ketahanan Keluarga menurut Keragaman Pola Nafkah pada 2013.

Ia juga aktif di berbagai forum akademik internasional seperti International Community, Work, Family (CWF) di Sydney dan Konferensi International Work Family Researcher Network (WFRN) di New York.

Beliau figur pembelajar yang patut diteladani. Meskipun bergelar sebagai Guru Besar dan akademikus dengan gelar profesor yang disandangnya, beliau tetap rendah hati. Tak pilih-pilih orang untuk berbagi.

Bahkan pada pagi hari ini, Selasa, 31 Juli 2018, beliau didapuk menjadi narasumber dalam sebuah seminar tentang generasi millenial digital di Kota Depok. Di hadapan anak-anak muda.



Beliau menjadi salah satu narasumber dari tiga orang narasumber. Namun dua orang narasumber lainnya itu adalah pelajar yang amat belia. Namun keduanya anak anak luar biasa dengan capaian prestasi yang telah berhasil diraihnya.

Jadi tidak melulu ilmuan apalagi yang telah memiliki sederet prestasi dan pengakuan akademik itu enggak mau duduk bareng sama anak SMP/SMA. Nongkrong bareng. Diskusi bersama. Bunda Euis Sunarti telah menunjukkannya. Beliau begitu peduli dan tak canggung "turun gunung" sekedar untuk bersua dengan anak anak remaja.

Barangkali itu juga yang menjadi resep awet muda beliau. Meskipun usianya sudah kategori "nenek", beliau tetap tampak bersahaja, cantik, muda, dan bercahaya. Sosok pemikir yang tak pernah lelah berbagi inspirasi.

Semangatnya tak pernah pudar untuk bersama dengan elemen masyarakat meneguhkan ketahanan  keluarga Indonesiia, apalagi jika menyangkut terkait dengan tumbuh kembang generasi muda. Ibu yang bergelar profesor ini tak pernah merasa canggung untuk duduk berdiskusi bersama dengan anak-anak remaja.

Kita butuh Bunda Euis lainnya yang terus menyuarakan pentingnya gerakan ketahanan keluarga demi merawat martabat dan peradaban bangsa yang berlandas pada nilai-nilai luhur agama sebagaimana dengan jelas termaktub dalam Sila Pertama Pancasila.


Atas perhatiannya yang tinggi terhadap ketahanan keluarga dan bangsa serta kepeduliannya terhadap tumbuh kembang generasi muda, Eusi Sunarti layak menyandang predikat sebagai "Bunda Anak Indonesia". Peneliti dan penulis mengenai ketahanan-kesejahteraan-pemberdayaan keluarga, juga ekologi keluarga ini, tak pernah lelah berbagi inspirasi.

Kita doakan semoga Bunda Euis, bundanya para remaja Indonesia, selalu diberikan kesehatan, keberkahan, keselamatan dan kesejahteraan bersama dengan anggota keluarganya sehingga dapat terus mengabdikan dirinya untuk kemaslahatan agama dan bangsa Indonesia tercinta.

DEVINA SETIAWAN

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »