Hubungan

Parentnial TV

Recommended

Kehamilan

Powered by Blogger.
Kuota Terbatas, Ikuti Umroh Plus Study Tour Futuh Konstantinopel Sultan Muhammad Al Fatih

On Wednesday, October 24, 2018

JAKARTA - Kapan lagi bisa beribadah sambil melakukan rihlah pendidikan di situs-situs sejarah Islam. Kini kesempatan tersebut telah hadir melalui rangkaian umroh plus study tour Futuh Konstantinopel Sultan Muhammad Al Fatih. Program ini diselenggarakan oleh kerjasama Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah dan Departemen Luar Negeri DPP Hidayatullah.

Program umroh ini akan dilakukan pada 17 hingga 30 Desember mendatang. So, pastikan diri Anda telah terdaftar sebelum waktu tersebut. Hanya dengan Rp.33juta perorang, rangkaian perjalanan dilakukan dari Jakarta - Istanbul, Madinah dan Makkah.

Meskipun, program ini diprioritaskan untuk murid atau santri/santriwati dan wali murid sekolah Pesantren Hidayatullah, namun tetap terbuka bagi murid atau orangtua murid lainnya selama kuota masih tersedia.

Informasi lebih lanjut tentang program ini bisa menghubungi ust Irsyadul Ibad via WhatsApp 0878-80345113 setiap hari antara pukul  13.00 s/d 17.00 WIB. 

Berilah Nasehat pada Tempat yang Tepat kepada Anak

On Tuesday, October 23, 2018

MUNGKIN kita pernah memberi nasehat pada anak, namun orangtua justru mendapat reaksi yang jauh dari apa yang sesungguhnya orang tua harapkan.

Memberi nasehat pada anak memang butuh kejelian untuk melihat momentum yang pas untuk melontarkannya.

Tidak jarang nasehat-nasehat yang kita harapkan bisa memperbaiki keadaan sang anak justru membuat segalanya makin runyam.


Dalam mahfuzat ada ungkapan yang masyhur kita dengar yaitu,

لكل مقام مقال ولكل مقال مقام
"Setiap tempat ada perkataannya dan setiap perkataan ada tempatnya".

Mencari momentum yang pas adalah sebuah keniscayaan yang perlu dibangun agar komunikasi antar ayah anak dapat terjalin dengan baik.

Dua tempat yang baik untuk menasehati anak yang di contohkan oleh Rasulullah setidaknya adalah pada dua keadaan.

Pertama, saat makan sebagaimana yang di tuturkan dan diceritakan oleh sahabat Umar bin Abi Salamah radhiallahu’anhuma:

: كُنْتُ غُلاَمًا فِي حِجْرِ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَال لِي رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ، وَكُل بِيَمِينِكَ، وَكُل مِمَّا يَلِيكَ
Sewaktu aku masih kecil, saat berada dalam asuhan Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam, pernah suatu ketika tanganku ke sana ke mari (saat mengambil makanan) di nampan. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “wahai bocah, ucaplah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu, serta ambil makanan yang berada di dekatmu”. (HR. Bukhari no.5376, Muslim no.2022).

Keadaan yang kedua adalah saat berada di atas kendaraan. Sudah menjadi kodrat anak ketika di bonceng ia pasti akan merasa bahagia. Nah pada saat kondisi bahagiah itulah orangtua jeli mengambil momen untuk memberikan ia nasehat.

Rasullulah pernah melakukan hal tersebut saat ia di bonceng oleh sahabat kecilnya ia memberinya nasehat yang sangat agung.

عن ابن عباس قال : كنت خلفت رسول الله صلى الله عليه و سلم يوما فقال يا غلام إني أعلمك كلمات احفظ الله يحفظك احفظ الله تجده تجاهك إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ولو اجتمعواعلى أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك رفعت الأقلام وجفت الصحف

 قال هذا حديث حسن صحيح  قال الشيخ الألباني : صحيح

“Dari ibnu Abbas, ia mengatakan, “ aku pernah membonceng rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari. Maka beliau mengatakan, “ wahai anak, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kata, “ jagalah Allah, niscaya Allah menjegamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah kepada Allah. Ketahuilah seandainya suatu ummat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk member suatu kemudhorotan kepadamu, maka mereka tidak dapat member kemudhorotan kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. At Tirmidzi, dan ia berkata, hadits ini hasan shohih)

NASER MUHAMMAD

APK 2018 Usung Semangat Pendidikan Keluarga untuk Tumbuhkan Karakter dan Prestasi

On Tuesday, October 23, 2018

SEBANYAK sepuluh keluarga dari berbagai propinsi seluruh Indonesia akan memperoleh penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy.

Penghargaan diberikan karena ke sepuluh keluarga itu dinilai mampu mendidik anak-anaknya sehingga berprestasi dan berkarakter di tengah keterbatasan ekonomi maupun sosial.

Salah satu penerima penghargaan adalah Suharni (54 tahun) dari Sragen, Jawa Tengah. Setelah suaminya meninggal karena hepatitis, guru honorer ini harus menghidupi anak-anaknya dengan penghasilan hanya Rp 165 ribu perbulan.

Namun, dengan niat dan tekad serta pantang menyerah, Suharni berhasil menyekolahkan lima putrinya hingga perguruan tinggi. Bahkan si sulung, Retno Wahyu Nurhayati Ph.D telah menuntaskan S2 dan S3 di Jepang.

Penerima penghargaan lain adalah Hajjah Nurjani dari Kabupaten Fak Fak, Papua Barat. Hanya dengan berprofesi sebagai tukang cuci gosok dan bersuamikan Lahadalia (Almarhum) yang seorang kuli bangunan, Nurjani mampu mendidik delapan orang anaknya hingga meraih gelar sarjana.

Bahkan, anak keduanya, Bahlil Lahadalia, mampu menjadi pengusaha kelas menengah dengan omzet miliaran rupiah dan saat ini menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda (HIPMI).

Penghargaan itu akan diberikan Mendikbud dalam acara Apresiasi Pendidikan Keluarga (APK) 2018 yang digelar di Plasa Insan Berprestasi, Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, pada Kamis, 25 Oktober 2018.

Penghargaan juga akan diberikan pada 21 sekolah negeri dan swasta dari semua jenjang pendidikan formal dan nonformal. Ke-21 sekolah tersebut dinilai telah berhasil dalam membangun kemitraan dan sinergitas dengan orang tua siswa dalam menunjang kegiatan belajar mengajar.

Dalam APK 2018 yang bertema “Pendidikan Keluarga untuk Menumbuhkan Karakter dan Prestasi Anak” ini, juga akan diberikan penghargaan terhadap 30 orang  pemenang lomba jurnalistik, blog dan karya film pendek tentang pendidikan keluarga.

Kegiatan APK yang digagas dan digelar Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga ini sudah berlangsung tiga kali sejak tahun 2016.

Kegiatan APK ini bertujuan menyosialisasikan program dan kebijakan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, memberikan ruang bagi pelaku pendidikan untuk berekspresi, bereksplorasi, dan meningkatkan kebersamaan dalam mendukung pendidikan keluarga.

Menyambut kegiatan APK ini, khususnya penghargaan ‘Orangtua Hebat”, Mendikbud berharap dapat menginspirasi keluarga-keluarga lain untuk melakukan pola pengasuhan yang baik, yaitu pola pengasuhan positif yang mampu meningkatkan prestasi dan pembentukan karakter yang baik pada putra-putrinya.

Mendikbud juga berharap agar tersosialisasinya pendidikan keluarga di masyarakat dapat memperluas akses dan pemerataan layanan pendidikan keluarga dalam mewujudkan generasi yang berkarakter dan berbudaya prestasi.

“Dengan diadakannya kegiatan Apresiasi Pendidikan Keluarga ini, saya berharap adanya peningkatan intensitas pelibatan keluarga dalam pendidikan anak-anak,” ucapnya.

Dalam kegiatan yang akan berlangsung mulai tanggal 24 Oktober itu, para penerima penghargaan juga akan berdialog dengan Dirjen PAUD dan Dikmas serta Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga serta  memperoleh materi penguatan pendidikan keluarga dari beberapa narasumber.

SAHABAT KELUARGA KEMENDIKBUD

Pendidikan Integral Berbasis Tauhid dan Dialog dengan Anak

On Sunday, October 14, 2018

SEBAGAI orangtua bijaklah dalam mendidik anak. Kenalilah masanya kapan ia harus diperintah dan kapan ia mesti diajak untuk berdialog dan diskusi.

Memahami pentingnya kondisi ini agar kiranya anak mendapatkan merasakan pengakuan dari orangtua, bahwa ia bukan lagi anak kecil. Dia sudah bisa menjadi salah satu penentu bagi masa depannya.

Pixabay/ Free-photos

Dengan membangun dialog orangtua dengan anak maka akan terbangun jugalah harmonisasi antar keduanya.

Anak yang sudah cukup siap untuk berdialog ia sudah matang secara nalar maka ia tidak siap lagi diperintah tanpa meminta pendapatnya.

Maka Nabi Ibrahim sesungguhnya bisa saja meminta dengan nada memaksa kepada Ismail untuk menyembelihnya sebagai persembahan kepada Allah.

Tapi Ibrahim tidak melakukkan itu ia justru membangun dialog pada tataran yang sesungguhnya tak mungkin mereka berdua mampu untuk hadapi soal itu.

Ibrahim bisa saja misalnya mengatakan ini tentang perintah Allah, ini wahyu, siap tak siap perintah harus dilaksanakan tak perlu ada dialog untuk sesuatu yang qot'i.

Tapi Ibrahim ia seorang ayah yang juga ditempa oleh wahyu, ia dipersiapkan untuk sebuah uswah bagi penghuni bumi difirmankan oleh Allah dalam kitabnya, termaktub dalam surah Al-Mumtahanah surah ke 60 ayat ke 4.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ
"Sungguh pada diri Ibrahim Alahissalam terdapat suri tauladan yang baik dan terhadap orang-orang yang bersamanya"

Maka tengoklah dialog dua insan beradab. Seorang anak yang berialog dengan ayahnya dengan kata yang menggugah dalam Al-Qur'an sebuah dialog abadi sepanjang masa diabadikan Allah dalam Qur'an Surah Ke 37 Ash-Shaffat ayat 102.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ
Saat nalar anak itu mulai berfungsi untuk menangkap perintah dan larangan maka,

 قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ
Ibrahim lalu berkata kepada anaknya bahwa sesungguhnya aku menyaksikan di dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu.

 فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰۚ
 Maka apa pendapatmu tentang mimpi itu wahai anakku?

قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ
Ismail berkata, Dengan penuh cinta pada ayah yang akan menyembelihnya dengan kata "Wahai ayahku lakukan apa yang diperintahkan padamu"

 سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Niscaya engkau akan dapati diriku termasuk orang-orang yang sabar...

Allahu Akbar, inilah sejatinya pendidikan integral berbasis Tauhid.

NASER MUHAMMAD

Sapalah Anak dengan Cinta, Sebelum Keluarkan Kata Perintah

On Saturday, October 13, 2018

BERKOMUNIKASI dengan anak, dengan ungkapan kasih sayang sejatinya untuk menyentuh hati sang anak untuk siap menerima perintah ataupun bersiap mendengar larangan.

Anak yang tidak disapa dengan ungkapan kasih sayang sebelum memerintahkan atau melarangnya sesuatu bisa dipastikan bahwa ia akan susah menerima perintah itu bahkan cendrung mengabaikannya.

Pixabay Cherylholt


Dalam Al Qur'an kita menjumpai beberapa dialog yang diawali dengan ungkapan rasa sayang sebelum masuk kepada perintah dan larang. Seperti saat Luqman menasehati anaknya.

Luqman menyapa anaknya dengan ungkapan yang menarik perhatian sekaligus menyentuh hati, yaitu Yaa Bunayya, Wahai Annakku.

Ungkapan Yaa Bunayya adalah merupakan ungkapan yang penuh dengan cinta dan ketulusan sebagaimana ungkapan Yaa Abaty terhadap anak kepada bapaknya yang bisa kita temukan di dalam Al-Qur'an pada surah Yusuf surah ke 12 ayat ke 4

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ *يَٰٓأَبَتِ* إِنِّى رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِى سَٰجِدِينَ

"Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku".

Mendengar laporan mimpi Yusuf kepada bapaknya maka iapun membalasnya dengan ungkapan cinta yang sama.

قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ

"Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia".

Ketika ungkapan kasih sayang sudah meluluhkan hati anak maka perintah maupun larangan akan mudah untuk ia terima.

Maka Lukman ketika menasehati anaknya ia mulai dengan kata sapaan

 يَٰبُنَىَّ
Wahai Anakku, lalu masuk kepada kata perintah

 لَا تُشْرِكْ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Janganlah mensyerikatkan Allah, karena kemusyrikan itu kezaliman yang besar.

Begitupun saat Luqman memerintahkan anaknya untuk sholat ia terlebih dahulu menyapanya dengan sapaan cinta barulah kemudian memerintakannya untuk melaksanakannya.

يَٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ

"Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)".

Sapalah anakmu dengan cinta, niscaya ia akan membalasnya dengan cinta yang lebih besar. Wallahu A'alam

NASER MUHAMMAD

Ayah Bunda Perlu Mengetahui Dampak Negatif Pola Asuh Hyper-Parenting

On Sunday, September 30, 2018

APA ITU Hyper-Parenting? Itu adalah dunia dimana orang tua ‘memacu’ anaknya untuk terus berlari kencang. Orang tua memegang kontrol penuh atas perjalanan anak-anaknya, dan mereka juga merasakan kepuasan atas aturan-batasan yang mereka tetapkan sendiri.

Alvin Rosenfeld, psikiater anak dari anak mereka untuk tujuan mencapai kesuksesan dengan pola hyper-parenting ini. “Ini adalah pola asuh fasis dan menjauhkan anak dan orangtua dari hal-hal menyenangkan yang seharusnya bisa mereka lakukan,” tambah Rosefeld.


Menurut Rosenfeld, pola Hyper Parenting ini banyak diterapkan keluarga kelas menengah ke atas. Mereka lebih sering khawatir atas kehidupan anak mereka yang sebenarnya baik-baik saja.

Bahkan ada beberapa orang tua yang secara sengaja mencari hormon pertumbuhan untuk anaknya yang kebetulan bertubuh pendek dengan anggapan bahwa orang-orang bertubuh pendek akan dianggap pecundang.

Pakar anak dari University of Minnesota, William Doherty, menambahkan, banyak laporan dari sejumlah dokter tentang kliennya yang anak-anaknya sering menderita sakit maag dan sakit kepala akibat kelelahan dan stres.

Menurut pakar lain, Terri Apter, seorang ahli psikiatri remaja dari Newnham College, Cambridge, kecenderungan orang tua untuk ‘memaksa sempurna’ anak-anaknya ini dipicu oleh motivasi dan tuntutan yang dibentuk oleh lingkungan sekitarnya.

Sejumlah orang tua bahkan percaya bahwa tindakannya tersebut termasuk dalam pola asuh anak baru.

"Ada anggapan bahwa perilaku orang tua tersebut termasuk dalam pola asuh baru, yang mengatakan bahwa Anda harus mengeluarkan semua potensi anak Anda di usia muda, jika Anda tidak mau kecewa di kemudian hari," kata Apter dikutip laman Sahabat Keluarga Kemendikbud.

Anak jadi korban

Nurul Mufidah dan Muhammad Rifqi dalam penelitiannya yang berjudul "Hyper-parenting Effects Toward Child’s Personality in Stephen King’s Novel Carrie", mencoba mencari tahu latar belakang orang tua melakukan pola asuh hyper-parenting.

Hasilnya, penyebab utama terjadinya hyper-parenting adalah peristiwa traumatik masa lalu yang dialami oleh orang tua. Mereka juga menemukan sejumlah dampak negatif dari penerapan pola asuh anak ini.

“Hyper-parenting juga akan membuat anak kurang percaya diri, kurang mandiri, mudah menyerah, mudah cemas dan takut menghadapi dunia luar. Selain itu anak menjadi kurang terampil dalam bersosialisasi,” tulis kedua peneliti.

Menurut keduanya, pola asuh hyper-parenting akan menyebabkan anak mempunyai emosi yang kaku dan sulit dikontrol.

Selain itu, anak yang terlalu terbebani dengan aturan dan tugas juga akan membuat tenaga dan pikirannya terkuras, yang bukannya tidak mungkin akan berujung pada masalah kesehatan si anak itu sendiri.

Hal ini juga dijelaskan oleh Ian Janssen dalam risetnya yang berjudul "Hyper-parenting is Negatively Associated with Physical Activity Among 7–12 Year Olds".

Penelitian yang melibatkan 724 orang tua dari anak berusia 7-12 tahun di Amerika Utara ini menerangkan bahwa pola asuh hiper ini akan menyebabkan dampak negatif pada aktivitas fisik anak. Padahal, aktivitas fisik ini memainkan peran penting dalam menentukan kesehatan mental, fisik, dan sosial anak. 

Kebiasaan orangtua mengarahkan anaknya akan membuat anak menjadi terlalu penurut dan kurang bisa mengembangkan bakat dan potensinya sendiri.

Banyaknya tugas dari orang tua dan aturan-aturan yang membatasi gerak mereka berpotensi membuat anak tertekan, terbebani, dan rentan depresi.

Stanford Dean dan Julie Lythcott-Haims dalam buku How to Raise an Adult: Break Free of the Overparenting Trap and Prepare Your Kid for Success menuliskan juga bahwa anak yang kurang mendapat kebebasan dari orang tuanya lebih rentan menjadi korban bully di sekolah ataupun lingkungannya.

Perundungan terjadi karena kurangnya kemampuan komunikasi antara anak dengan teman-temannya. Peraturan dan tugas yang diarahkan orangtua otomatis membuat anak menjadi lebih sibuk, sehingga perlahan akan abai dengan lingkungan sekitar.

Kesibukan yang dijalani anak akan membuat waktu bermain anak menjadi sangat kurang. Selain itu, ia secara perlahan ditarik dari lingkungan sosialnya. Konsekuensinya, anak-anak ini akan kesulitan berkomunikasi dengan baik dengan teman-teman sekitarnya.

Perilaku hyper-parenting juga mengarah pada pembatasan kegiatan anak dengan lingkungan bermainnya. Sejumlah orang tua bahkan melarang anak-anaknya bermain di tempat-tempat kotor.

Celakanya, penelitian yang dipublikasi di Journal of Allergy and Clinical Immunology mencatat, anak-anak yang tinggal di rumah yang terlalu bersih justru lebih mudah menderita alergi dan asma.

“Orangtua mungkin berpikir anaknya harus sehat sehingga mereka terlalu overprotektif menjaga mereka dari paparan kotoran, debu, jamur. Tapi nyatanya, kotoran adalah bagian dari pengembangan sistem kekebalan tubuh anak. Ketika Anda menciptakan lingkungan yang steril untuk anak-anak, Anda justru membentuk anak Anda menjadi lebih mudah sakit,” pungkas Dr. Todd Mahr, seorang ahli alergi dan imunologi.

YANUAR JATNIKA

Ketahui Mengapa Bayi Suka Tiba-tiba Terbangun di Malam hari

On Tuesday, August 07, 2018

POLA tidur bayi dapat dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk penyakit, liburan, perubahan dalam rutinitas dan kemajuan dalam perkembangan.

Banyak bayi yang tidur nyenyak karena bayi kecil mulai bangun lagi pada malam hari antara 6 dan 10 bulan. Para peneliti tidak yakin mengapa ini terjadi, tetapi banyak yang percaya mungkin ada beberapa penyebab fisiologis atau perkembangan.

Jika bayi Anda tiba-tiba mulai bangun di malam hari, mundur dan evaluasi situasinya. Apakah ada sesuatu di lingkungan bayi Anda yang telah diubah? Apakah cuaca berubah sehingga bayi Anda mungkin terlalu dingin pada malam hari? Apakah tetangga mulai meninggalkan lampu luar yang bersinar ke kamar bayi Anda?

Photo by: unsplash-logoLes Anderson

"Coba perbaiki masalah. Dandani dia dengan lebih hangat atau kenakan warna ruangan yang gelap. Jika kebisingan jalan adalah masalahnya, cobalah menggunakan mesin white noise atau kipas angin di kamarnya untuk menenggelamkan suara lain lainnya," kata pakar gangguan tidur pediatrik, Deborah Lin-Dyken, seperti dilansir laman Babycenter.

Selanjutnya, pertimbangkan apakah waduk malam hari yang tiba-tiba mengikuti periode penyakit, liburan, atau perubahan lain dalam rutinitas bayi Anda. Atau apakah mereka bertepatan dengan tonggak perkembangan?

"Jika bayi Anda telah belajar keterampilan motorik baru, ia mungkin ingin mencobanya setiap ada kesempatan - bahkan di tengah malam," kata Lin-Dyken.

Menurut dia, beberapa bayi terjebak dalam menarik diri tetapi kemudian tidak dapat kembali ke bawah tanpa bantuan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tidur juga dapat terganggu dalam beberapa minggu sebelum lompatan perkembangan utama, seperti berjalan.

Cara terbaik untuk menghadapi bangun malam (wakings) bayi yang tiba-tiba adalah tetap dengan apa yang berhasil sebelumnya. Jangan tiba-tiba mengubah rutinitas tidur bayi Anda atau cara Anda membuat bayi Anda tidur.

Juga, Lin-Dyken menyarankan jangan mengembangkan kebiasaan tidur yang tidak ingin Anda patuhi. Goyang bayi Anda untuk tidur selama satu atau dua malam dapat bekerja dalam jangka pendek, tetapi Anda mungkin harus melakukannya malam berikutnya dan mungkin untuk bulan berikutnya atau lebih.

"Tetap konsisten dalam apa yang Anda lakukan selama beberapa minggu. Ini akan membantu bayi Anda kembali tidur semalaman setelah masalah sementara terselesaikan," pungkasnya.

NURSELINAWATI

Ingin Balita Bunda Menyusui ASI Lebih Banyak? Hindarilah Paparan Rokok

On Thursday, August 02, 2018

PARA peneliti telah menetapkan bahwa para ibu baru yang terpapar asap rokok di rumah mereka, berhenti menyusui lebih cepat daripada wanita yang tidak terpapar asap bekas.

Penelitian itu dilakukan di Hong Kong, melibatkan lebih dari 1.200 wanita dari empat rumah sakit besar, jelas Profesor Marie Tarrant, Direktur Sekolah Keperawatan UBC Okanagan.

Tarrant, yang penelitiannya berfokus pada kesehatan ibu dan anak, diajarkan di fakultas Kedokteran di Universitas Hong Kong sebelum bergabung dengan UBC.

Photo by: unsplash-logoThomas Bjornstad
"Studi kami menunjukkan bahwa hanya berada di rumah tangga yang merokok - apakah itu suami, ibu atau anggota keluarga besar - mengurangi waktu bahwa seorang anak diberi ASI," kata Tarrant.
"Bahkan, semakin banyak perokok di rumah, semakin pendek durasi menyusui," katanya seperti dikutip Science Daily, Kamis (2/8/2018).

Penelitian ini, kata Tarrant, adalah salah satu yang pertama meneliti pengaruh merokok anggota keluarga selama masa menyusui di Hong Kong setelah negara itu melakukan perubahan besar pada regulasi pengendalian tembakau pada 2007.

Di Hong Kong sekitar empat persen wanita dan 18 persen pria merokok, untuk rata-rata nasional sekitar 10 persen dari populasi - dibandingkan dengan Cina Daratan di mana statistik merokok masih cukup tinggi. Di Kanada, sekitar 14 persen populasi merokok lebih dari satu batang rokok sehari.

"Temuan kami konsisten dengan penelitian sebelumnya dan kami menemukan bahwa paparan perokok rumah tangga juga memiliki efek negatif yang substansial terhadap praktik menyusui,” kata Tarrant.

"Lebih dari sepertiga dari peserta memiliki mitra atau anggota rumah tangga lain yang merokok. Dan ayah yang merokok secara signifikan lebih kecil kemungkinannya untuk memilih menyusui bila dibandingkan dengan pasangan yang tidak merokok."

Nikotin ditularkan dalam ASI kepada anak dan Tarrant mengatakan ada juga beberapa saran yang dapat mengurangi jumlah keseluruhan ASI. Ada juga kekhawatiran tentang paparan lingkungan dari perokok pasif pada anak.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa mitra merokok dapat mempengaruhi keputusan ibu untuk berhenti menyusui dan paparan merokok ayah dan rumah tangga sangat terkait dengan durasi menyusui yang lebih pendek," katanya.

Tarrant mengatakan penelitian ini merekomendasikan bahwa perempuan dan keluarga mereka berhenti merokok sebelum mereka hamil dan ibu-ibu baru menunggu sampai mereka selesai menyusui, jika mereka memilih untuk memulai kembali merokok.

Dan dia merekomendasikan jika seorang wanita memilih untuk merokok dengan bayi di rumah, mereka memastikan bayi tidak terkena asap rokok bekas.

"Kami tahu efek asap tembakau lingkungan pada bayi muda sangat merugikan karena bayi yang merokok lebih menyukai infeksi pernapasan dan pengalaman lain masalah pernapasan lainnya," kata Tarrant.

"Namun, jika seorang ibu menyusui, manfaat dari dia melakukan itu masih lebih besar daripada efek negatif dari merokok selama dia menjaga kebersihan merokok yang baik dan tidak mengekspos bayi itu ke asap rokok."

Penelitian Tarrant baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Breastfeeding Medicine.

DEVINA SETIAWAN

Studi Serius, Orangtua Bahkan Tidak Bisa Hentikan Remaja Nonton Film Porno

On Wednesday, August 01, 2018

GADGET kini layaknya pakaian, yang selalu melekat dengan kita kapan dan dimanapun berada. Di waktu yang sama orangtua sebenarnya sangat memahami dampak jelek dari penggunaan gadget yang keliru.

Karena itulah, umumnya orangtua pasti membatasi penggunaan gadget untuk anak. Namun, sayangnya, peraturan tidak untuk dirinya. Maka, tak heran ketika tiba-tiba ia mengetahui anaknya mengakses materi pornografi, ia segera panik dan marah.

Photo by:unsplash-logoVictoria Heath
Bahkan, sebuah penelitian baru keluar dengan beberapa hasil yang tidak terlalu mengejutkan. Penelitian itu menyatakan bahwa tidak peduli metode apa pun yang orang tua adopsi, mereka tidak pernah dapat menghentikan anak-anak mereka menonton film porno.

Orangtua, perhatikan. Jika Anda berpikir bahwa alat pemfilteran Internet —seperti kontrol orangtua— akan menghentikan anak remaja Anda mengakses konten seksual eksplisit secara online, maka Anda mungkin salah, sebuah penelitian baru menunjukkan.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Cyberpsychology, Behaviour and Social Networking, menunjukkan bahwa alat penyaringan internet tidak efektif.

Perjuangan untuk membentuk pengalaman yang dimiliki orang muda secara online sekarang menjadi bagian dari peran orangtua modern.

Ketika anak-anak dan remaja menghabiskan jumlah waktu online yang meningkat, sebagian besar orangtua dan wali kini menggunakan alat penyaringan internet (seperti mode parental control) untuk melindungi anak-anak mereka mengakses materi seksual secara online.

Namun, penelitian terbaru dari Oxford Internet Institute, University of Oxford telah menemukan bahwa alat penyaringan Internet tidak efektif dan dalam banyak kasus, merupakan faktor yang tidak signifikan dalam apakah orang muda telah melihat konten seksual eksplisit.

Meskipun penggunaan alat pemfilteran internet tersebar luas, belum ada bukti konklusif pada keefektifannya sampai sekarang.

"Penting untuk mempertimbangkan kemanjuran penyaringan internet," kata Dr Victoria Nash, rekan penulis pada studi ini seperti dikutip laman Phys.org.

"Alat pemfilteran internet mahal untuk dikembangkan dan dipelihara, dan dapat dengan mudah 'underblock' karena pengembangan cara baru berbagi konten yang konstan".

Selain itu, ada kekhawatiran tentang pelanggaran hak asasi manusia — penyaringan dapat mengarah pada 'overblocking', di mana orang muda tidak dapat mengakses informasi kesehatan dan hubungan yang sah.

Penelitian ini menggunakan data dari penelitian skala besar yang melihat pasangan anak-anak dan pengasuh di Eropa, membandingkan informasi yang dilaporkan sendiri apakah anak-anak telah melihat konten seksual online meskipun menggunakan alat pemfilteran internet di rumah tangga mereka. Studi preregistered kedua kemudian dilakukan melihat remaja di Inggris.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemfilteran internet tidak efektif dan tidak signifikan terhadap apakah seorang anak muda telah melihat konten seksual eksplisit.

Lebih dari 99,5 persen dari apakah orang muda yang ditemui materi seksual online ada hubungannya dengan faktor di samping penggunaan teknologi penyaringan internet oleh pengasuh mereka.

"Kami juga tertarik untuk mengetahui berapa banyak rumah tangga yang perlu menggunakan teknologi penyaringan untuk menghentikan satu remaja dari melihat pornografi online," kata rekan penulis Profesor Andrew Przybylski.

"Temuan dari penelitian awal kami menunjukkan bahwa di antara 17 dan 77 rumah tangga akan perlu menggunakan alat pemfilteran internet untuk mencegah seorang anak muda dari mengakses konten seksual. Hasil dari penelitian lanjutan kami menunjukkan tidak ada efek protektif yang signifikan secara statistik atau praktis. untuk memfilter," sebut penelitian itu.

"Kami berharap ini mengarah pada pemikiran ulang dalam target efektivitas untuk teknologi baru, sebelum mereka diluncurkan ke populasi," kata Nash.

"Dari perspektif kebijakan, kita perlu fokus pada intervensi berbasis bukti untuk melindungi anak-anak. Sementara penyaringan internet mungkin tampak sebagai solusi intuitif yang baik, itu mengecewakan bahwa bukti tidak mendukung hal itu," terangnya.

Para peneliti setuju bahwa harus ada lebih banyak penelitian yang dilakukan untuk memantapkan temuan ini.

"Lebih banyak studi perlu dilakukan untuk menguji penyaringan internet dalam pengaturan eksperimental, dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip keterbukaan ilmu pengetahuan," kata Przybylski.

"Teknologi baru harus selalu diuji efektivitasnya dengan cara yang transparan dan mudah diakses," pungkasnya.

DEVINA SETIAWAN

Euis Sunarti, Profesor Cantik dan Bundanya Anak-anak Indonesia

On Tuesday, July 31, 2018

SOSOKNYA paling dicari ketika sejumlah akademisi dan tokoh yang umumnya para ibu mengajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) agar para pengidap lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dihukum penjara maksimal 5 tahun. Beliau adalah Bunda Prof Dr Euis Sunarti.

Beliau dan para ibu itu tentu tak jahat kepada LGBT, justru sayang kepada mereka. Judicial review itu amatlah manusiawi. Dalam rangka memanusiakan peradaban kita sebagai manusia. Peradaban kita. Karena sejatinya LGBT sejatinya endemi yang sebenarnya bisa disembuhkan, sehingga tak seharusnya diperturutkan.



Menurut Euis dan kawan-kawan, homoseksual haruslah dilarang tanpa membedakan batasan usia korban, baik masih belum dewasa atau sudah dewasa. Sehingga para pelaku lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dikenakan Pasal 292 KUHP dan dipenjara maksimal 5 tahun.

Gagasan tersebut membawa Euis menjadi Kepala Pusat Studi Bencana LPPM IPB, pendiri Forum Perguruan Tinggi untuk Pengurangan Risiko Bencana (FPT-PRB), Koordinator Penelitian FPT-PRB, menjadi inisiator dan deklarator pendirian Platform Nasional (PLanas) PRB, Ketua Kelompok Kerja sociodemografi IABI (Ikatan Ahli Bencana Indonesia), dan menjabat Dewan Pengarah Planas PRB (2015-2017).

Secara insidentil Euis menjadi narasumber berbagai seminar dan workshop di BKKBN, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Bappenas.

Bunda Euis adalah Guru Besar dan profesor di bidang ketahanan dan pemberdayaan keluarga Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia IPB. Perhatiannya pada masalah keluarga mendorongnya untuk aktif melakukan suaka generasi bangsa meskipun dengan tantangan yang tentu tidak ringan.

Sehari-hari Euis mengajar di Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, IPB. Ia menjadi dosen IPB sejak 1987 dan sejak 2000 melakukan penelitian dan menulis mengenai Ketahanan-kesejahteraan-pemberdayaan keluarga, juga ekologi keluarga.

Perempuan kelahiran Bandung, 18 Januari 1965 itu pernah meluncurkan tiga buah buku Family Kit Ketahanan Keluarga, Buku Potret Ketahanan Keluarga Indonesia di Wilayah Khusus dan Potret Ketahanan Keluarga menurut Keragaman Pola Nafkah pada 2013.

Ia juga aktif di berbagai forum akademik internasional seperti International Community, Work, Family (CWF) di Sydney dan Konferensi International Work Family Researcher Network (WFRN) di New York.

Beliau figur pembelajar yang patut diteladani. Meskipun bergelar sebagai Guru Besar dan akademikus dengan gelar profesor yang disandangnya, beliau tetap rendah hati. Tak pilih-pilih orang untuk berbagi.

Bahkan pada pagi hari ini, Selasa, 31 Juli 2018, beliau didapuk menjadi narasumber dalam sebuah seminar tentang generasi millenial digital di Kota Depok. Di hadapan anak-anak muda.



Beliau menjadi salah satu narasumber dari tiga orang narasumber. Namun dua orang narasumber lainnya itu adalah pelajar yang amat belia. Namun keduanya anak anak luar biasa dengan capaian prestasi yang telah berhasil diraihnya.

Jadi tidak melulu ilmuan apalagi yang telah memiliki sederet prestasi dan pengakuan akademik itu enggak mau duduk bareng sama anak SMP/SMA. Nongkrong bareng. Diskusi bersama. Bunda Euis Sunarti telah menunjukkannya. Beliau begitu peduli dan tak canggung "turun gunung" sekedar untuk bersua dengan anak anak remaja.

Barangkali itu juga yang menjadi resep awet muda beliau. Meskipun usianya sudah kategori "nenek", beliau tetap tampak bersahaja, cantik, muda, dan bercahaya. Sosok pemikir yang tak pernah lelah berbagi inspirasi.

Semangatnya tak pernah pudar untuk bersama dengan elemen masyarakat meneguhkan ketahanan  keluarga Indonesiia, apalagi jika menyangkut terkait dengan tumbuh kembang generasi muda. Ibu yang bergelar profesor ini tak pernah merasa canggung untuk duduk berdiskusi bersama dengan anak-anak remaja.

Kita butuh Bunda Euis lainnya yang terus menyuarakan pentingnya gerakan ketahanan keluarga demi merawat martabat dan peradaban bangsa yang berlandas pada nilai-nilai luhur agama sebagaimana dengan jelas termaktub dalam Sila Pertama Pancasila.


Atas perhatiannya yang tinggi terhadap ketahanan keluarga dan bangsa serta kepeduliannya terhadap tumbuh kembang generasi muda, Eusi Sunarti layak menyandang predikat sebagai "Bunda Anak Indonesia". Peneliti dan penulis mengenai ketahanan-kesejahteraan-pemberdayaan keluarga, juga ekologi keluarga ini, tak pernah lelah berbagi inspirasi.

Kita doakan semoga Bunda Euis, bundanya para remaja Indonesia, selalu diberikan kesehatan, keberkahan, keselamatan dan kesejahteraan bersama dengan anggota keluarganya sehingga dapat terus mengabdikan dirinya untuk kemaslahatan agama dan bangsa Indonesia tercinta.

DEVINA SETIAWAN

Ketua ISMA Malaysia DR Norsaleha Mohd Salleh Ungkap Rahasia Kebahagiaan Wanita

On Monday, July 30, 2018

KETUA Ketua Wanita Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA) Norsaleha Mohd Salleh menjadi narasumber dalam acara Seminar Negeri Serumpun yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah di Auditorium Lantai II Perpusnas, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Ahad (29/07/2018). Berikut ini rekamannya.

Silahkan berkunjung ke situs www.parentnial.com untuk mendapatkan berita dan menonton video menarik lainnya.

Nantikan juga seri video berikutnya.