Hubungan

Parentnial TV

Recommended

Kehamilan

Powered by Blogger.
Ketahui Mengapa Bayi Suka Tiba-tiba Terbangun di Malam hari

On Tuesday, August 07, 2018

POLA tidur bayi dapat dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk penyakit, liburan, perubahan dalam rutinitas dan kemajuan dalam perkembangan.

Banyak bayi yang tidur nyenyak karena bayi kecil mulai bangun lagi pada malam hari antara 6 dan 10 bulan. Para peneliti tidak yakin mengapa ini terjadi, tetapi banyak yang percaya mungkin ada beberapa penyebab fisiologis atau perkembangan.

Jika bayi Anda tiba-tiba mulai bangun di malam hari, mundur dan evaluasi situasinya. Apakah ada sesuatu di lingkungan bayi Anda yang telah diubah? Apakah cuaca berubah sehingga bayi Anda mungkin terlalu dingin pada malam hari? Apakah tetangga mulai meninggalkan lampu luar yang bersinar ke kamar bayi Anda?

Photo by: unsplash-logoLes Anderson

"Coba perbaiki masalah. Dandani dia dengan lebih hangat atau kenakan warna ruangan yang gelap. Jika kebisingan jalan adalah masalahnya, cobalah menggunakan mesin white noise atau kipas angin di kamarnya untuk menenggelamkan suara lain lainnya," kata pakar gangguan tidur pediatrik, Deborah Lin-Dyken, seperti dilansir laman Babycenter.

Selanjutnya, pertimbangkan apakah waduk malam hari yang tiba-tiba mengikuti periode penyakit, liburan, atau perubahan lain dalam rutinitas bayi Anda. Atau apakah mereka bertepatan dengan tonggak perkembangan?

"Jika bayi Anda telah belajar keterampilan motorik baru, ia mungkin ingin mencobanya setiap ada kesempatan - bahkan di tengah malam," kata Lin-Dyken.

Menurut dia, beberapa bayi terjebak dalam menarik diri tetapi kemudian tidak dapat kembali ke bawah tanpa bantuan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tidur juga dapat terganggu dalam beberapa minggu sebelum lompatan perkembangan utama, seperti berjalan.

Cara terbaik untuk menghadapi bangun malam (wakings) bayi yang tiba-tiba adalah tetap dengan apa yang berhasil sebelumnya. Jangan tiba-tiba mengubah rutinitas tidur bayi Anda atau cara Anda membuat bayi Anda tidur.

Juga, Lin-Dyken menyarankan jangan mengembangkan kebiasaan tidur yang tidak ingin Anda patuhi. Goyang bayi Anda untuk tidur selama satu atau dua malam dapat bekerja dalam jangka pendek, tetapi Anda mungkin harus melakukannya malam berikutnya dan mungkin untuk bulan berikutnya atau lebih.

"Tetap konsisten dalam apa yang Anda lakukan selama beberapa minggu. Ini akan membantu bayi Anda kembali tidur semalaman setelah masalah sementara terselesaikan," pungkasnya.

NURSELINAWATI

Ingin Balita Bunda Menyusui ASI Lebih Banyak? Hindarilah Paparan Rokok

On Thursday, August 02, 2018

PARA peneliti telah menetapkan bahwa para ibu baru yang terpapar asap rokok di rumah mereka, berhenti menyusui lebih cepat daripada wanita yang tidak terpapar asap bekas.

Penelitian itu dilakukan di Hong Kong, melibatkan lebih dari 1.200 wanita dari empat rumah sakit besar, jelas Profesor Marie Tarrant, Direktur Sekolah Keperawatan UBC Okanagan.

Tarrant, yang penelitiannya berfokus pada kesehatan ibu dan anak, diajarkan di fakultas Kedokteran di Universitas Hong Kong sebelum bergabung dengan UBC.

Photo by: unsplash-logoThomas Bjornstad
"Studi kami menunjukkan bahwa hanya berada di rumah tangga yang merokok - apakah itu suami, ibu atau anggota keluarga besar - mengurangi waktu bahwa seorang anak diberi ASI," kata Tarrant.
"Bahkan, semakin banyak perokok di rumah, semakin pendek durasi menyusui," katanya seperti dikutip Science Daily, Kamis (2/8/2018).

Penelitian ini, kata Tarrant, adalah salah satu yang pertama meneliti pengaruh merokok anggota keluarga selama masa menyusui di Hong Kong setelah negara itu melakukan perubahan besar pada regulasi pengendalian tembakau pada 2007.

Di Hong Kong sekitar empat persen wanita dan 18 persen pria merokok, untuk rata-rata nasional sekitar 10 persen dari populasi - dibandingkan dengan Cina Daratan di mana statistik merokok masih cukup tinggi. Di Kanada, sekitar 14 persen populasi merokok lebih dari satu batang rokok sehari.

"Temuan kami konsisten dengan penelitian sebelumnya dan kami menemukan bahwa paparan perokok rumah tangga juga memiliki efek negatif yang substansial terhadap praktik menyusui,” kata Tarrant.

"Lebih dari sepertiga dari peserta memiliki mitra atau anggota rumah tangga lain yang merokok. Dan ayah yang merokok secara signifikan lebih kecil kemungkinannya untuk memilih menyusui bila dibandingkan dengan pasangan yang tidak merokok."

Nikotin ditularkan dalam ASI kepada anak dan Tarrant mengatakan ada juga beberapa saran yang dapat mengurangi jumlah keseluruhan ASI. Ada juga kekhawatiran tentang paparan lingkungan dari perokok pasif pada anak.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa mitra merokok dapat mempengaruhi keputusan ibu untuk berhenti menyusui dan paparan merokok ayah dan rumah tangga sangat terkait dengan durasi menyusui yang lebih pendek," katanya.

Tarrant mengatakan penelitian ini merekomendasikan bahwa perempuan dan keluarga mereka berhenti merokok sebelum mereka hamil dan ibu-ibu baru menunggu sampai mereka selesai menyusui, jika mereka memilih untuk memulai kembali merokok.

Dan dia merekomendasikan jika seorang wanita memilih untuk merokok dengan bayi di rumah, mereka memastikan bayi tidak terkena asap rokok bekas.

"Kami tahu efek asap tembakau lingkungan pada bayi muda sangat merugikan karena bayi yang merokok lebih menyukai infeksi pernapasan dan pengalaman lain masalah pernapasan lainnya," kata Tarrant.

"Namun, jika seorang ibu menyusui, manfaat dari dia melakukan itu masih lebih besar daripada efek negatif dari merokok selama dia menjaga kebersihan merokok yang baik dan tidak mengekspos bayi itu ke asap rokok."

Penelitian Tarrant baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Breastfeeding Medicine.

DEVINA SETIAWAN

Studi Serius, Orangtua Bahkan Tidak Bisa Hentikan Remaja Nonton Film Porno

On Wednesday, August 01, 2018

GADGET kini layaknya pakaian, yang selalu melekat dengan kita kapan dan dimanapun berada. Di waktu yang sama orangtua sebenarnya sangat memahami dampak jelek dari penggunaan gadget yang keliru.

Karena itulah, umumnya orangtua pasti membatasi penggunaan gadget untuk anak. Namun, sayangnya, peraturan tidak untuk dirinya. Maka, tak heran ketika tiba-tiba ia mengetahui anaknya mengakses materi pornografi, ia segera panik dan marah.

Photo by:unsplash-logoVictoria Heath
Bahkan, sebuah penelitian baru keluar dengan beberapa hasil yang tidak terlalu mengejutkan. Penelitian itu menyatakan bahwa tidak peduli metode apa pun yang orang tua adopsi, mereka tidak pernah dapat menghentikan anak-anak mereka menonton film porno.

Orangtua, perhatikan. Jika Anda berpikir bahwa alat pemfilteran Internet —seperti kontrol orangtua— akan menghentikan anak remaja Anda mengakses konten seksual eksplisit secara online, maka Anda mungkin salah, sebuah penelitian baru menunjukkan.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Cyberpsychology, Behaviour and Social Networking, menunjukkan bahwa alat penyaringan internet tidak efektif.

Perjuangan untuk membentuk pengalaman yang dimiliki orang muda secara online sekarang menjadi bagian dari peran orangtua modern.

Ketika anak-anak dan remaja menghabiskan jumlah waktu online yang meningkat, sebagian besar orangtua dan wali kini menggunakan alat penyaringan internet (seperti mode parental control) untuk melindungi anak-anak mereka mengakses materi seksual secara online.

Namun, penelitian terbaru dari Oxford Internet Institute, University of Oxford telah menemukan bahwa alat penyaringan Internet tidak efektif dan dalam banyak kasus, merupakan faktor yang tidak signifikan dalam apakah orang muda telah melihat konten seksual eksplisit.

Meskipun penggunaan alat pemfilteran internet tersebar luas, belum ada bukti konklusif pada keefektifannya sampai sekarang.

"Penting untuk mempertimbangkan kemanjuran penyaringan internet," kata Dr Victoria Nash, rekan penulis pada studi ini seperti dikutip laman Phys.org.

"Alat pemfilteran internet mahal untuk dikembangkan dan dipelihara, dan dapat dengan mudah 'underblock' karena pengembangan cara baru berbagi konten yang konstan".

Selain itu, ada kekhawatiran tentang pelanggaran hak asasi manusia — penyaringan dapat mengarah pada 'overblocking', di mana orang muda tidak dapat mengakses informasi kesehatan dan hubungan yang sah.

Penelitian ini menggunakan data dari penelitian skala besar yang melihat pasangan anak-anak dan pengasuh di Eropa, membandingkan informasi yang dilaporkan sendiri apakah anak-anak telah melihat konten seksual online meskipun menggunakan alat pemfilteran internet di rumah tangga mereka. Studi preregistered kedua kemudian dilakukan melihat remaja di Inggris.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemfilteran internet tidak efektif dan tidak signifikan terhadap apakah seorang anak muda telah melihat konten seksual eksplisit.

Lebih dari 99,5 persen dari apakah orang muda yang ditemui materi seksual online ada hubungannya dengan faktor di samping penggunaan teknologi penyaringan internet oleh pengasuh mereka.

"Kami juga tertarik untuk mengetahui berapa banyak rumah tangga yang perlu menggunakan teknologi penyaringan untuk menghentikan satu remaja dari melihat pornografi online," kata rekan penulis Profesor Andrew Przybylski.

"Temuan dari penelitian awal kami menunjukkan bahwa di antara 17 dan 77 rumah tangga akan perlu menggunakan alat pemfilteran internet untuk mencegah seorang anak muda dari mengakses konten seksual. Hasil dari penelitian lanjutan kami menunjukkan tidak ada efek protektif yang signifikan secara statistik atau praktis. untuk memfilter," sebut penelitian itu.

"Kami berharap ini mengarah pada pemikiran ulang dalam target efektivitas untuk teknologi baru, sebelum mereka diluncurkan ke populasi," kata Nash.

"Dari perspektif kebijakan, kita perlu fokus pada intervensi berbasis bukti untuk melindungi anak-anak. Sementara penyaringan internet mungkin tampak sebagai solusi intuitif yang baik, itu mengecewakan bahwa bukti tidak mendukung hal itu," terangnya.

Para peneliti setuju bahwa harus ada lebih banyak penelitian yang dilakukan untuk memantapkan temuan ini.

"Lebih banyak studi perlu dilakukan untuk menguji penyaringan internet dalam pengaturan eksperimental, dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip keterbukaan ilmu pengetahuan," kata Przybylski.

"Teknologi baru harus selalu diuji efektivitasnya dengan cara yang transparan dan mudah diakses," pungkasnya.

DEVINA SETIAWAN

Euis Sunarti, Profesor Cantik dan Bundanya Anak-anak Indonesia

On Tuesday, July 31, 2018

SOSOKNYA paling dicari ketika sejumlah akademisi dan tokoh yang umumnya para ibu mengajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) agar para pengidap lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dihukum penjara maksimal 5 tahun. Beliau adalah Bunda Prof Dr Euis Sunarti.

Beliau dan para ibu itu tentu tak jahat kepada LGBT, justru sayang kepada mereka. Judicial review itu amatlah manusiawi. Dalam rangka memanusiakan peradaban kita sebagai manusia. Peradaban kita. Karena sejatinya LGBT sejatinya endemi yang sebenarnya bisa disembuhkan, sehingga tak seharusnya diperturutkan.



Menurut Euis dan kawan-kawan, homoseksual haruslah dilarang tanpa membedakan batasan usia korban, baik masih belum dewasa atau sudah dewasa. Sehingga para pelaku lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dikenakan Pasal 292 KUHP dan dipenjara maksimal 5 tahun.

Gagasan tersebut membawa Euis menjadi Kepala Pusat Studi Bencana LPPM IPB, pendiri Forum Perguruan Tinggi untuk Pengurangan Risiko Bencana (FPT-PRB), Koordinator Penelitian FPT-PRB, menjadi inisiator dan deklarator pendirian Platform Nasional (PLanas) PRB, Ketua Kelompok Kerja sociodemografi IABI (Ikatan Ahli Bencana Indonesia), dan menjabat Dewan Pengarah Planas PRB (2015-2017).

Secara insidentil Euis menjadi narasumber berbagai seminar dan workshop di BKKBN, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Bappenas.

Bunda Euis adalah Guru Besar dan profesor di bidang ketahanan dan pemberdayaan keluarga Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia IPB. Perhatiannya pada masalah keluarga mendorongnya untuk aktif melakukan suaka generasi bangsa meskipun dengan tantangan yang tentu tidak ringan.

Sehari-hari Euis mengajar di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, IPB. Ia menjadi dosen IPB sejak 1987 dan sejak 2000 melakukan penelitian dan menulis mengenai Ketahanan-kesejahteraan-pemberdayaan keluarga, juga ekologi keluarga.

Perempuan kelahiran Bandung, 18 Januari 1965 itu pernah meluncurkan tiga buah buku Family Kit Ketahanan Keluarga, Buku Potret Ketahanan Keluarga Indonesia di Wilayah Khusus dan Potret Ketahanan Keluarga menurut Keragaman Pola Nafkah pada 2013.

Ia juga aktif di berbagai forum akademik internasional seperti International Community, Work, Family (CWF) di Sydney dan Konferensi International Work Family Researcher Network (WFRN) di New York.

Beliau figur pembelajar yang patut diteladani. Meskipun bergelar sebagai Guru Besar dan akademikus dengan gelar profesor yang disandangnya, beliau tetap rendah hati. Tak pilih-pilih orang untuk berbagi.

Bahkan pada pagi hari ini, Selasa, 31 Juli 2018, beliau didapuk menjadi narasumber dalam sebuah seminar tentang generasi millenial digital di Kota Depok. Di hadapan anak-anak muda.



Beliau menjadi salah satu narasumber dari tiga orang narasumber. Namun dua orang narasumber lainnya itu adalah pelajar yang amat belia. Namun keduanya anak anak luar biasa dengan capaian prestasi yang telah berhasil diraihnya.

Jadi tidak melulu ilmuan apalagi yang telah memiliki sederet prestasi dan pengakuan akademik itu enggak mau duduk bareng sama anak SMP/SMA. Nongkrong bareng. Diskusi bersama. Bunda Euis Sunarti telah menunjukkannya. Beliau begitu peduli dan tak canggung "turun gunung" sekedar untuk bersua dengan anak anak remaja.

Barangkali itu juga yang menjadi resep awet muda beliau. Meskipun usianya sudah kategori "nenek", beliau tetap tampak bersahaja, cantik, muda, dan bercahaya. Sosok pemikir yang tak pernah lelah berbagi inspirasi.

Semangatnya tak pernah pudar untuk bersama dengan elemen masyarakat meneguhkan ketahanan  keluarga Indonesiia, apalagi jika menyangkut terkait dengan tumbuh kembang generasi muda. Ibu yang bergelar profesor ini tak pernah merasa canggung untuk duduk berdiskusi bersama dengan anak-anak remaja.

Kita butuh Bunda Euis lainnya yang terus menyuarakan pentingnya gerakan ketahanan keluarga demi merawat martabat dan peradaban bangsa yang berlandas pada nilai-nilai luhur agama sebagaimana dengan jelas termaktub dalam Sila Pertama Pancasila.


Atas perhatiannya yang tinggi terhadap ketahanan keluarga dan bangsa serta kepeduliannya terhadap tumbuh kembang generasi muda, Eusi Sunarti layak menyandang predikat sebagai "Bunda Anak Indonesia". Peneliti dan penulis mengenai ketahanan-kesejahteraan-pemberdayaan keluarga, juga ekologi keluarga ini, tak pernah lelah berbagi inspirasi.

Kita doakan semoga Bunda Euis, bundanya para remaja Indonesia, selalu diberikan kesehatan, keberkahan, keselamatan dan kesejahteraan bersama dengan anggota keluarganya sehingga dapat terus mengabdikan dirinya untuk kemaslahatan agama dan bangsa Indonesia tercinta.

DEVINA SETIAWAN

Ketua ISMA Malaysia DR Norsaleha Mohd Salleh Ungkap Rahasia Kebahagiaan Wanita

On Monday, July 30, 2018

KETUA Ketua Wanita Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA) Norsaleha Mohd Salleh menjadi narasumber dalam acara Seminar Negeri Serumpun yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah di Auditorium Lantai II Perpusnas, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Ahad (29/07/2018). Berikut ini rekamannya.

Silahkan berkunjung ke situs www.parentnial.com untuk mendapatkan berita dan menonton video menarik lainnya.

Nantikan juga seri video berikutnya.

Seminar Negeri Serumpun, Mushida-Wanita ISMA Didorong Terus Berkolaborasi

On Sunday, July 29, 2018

SEMINAR Negeri Serumpun yang diselenggarakan PP Muslimat Hidayatullah dengan menggandeng Wanita Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA) yang digelar di Auditorium Lantai II Perpusnas, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Ahad (29/07/2018), mendapat sambutan positif.

Salah seorang peserta dalam sesi sharing, Pengurus Pusat Wanita Al Irsyad, misalnya, mendorong agar kedua lembaga terus melakukan kolaborasi dalam rangka bekerjasama sesama negeri serumpun untuk meneguhkan ketahanan keluarga.

Senada dengan itu, Aminah Rahayu, peserta dari Surabaya, Jawa Timur, pun mengharapkan jalinan sinergi untuk bersama menguatkan ketahannan keluarga dalam rangka mengokohkan peradaban bangsa ini senantiasa terjaga.



Ketua Wanita Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA) Norsaleha Mohd Salleh dalam perbentangannya, mengajak para muslimah untuk menikmati perannya sebagai wanita yang  selaras dengan kodratnya sebagai manusia.

Dia mengatakan beragam cabaran hidup yang dijalani senantiasalah indah dilalui manakala disertai dengan keterbukaan hati dan keelokan budi karena hidupnya semata mata menggapai ridha Ilahi.

"Oleh sebab itu, sihat hati dan sihat fizikal perlu seiringan dan saling melengkapi antara satu sama lain," cakap ibu dari 9 orang anak ini.

Dia menerangkan, menjadi muslimah adalah kebahagiaan dan dengan kodrat tersebut sempurnahlah dunianya. Dengan terbangunnya tradisi shalat, melafaz Al Quran, zikir, dan taubat dengan istighfar akan  kian menambah keluasan hati.

"Kebahagiaan bagi muslimah yang berterusan, tenang, seronok dan damai," imbuh Norsaleha yang juga Pengarah Institut Kajian Hadis Kolej Universiti Islam Antarbangsa Selangor (INHAD-KUIS).

Kebahagiaan menurutnya bisa dibagi menjadi yaitu kebahagiaan yang sifatnya fisik dan kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan bersifat sementara ini jauh daripada manhaj Allah SWT. Adapun kebahagiaan hakiki berkesinambungan tanpa henti. 



"Ramai manusia menyangka duit yang banyak, harta yang bertimbun itu adalah kebahagiaan. Padahal itu hanyalah fatamorgana yang mengelabui mata. Ada yang melihat pangkat dan kedudukan itu sebagai nilai kebahagiaan. Padahal kedudukan dan pangkat itu boleh berubah dan bertukar dalam sekelip mata sahaja," kata Norsaleha.

Penyuka terapi tekhnik pernafasan "Wai Tang Kung" untuk pernafasan ini, menambahkan dunia ibarat roda yang bergulir. Sekejap manusia berada di atas, sekejap lagi manusia berada di bahagian bawahnya.

"Manakala bahagia hakiki apabila manusia berupaya untuk hidup di bawah lembayung Islam dengan membawa risalah perjuangan yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW. Kebahagian yang hakiki merangkumi bahagia di dunia dan akhirat," cakap dia.

"Ia bisa dicapai dengan iman dan amal saleh, shalat, tilawah al-Quran, zikir, berbuat baik kepada orang lain, menjauhi kejahatan, sentiasa mengingati akhirat, bergaul dengan orang-orang yang baik dan mempunyai pasangan hidup yang baik dan shaleh," ujarnya seraya mengutip Al Qur'an surah Hud ayat 108.

Dia mengingatkan, kehadiran kita manusia di dunia ini tak lain dan tak bukan adalah sebagai khalifah di muka bumi. Di sini lain, manusia sarat dengan kelemahan dan segala kekurangan.
Namun, di tengah realitas dirinya yang amat lemah, seringkali manusia malah angkuh dan meninggalkan Tuhan sebagai poros satu-satunya menuju kebahagiaan. 

"Wanita merasa bahagia apabila ia melaksanakan tanggungjawab sebagai khalifah di muka bumi. Wanita yang bahagia juga adalah mereka yang mencintai tugasan dan tanggungjawab yang dilakukan. Maka cintailah tugas kita," pungkasnya

Sistematika Wahyu

Sementara itu, dalam rangka membangun ketahanan keluarga dalam rangka membangun peradaban bangsa, Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah Dra Reni Susilawati memandang Sistematika Wahyu yang merupakan manhaj dakwah Hidayatullah bisa menjadi solusinya. 



"Sistematika Wahyu yang memuat lima surah Al Qur'an yang pertama kali turun merupakan pijakan sistemik yang menjadi paradigma  dasar membangun ketahanan keluarga untuk tegaknya peradaban," kata Reni dalam pemaparannya.

Reni menelisik, struktur filosofis manhaj Sistematika Wahyu, menurutnya merupakan sebuah metodologi pendidikan yang lebih berfokus kepada individu. Hal itu juga menurut Reni tergambar dalam sejarah perjalanan dakwah Rasulullah dimana ia mendidik para Sahabat pertama beliau melalui pendekatan individual yang kelak melahirkan sosok kader dakwah mumpuni seperti Zaid bin Haritsah atau Usamah bin Zaid.

Metode Sistematika Wahyu terdiri dari 5 surah yang turun pertama kali yakni Surat Al-Alaq 1-5, Surat Al–Qolam 1-7, Surat Al Muzammil 1-10, Surat Al Mudatsir 1-7, dan Surat Al Fatihah 1-7. Kelima surat tersebut kemudian dijadikan Hidayatullah sebagai metode pembinaan baik lingkup membangun ketahanan keluarga dan bangsa.

Menurut Reni, sebagaimana dalam metode Sistematika Wahyu, pilar ketahanan keluarga menuju peradaban bangsa harus dimulai dari tradisi ilmu atai membaca (iqra') dalam rangka menemukan jatidiri kita sebagai makhluk, mengenal Allah SWT sebagai Al Khaliq dan alam semesta sebagai ladang amal kebaikan.

"Menuju peradaban mulia dalam keluarga, membangun peradaban ummat, mengokohkan perdaban Serumpun Malasyia dan Indonesia," ujar Reni.

Dia melanjutkan. Seiring dengan tradisi keilmuan tersebut, internalisasi fitrah Tauhid terus ditanamkan, mendorong pengarusutamaan tegaknya adab dan syariat, tekun beribadah dengan budaya murajaah, menegakkan kebenaran dan menegakkan peradaban Islam dalam keluarga. 

"Hidup adalah murajaah mengagungkan Rabb. murajaah tadabbur dalam doa bersama Al Qur’an. Siap memberi teladan lengkap perbekalan dan persyaratan menyeru menjajakan cahaya berukhuwwah menuju cinta," katanya.

Pada kesempatan itu Reni juga mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan organasasi Muslimat Hidayatullah serta berharap kegiatan yang digelar seperti hari itu dapat semakin mengeratkan persaudaraan antar sesama khususnya dengan negeri serumpun Malaysia.

"Menuju peradaban mulia dalam keluarga, membangun peradaban ummat, mengokohkan perdaban serumpun Malasyia dan Indonesia," pungkasnya.

Adab dan Pancasila 

Dalam pada itu, Guru Besar dan profesor di bidang ketahanan dan pemberdayaan keluarga Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia IPB Prof Dr Euis Sunarti dalam sesinya mengutarakan Pancasila pada Sila Kedua sejatinya merupakan kunci kokohnya ketahanan untuk tegaknya peradaban bangsa. 


"Membangun ketahanan keluarga menuju Indonesia beradab. Meneguhkan peradaban bangsa dengan meninggikan adab yang dimulai dari keluarga sebagai unit sosial terkecil dari suatu negara yang dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan," katan Euis.

Euis menjelaskan, adab adalah kehalusan dan kebaikan budi pekerti atau kemajuan bangsa di dunia yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa.

Menurutnya, destruksi adab bisa disebabkan banyak faktor diantaranya kegagalan internalisasi adab sejak dini, kegagalan edukasi dan internalisasi nilai agama dam kegagalan  internalisasi moral karater.

Karena itu, dia menegaskan, solusi untuk mengentaskan masalah tersebut adalah melakukan pencegahan terhadap hal-hal yang ingin mereduksi adab sebagai pintu gerbang sebelum ilmu pengetahuan. Selain itu, penegakan adab harus bersifat hulu, dilakukan sejak dini yang pertama-tama oleh keluarga.   

“Kurang adab dan sifat buruk seseorang bukan berasal dari fitrah. Tetapi karena kurangnya penanaman adab sejak dini di keluarga dan lingkungan seseorang berada," imbuh inisiator Penggiat Keluarga Indonesia (GIGA) ini.

Euis menegaskan, sekali terbentuk sifat atau akhlak buruk, semakin dewasa, semakin sulit meninggalkan sifat-sifat tersebut.

"Banyak orang dewasa menyadari kurang adab dan merasa 'terjebak' karena tidak mampu mengubahnya. Bahkan kurang adab dapat menular di lingkungan pertemanan dan kolega," tukasnya.

Sebab itu menurut dia memutus mata rantai lingkaran setan tersebut harus dilakukan sedini mungkin melalui wahana yang tepat dan memdadai. Dalam konteks negara pun upaya tersebut sejalan dengan amanat konstitusi dalam rangka meneguhkan ketahanan keluarga. 

Euis menyebutkan, konstitusi negara kita dalam UU Nomor 10 Tahun 1992/ UU Nomor 52 Tahun 2009 dinukil definis Ketahanan Keluarga yaitu: "Kondisi Dinamik Suatu Keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik material dan psikis mental spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dan meningkatkan kesejahteraan lahir dan bathin”.

Ketahanan keluarga lanjutnya mencakup ketahanan fisik ekonomi, ketahanan sosial  dan ketahanan psikologi. Di dalamnya terbangun keberfungsian keluarga, pemenuhan peran dan  tugas, manajemen sumberdaya,  manajemen stress dan interaksi keluarga.

"Implementasi ketahanan keluarga melalui keberfungsian ekspresif dan pengasuhan anak khususnya melalui kelekatan agar anak beradab," tukasnya.

Dalam pemaparannya, profesor Euis juga menyajikan hasil penelitian yang dilakukan pihaknya tahun 2017 tentang model pembangunan dalam wilayah rumah tangga dimana temukan sejumlah data menarik.

Diantaranya, dari keseluruhan populasi responden, didapati seluruh responden menyetujui bahwa keluarga dan masyarakat harus berpartisipasi membangun lingkungan, membangun
mekanisme untuk saling membantu, melindungi, dan mendorong keluarga bangun lingkungan yang aman dan nyaman.



"Kondisi saat ini menjadikan pembangunan keluarga dengan semangat kolektifitas semakin penting dilakukan sebagai upaya peningkatan ketahanan keluarga. Di sisi lain pemerintah juga memiliki tanggungjawab membangun ketahanan dan perlindungan keluarga," jelasnya.

Namun, lanjutnya, upaya pemerintah dalam membangun ketahanan keluarga selama ini masih belum optimal. Karena itu para keluarga dan masyarakat harus aktif berpartisipasi membangun lingkunganya dimana para keluarga perlu membangun mekanisme saling membantu dan melindungi.

"Selain pemerintah perlu mendorong keluarga dan masyarakat membangun lingkungan yang aman dan nyaman, masyarakat harus memelihara kekokohan struktur keluarga, menguatkan keberfungsiang keluarga, melakukan perlindungan, jauhkan ancaman, turunkan kerentanan," pungkasnya.*

DEVINA SETIAWAN

Bolehkah Orangtua Merahasiakan Anak dari Penyakit yang Dideritanya?

On Monday, July 23, 2018

MENERIMA kenyataan anak menderita penyakit berat memang tidak mudah. Pada tahap awal banyak orangtua yang memilih untuk merahasiakan anak dari penyakit yang diderita.

Namun, menurut psikolog keluarga Anna Surti Ariani sebaiknya orangtua menyampaikannya kepada anak dengan bahasa sesuai dengan kemampuan dan pemahaman anak.

Jika sang anak masih balita, orangtua dapat menggunakan kata-kata sederhana untuk istilah penyakit, seperti ‘darahnya sedang berperang’, lalu ‘badannya membesar.

“Tapi saat anak sudah belajar, (dalam kasus leukemia) seperti leukosit, maka bisa bicara dengan istilah yang dia pahami,” kata psikolog yang akrab dipanggil Nina seperti dikutip dari Kompas.com, Jakarta, Senin (23/7/2018).

Photo by: unsplash-logoAnnie Spratt
Dia mencontohkan, pada anak usia sekolah penyakit bisa dijelaskan sesuai istilah yang dipahami seperti sel darah putih dan lain-lain. Sementara itu orangtua bisa memberikan respon sesuai kondisi emosionalnya.

Meskipun anak sudah duduk dibangku SMP dan paham soal penyakit, dia bisa saja belum siap dari segi emosi. Menurut psikolog yang disapa Nina ini, memilih untuk tidak merahasiakan penyakit berdampak positif untuk menghindari kondisi yang tak diinginkan.

Dia mencontohkan, jika orangtua merahasiakan, namun anak lama kelamaan tahu sendiri, maka hal itu bisa membuat hubungan antara anak-orangtua tak nyaman. “Misalnya seperti, ‘Oh dia enggak kasih tahu aku, aku juga enggak mau terbuka ah’,” kata Nina.

Padahal, menurut Nina, hubungan dengan keluarga itu menjadi salah satu faktor penting penyembuhan. Semakin membaik sebuah hubungan, maka anak penyembuhan bisa lebih optimal.

Lantas bagaimana jika anak terus-menerus bertanya? Nina menyarankan orangtua harus lebih bijak menanggapi dan menjawab, sambil memotivasi untuk menjalani proses pengobatan.

Jika merasa ‘jengah’ dengan pertanyaan anak, orangtua bisa kembali membalikkannya ke anak seperti, ‘Hayo kemarin mama bilang apa? dengarin enggak?’.

“Memang anak akan tanya terus. Kenapa dia tanya? Satu sisi, dia belum paham dari penjelasan sebelumnya, namun sisi lain dia juga ingin dapatkan rasa nyaman bahwa orangtuanya bersedia menjawab,” kata Nina.

Sumber: Kompas.com

Anak-Anak Mendengar dengan Mata, Tidak dengan Telinga Mereka

On Thursday, July 19, 2018

SALAH satu pelajaran paling mendalam yang Saya ajarkan ialah: “Anak-anak mendengar dengan mata mereka, tidak dengan telinga mereka.”

Jika Anda menasihati anak Anda mengenai bahaya merokok, sementara Anda memegang rokok di tangan Anda, ucapan Anda tidak akan berpengaruh apa-apa, terlepas dari seberapa benarnya. Anak Anda akan melihat apa yang ada di tangan Anda dan mengambil pelajaran dari itu, mengabaikan apapun yang Anda katakan.


Ilustrasi/ source: Unplash

Dengan cara yang sama, alasan mengapa anak Anda mungkin tidak peduli tentang al-Quran meskipun Anda membawa mereka ke 5 sekolah Islam berbeda ialah karena Anda sendiri tidak tahu cara membacanya, tidak pula Anda melakukan upaya aktif untuk melakukannya. Kemunafikan tidak akan hilang dari anak-anak. Tidak akan pernah.

Bahkan jika mereka belajar bagaimana secara fisik membaca, menulis, dan menghafalkan, itu tidak menembus hati mereka.

Di sisi lain, saya mengenal beberapa orang tua yang membaca dan menghafalkan Quran setiap hari sebagai bagian dari gaya hidup mereka, dan anak-anak mereka (yang baru saja belajar berjalan) berupaya membaca Quran tanpa pernah disuruh. Anak-anak mereka di bawah umur 10 tahun telah menghafal sebagian besar Quran tanpa pernah dipaksa.

Apakah Anda suka atau tidak, Anda adalah role model terbesar mereka dalam setiap hal yang Anda lakukan, secara sadar dan tidak sadar.

Ini tidak hanya berlaku pada anak-anak. Beginilah cara kerja manusia. Anda melihat beberapa orang –baik bos, ayah, atau orang tua– berteriak dan menjerit demi penghormataan yang akhirnya tidak mereka dapatkan, sementara Anda juga melihat orang lain mendapatkan rasa hormat tanpa pernah mereka meminta atau menuntut. Itu karena mereka mempraktekkan apa yang mereka nasihatkan.

Sulit mengeluh pada atasan Anda tentang datang ke kantor pada jam 9 pagi ketika Anda melihat dia datang pada jam 8 pagi. Sulit memberitahu ayah Anda mengapa membaca 1 jus sehari terlalu banyak ketika dia membaca 2 jus sehari.

Bahkan, semakin Anda membuktikan nasihat Anda melalui tindakan, Anda tidak akan banyak bicara. Ketika teman Anda melihat bagaimana Anda memaafkan seseorang yang tidak pantas dimaafkan, itu adalah pelajaran hidup mereka, tanpa satu patah katapun dikeluarkan. Ketika mereka menjadi seseorang yang lebih besar, mereka tidak perlu datang ke Anda untuk meminta nasihat; Anda telah menasihati mereka lebih dalam dari pada kata-kata Anda.

Aisyah (semoga Allah merahmatinya) menggambarkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam sebagai al-Quran berjalan. Itulah mengapa para sahabat memujanya.

Ketika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam shalat dengan sangat lama hingga kakinya membengkak, Aisyah bertanya mengapa dia melakukannya padahal dosanya di masa lampau dan masa depan telah dimaafkan, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam menjawab, “bukankah seharusnya Aku menjadi budak yang bersyukur?

Ketika para sahabat membangun parit dan memberitahu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam betapa laparnya mereka, menunjukkan padanya batu yang mereka ikat di perut mereka untuk menahan lapar, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mengangkat bajunya dan memperlihatkan pada mereka dua batu yang dia ikat di perutnya. Para sahabat kemudian kembali bekerja.

Dialah adalah pria yang tidur di kasur keras yang bahkan meninggalkan bekas luka di punggungnya. Ketika dia mengatakan pada para sahabat untuk beribadah pada malam dan tidur sedikit, tidak ada satupun pertanyaan ditanyakan.

Jangan mengeluh tentang anak, pasangan, murid, atau karyawan Anda ketika solusinya tidak ditemukan melalui tindakan Anda sendiri.*

______
Artikel ditulis oleh Salah Sharief dari Ilmfeed diterjemahkan Nashirul Haq AR yang kami kutip dari laman Hidayatullah.com

Susu Kental Manis Aman Dikonsumsi tapi Bukan Untuk Balita

On Tuesday, July 10, 2018

BERITA simpang siur mengenai susu kental manis masih terus bergulir di masyarakat. Mereka yang khawatir terpaksa menahan diri untuk mengonsumsi susu kental manis.

Dalam jumpa pers Senin (9/7/2018), kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito mengungkapkan bahwa susu kental manis tetap bisa dikonsumsi oleh masyarakat. Namun, susu kental manis bukan untuk pengganti susu bayi di bawah lima tahun.

"Susu kental manis tetap bisa dikonsumsi oleh masyarakat, tapi bukan untuk bayi di bawah lima tahun. Ini karena komposisi gizinya yang rendah dan kandungan gula serta lemaknya yang tinggi sehingga tidak cocok untuk pertumbuhan balita. Apalagi sebagai penganti ASI," kata Penny.

Beberapa produk susu kental manis menggunakan anak kecil sebagai media iklan, ini merupakan hal yang bisa menyesatkan apabila tidak segera diatur.

"Terdapat beberapa iklan dan label produk susu kental manis yang menggunakan anak kecil sebagai media iklan. Sehingga sekarang ini kita tengah mempersiapkan aturan tersebut yang melarang menampilkan gambar anak kecil di label dan iklan, agar masyarakat tidal salah persepsi tentang hal ini," tambah Penny.

"Dalam proses membuat susu kental manis itu hanya sedikit susu asli yang digunakan, lalu dikonsentrasikan dan diberi gula dan krimer sebagai bahan pengawet," jelasnya. (Detikhealth)

Viralmama! Perjuangan Ibu Selamatkan Putrinya Sebelum Tewas Terbakar di Bugangan

On Monday, July 09, 2018

RAUT kesedihan terlihat dari sorot mata Dorkas (75) pemilik rumah Jalan Bugangan Raya No. 23 A RT 04/ RW 15, Kelurahan Rejosari, Semarang Timur, Senin (9/7/2018).

"Saya sedang menggunakan lampu teplok untuk menutup plastik," ujar Dorkas.

Dorkas biasanya menaruh obat-obatan yang telah diracik di dalam plastik di kamarnya yang terletak pada lantai dasar.

Untuk merekatkan plastik tersebut ia biasanya menggunakan lilin atau pun lampu teplok.

Tampak jelas kebakaran yang merenggut nyawa anak dan cucu Dorkas meninggalkan duka mendalam.

Hari ini Inafis Polrestabes Semarang dan Labfor mengambil sampel sisa dari puing-puing yang terbakar.

"Saya tidak menyangka tante akan secepat ini dipanggil. Minggu siang saya ketemu tante Linda," tutur Jane Chrestella, keponakan Linda Maria (47).

Jago merah Minggu malam melalap dengan cepat rumah kediaman Dorkas sekitar pukul 18.30 WIB.

"Waktu itu bahan bakar teploknya tumpah, saya ambil handuk untuk mengelapnya. Saya keluar kamar untuk mencari handuk lagi namun api sudah membesar," tutur Dorkas.

Saat itu ia langsung meminta pertolongan.

Linda Maria dan Karina sedang berada di lantai dua kala itu.

"Mendengar kata kobong, tante Linda ikut turun dan keluar bersama Nenek untuk meminta pertolongan," ujar Jane.

Mengingat Karin masih di lantai dua, Linda Maria naik kembali ke atas.

"Waktu sampai mau turun lagi di tangga apinya sudah semakin besar, jadi mereka naik lagi. Kala itu sudah ada yang menolong tapi keluar lagi karena tidak tahan dengan asap dan kobaran api," tutur para tetangga korban.

Nasib nahas tak bisa terelakkan dialami Linda Maria dan Karin. Terlihat bekas luka di pelipis kiri Dorkas.

"Nenek saya waktu keluar juga terseok-seok, menatap ke dinding. Waktu diselamatkan warga, nenek tak kuat berjalan dan sambil mengesot ditarik tetangga," jelas Jane Chrestella.

Jane Chrestella juga menambahkan jika daster yang dikenakan neneknya malam itu sempat tersambar si jago merah.

"Lutut nenek lecet, rambutnya juga sempat terkena sambaran api. Hari ini sebenarnya Karin baru masuk sekolah untuk ajaran baru, dia naik kelas empat," tutur Jane Chrestella menjelaskan dengan tegar kepada Tribunjateng.com.

Linda Maria merupakan anak terakhir dari lima bersaudara.

Nasib nahas menimpa ia dan anaknya kala hendak menyelamatkan diri dari kobaran api di lantai dasar yang telah terlanjur berkobar dengan cepat.

Hingga saat ini, jenazah masih berada di RSUP Dr. Kariadi. (Tribunnews)

Heboh Anak SD Hamili Siswi SMP, Lembaga Perlindungan Anak Akan Lakukan Pendampingan

On Tuesday, May 29, 2018

BERITA seorang siswa sekolah dasar (SD) menghamili siswi sekolah menengah pertama ( SMP) menjadi perhatian dari berbagai kalangan. 

Dalam berita yang viral beredar, siswi SMP tersebut kini tengah hamil dengan usia kandungan 6 bulan.  Kehamilan tersebut diketahui setelah pihak sekolah memeriksakan siswi tersebut ke Puskesmas setempat pada Sabtu (19/05/2018) karena siswi tersebut terlihat kurang sehat.



Petugas medis di Puskesmas menyatakan bahwa siswi tersebut positif Hamil. Pihak sekolah memberitahukan kejadian ini ke pihak keluarga. Setelah dilakukan pendekatan, akhirnya siswi tersebut mengaku siapa ayah bayi di kandungannya, yakni seorang siswa kelas V SD. 

Saat Ujian Winny Isnaeni, ketua Lembaga Perlindungan Anak Tulungagung, memberikan pendapatnya melalui saluran telepon kepada Kompas.com, Rabu (23/5/2018).

“Meski masih SD, usianya sudah 13 tahun karena beberapa kali tidak naik kelas. Sebetulnya di Jawa Timur banyak sekali kasus serupa dan di Tulungagung ini menjadi perhatian karena lelaki-nya masih SD,” terang Winny seperti dikutip Kompas.com.

Pihak keluarga siswa SD dan siswi SMP sebenarnya sepakat untuk menikahkan keduanya. Namun pihak kantor urusan agama (KUA) setempat menolak dengan alasan calon mempelai pria maupun wanita masih di bawah umur.

“Dengan menikahkan keduanya belum tentu sebagai jalan keluar. Bisa menjadi lebih baik, bisa jadi justru situasi tambah keruh. Pernikahan ada syarat khusus yang harus dipenuhi. Dan kedua ini masih anak-anak yang belum memahami arti sebuah pernikahan,” lanjut Winny.

Menurut dia, pihak lembaga perlindungan anak akan melakukan asesmen terlebih dahulu, bagaimana situasi kedua keluarga serta melakukan pendampingan. 

Menurut dia, pernikahan di bawah umur bisa menimbulkan masalah baru.  Secara psikologis sebagai orang tua, jika anaknya di luar nikah maka bentuk pertanggungjawabannya adalah menikahkan keduanya. 

Padahal di sisi lain, anak-anak tersebut menjalani asesmen guna pemetaan kebutuhan. Mereka juga butuh pemulihan secara psikologis yang harus ditangani oleh psikolog.

Winny melanjutkan, kasus yang dialami oleh siswa SD dan siswi SMP tersebut bukan melanggar undang-undang, akan tetapi merupakan pelanggaran hak atas anak-anak. 

“Setelah kami lakukan asesmen, lanjut ke pernikahan atau tidak kami serahkan kepada masing-masing orang tua,” pungkas Winny.

_____
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Heboh Anak SD Hamili Siswi SMP, Lembaga Perlindungan Anak Akan Lakukan Pendampingan",