Stop, Jangan Tuduh Islam Sebagai Ancaman!

JAUH hari sebelum perayaan Paskah digelar, berbagai pemberitaan mengetengahkan ihwal kesiapan pihak keamanan mengawal kegiatan tersebut.

Tak ketinggalan presenter atau anchor televisi dalam setiap penampilannya selalu mengingatkan akan adanya bahaya aksi ancaman terorisme di hari hari suci umat agama Kristen tersebut.

Seraya memutar kembali video video aksi serentetan bom biadab sebelum-sebelumnya, penyiar mengingatkan bahaya gerakan yang disebutnya sebagai "kelompok Islam garis keras" itu.

Namun, situasi mencekam yang seolah sengaja diciptakan itu rupanya tak hanya menjelang Paskah atau Jum’at Agung yang sudah dirayakan beberapa saat lalu.

Menjelang Natal, menjelang Hari Raya Waisak, menjelang Nyepi, dan hari hari besar suci agama lainnya, media acapkali sibuk mengangkat tema tentang bagaimana kesiapan aparat keamanan untuk mengamankan situasi dan kondisi hari perayaan.

Memang terasa aneh, perayaan hari hari besar agama agama selain Islam selalu dikaitkan dengan bahaya aksi peledakan bom, aksi teror dan laku durjana kelompok yang dicap sebagai golongan garis keras.

Dan, yang sangat tak mengenakkan, telunjuk selalu menuding Islam yang sering dipersonifikasi dan diasosiasi sebagai biang keladi dari aksi aksi bengis teror itu semua.

Kalau kita perhatikan, keadaan seperti itu jutsru sangat kontras ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri atau hari hari besar Islam lainnya seperti Maulid, Isra Miraj, dan lain lain. Sama sekali tak segegap gempita pemberitaanya tentang berapa personil kepolisian yang akan turun mengamankan perayaan sebagaimana perayaan perayaan lainnya.

Gejala apa ini? 
Dari sini, mungkin hati kecil kita berkata, apakah Islam adalah ancaman, kok sampai segitunya penggambarannya yang mencuat?. Ini tidaklah berlebihan.

Aksi ledakan bom bunuh diri di Masjid Adz Zikra Mapolresta Cirebon, misalnya, tanpa data dan fakta yang terkonfirmasi akurat, sejumlah media mainstream langsung mengarahkan telunjuk bahwa aksi itu berkaitan dengan kelompok lama yang, sekali lagi, kembali Islam yang diserempet.

Sayangnya, tudingan sumir semacam itu seringkali terlegitimasi hanya karena komentar dari orang orang yang sering disebut sebagai analis, pakar terorisme, atau ahli. Pertanyaannya, siapa yang mendapuk mereka sehingga dikenal sebagai analis, pakar, atau ahli?

Ya, pendapuknya tentu media itu sendiri, yang sudah melanggannya. Jadi, nampak secara gradual menunjukkan adanya ketimbangan dalam laporan dan kaidah jurnalitik pun terkesampingkan.

Inilah bagi saya yang rasanya kurang adil. Media kerap tak menampilkan suara narasumber dari kelompok tertuding sebagai "teroris", kecuali hanya secerca dan sepotong sepotong.

Saya sangat mengutuk aksi teror yang sungguh biadab menyasar anak manusia tanpa alasan yang dapat dibenarkan itu. Namun di sisi yang lain, langsung menuding pihak tertentu dan menebar beragam steorotip akan membuat masalah semakin runyam. Dan, barangkali tak akan pernah selesai.

Seperti aksi bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon, misalnya, ada yang gegabah yang langsung mengaitkan bom di markas polisi itu dengan Pesantren Al Mukmin Ngruki Solo pimpinan Abu Bakar Baasyir karena pelaku diduga sebagai alumni Ngruki.

Tapi itu ternyata juga pun tidak terbukti. Sementara itu, sejak pagi pagi Abu Bakar Baasyir sudah menolak keras dikaitkan dikaitkan dengan bom tersebut dan menyebut pelaku bom bunuh diri sakit jiwa.

Bahkan Media Center JAT atau departemen informasi dan hubungan masyarakat Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), organisasi pimpinan Baasyir, menyebut aksi Muhammad Syarif itu itu adalah tindakan haram yang tak ada dalam fikih jihad. Dan orang yang melakukan bom bunuh diri itu, kata Media Center JAT, berarti tidak mengerti perkara jihad yang sesungguhnya.

Jadi bagaimana mungkin aksi tersebut bisa langsung dikaitkan dengan ajaran Islam karena jelas sekali bertolak belakang dengan nilai nilai Islam.

Menurut JAT, pasti ada aktor-intelektual yang menjadi penunggang dari aksi itu yang sengaja mau membuat kacau.

Siapa penungganya, ini pertanyaan yang selalu rumit disatroni dan tentu tidak bijaksana kalau semata menebak-nebak. Teka teki yang runyam, memang.

Propaganda
Dari gelapnya pemahaman saya untuk dapat mencerna motif sejumlah aksi teror akhir akhir ini, saya jadi teringat dengan rumus propaganda yang diterlurkan Joseph Goebbels.

Konon Goebbels adalah tokoh propagandis tulen Jerman yang dimiliki oleh pimpinan organisasi NAZI, Adolf Hitler.

Bagi Goebbels, definisi situasi dapat dibentuk dan digunakan untuk mengendalikan massa atau orang ramai. Ia menyatakan bahwa suatu kebohongan akan diterima sebagai kebenaran jika terus menerus ditiupkan dalam kesadaran masyarakat.

Agaknya teori itulah yang coba dimainkan kalangan phobia-Islam hari hari ini, tentu saja dengan sokongan penuh (korporasi) media. Dari upaya upaya itu maka dibentuklah sedemikian rupa kesan Islam yang temperamental, sadis, doyan tebas menebas, penuh teror, dan penggambaran Islam yang satanic, agama yang menakutkan lagi gemar menumpahkan darah.

Selaku orang awam, jujur saja saya sama sekali tidak paham apa motif sejumlah aksi bomber akhir akhir ini. Namun lagi lagi sebagai orang awam, saya hanya bisa berkesimpulan, meski ini sangat prematur tentu saja, bahwa aksi aksi itu tidak bisa diterima serta aneh di mata saya dan rasanya, kok, sarat dengan kepentingan kepentingan kalangan tertentu.

Islam yang saya pahami adalah Islam yang manusiawi. Tak berlebih-lebihan baik dalam amalan maupun dalam pemahaman. Inilah yang saya pahami sebagai sikap tawassuth (jalan tengah).

Saya sama sekali menentang sikap sewenan-wenang namun membawa-bawa nama Islam. Bukan pula Islam yang suka menebar teror dan kebencian.

Barangkali pandangan saya ini tidak cukup populer di kalangan atau kelompok Islam tertentu, tapi adanya bom bom yang tak jarang menewaskan orang orang tak berdosa itu membuat saya juga menjadi prihatin.

Dari aksi bom bom yang misterius itu banyak kemudian masyarakat awam terhadap syariat Islam memicingkan pandangan sinis terhadap muslimah yang bercadar.

Muslim bercelana cingkrang pun dicap sebagai orang yang beraliran Islam keras, sementara muslimah yang menjaga hijab berupa purdah atau cadar dianggap sebagai tanda anti-sosial di masyarakat. Bahkan tak sedikit yang mengaitkan aksi kekerasan dengan Wahabi, padahal apa dan siapa Wahabi sendiri masih terkonstruksi secara abstaktif.  

Fenomena yang berdampak terhadap umat Islam lainnya tersebut tidak lepas dari beberapa terduga yang disebut sebagai pelaku teror yang memang kerap ditemukan bercelana cingkrang, istri bercadar, dan relatif menepi dari pergaulan sosial keseharian.

Namun tak dinyana, situasi itu kemudian berimbas kepada saudara saudara muslim yang lain yang tak tahu apa apa, tak terlibat sedikit pun, bahkan sangat mengutuk aksi aksi semacam itu. Namun mereka dikucilkan.

Berangkat dari semangat dan dalih pengkafiran, maka meledaklah bom. Menurut subjektifitas saya, hal itu adalah tafsiran liar yang gegabah dan hanya akan merugikan Islam dan umat Islam sendiri di negeri ini.

Tapi, yang sampai hari ini terus menjadi tanda tanya, siapa sesungguhnya yang bermain di balik lakon lakon itu? Ini teka teki yang tak pernah terjawab. Pertanyaan yang masih terus menggantung.

Lantas, demikian juga mengapa stigmatisasi Islam sebagai terorisme seperti sudah mengakar sangat dalam di kepala khalayak ramai. Bahkan ini bukan saja di Indonesia tapi telah mendunia.

Barangkali betul apa yang dibilang Goebbels, bahwa suatu kebohongan akan diterima sebagai kebenaran jika terus menerus ditiupkan dalam kesadaran masyarakat.

Artinya, Islam sebagai agama yang mengayomi, mengedepankan kasih sayang hatta itu kepada binatang sekalipun, namun kemudian selalu digambarkan sebaliknya secara terus menerus sebagai agama kekerasan, penindas, dan teror, maka pelan tapi pasti akan terciptalah kondisi yang dikehendaki itu sebagai sebuah kebenaran di mata orang orang.

Inilah yang dilakukan oleh media, setiap pagi, setiap hari. Karena sebagaimana kita ketahui penguasa media dunia hari ini adalah kalangan yang memang phobia, yakni mereka yang rajin memelihara ketakutannya terhadap Islam dan tak berusaha untuk menelaahnya secara objektif.

Selain polisi dan aparat pemerintah terkait, tentu kita sebagai warga negara yang baik juga harus terlibat dalam menjaga kondisifitas, ketertiban, dan kemanan di lingkungan masyarakat dari aksi aksi sadis para peneror.

Tapi yang kita harapkan juga adalah media jangan serta merta secara sistematis menempatkan kelompok atau agama tertentu sebagai ancaman.

Sebagai orang awam, saya menyatakan, saya tidak setuju dengan aksi aksi bom dan membunuh anak manusia tanpa alasan yang dapat dibenarkan. Saya benar benar mengutuknya. Dan kepada media, mohon, stop kampanye hitam terhadap Islam!.

Tapi yang terakhir ini sepertinya mustahil karena memang perang opini (al-gazw-ul al-fikr) akan terus berlanjut dengan berbagai rupa tendensi dan juga harga diri. Inilah dunia yang tak pernah selesai bertikai. (YACONG B. HALIKE)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel