Merindukan Pemimpin Visioner dan Bermental Pekerja


SETIAP pemimpin pasti mempunyai visi. Demokrasi yang terbukti gagal dalam mewujudkan pemerintahan yang progresif pun menghendaki pemimpin yang punya visi. Oleh karena itu pada masa kampanye setiap kandidat pejabat baik bupati, walikota, atau gubernur, pertama kali yang disampaikan kepada publik ialah visinya.

Visi secara sederhana dapat dipahami sebagai gagasan besar yang ingin diwujudkan di masa yang akan datang dengan penuh kesungguhan. Gagasan itu sendiri berangkat dari sebuah keyakinan mendalam yang mendorong sang pemilik visi berupaya keras, mengerahkan segala potensi dan tenaga untuk segera mewujudkannya. Oleh karena itu, pemimpin yang baik ialah pemimpin yang memiliki visi ideal yang didukung dengan mental kerja luar biasa demi kesejahteraan seluruh rakyatnya.

Artinya sang pemimpin berkeinginan kuat mensejahterakan masyarakatnya. Itulah pemimpin yang visioner, punya visi dan punya mental untuk mewujudkkannya. Sayangnya, tidak semua pemimpin memiliki visi apalagi mental.

Namun, karena sistem kenegaraan kita menganut sistem demokrasi, maka pemimpin tak bervisi pun ‘dipaksa’ untuk punya visi. Visi yang ada pada saat kampanye bukan visi nuraninya tapi visi yang didesain tim sukses. Terpilih pun bukan karena kapasitasnya yang memadai tapi karena popularitas yang dimiliki melalui berbagai upaya tekhnik pencitraan. Akhirnya kinerja mereka (pejabat terpilih itu) – tentu tidak semua- jauh dari apa yang diharapan rakyatnya.

Kita sangat merindukan pemimpin yang antara visi dan mentalnya berbanding lurus, bukan berbanding terbalik. Sebab hanya pemimpin seperti itulah yang benar-benar akan mampu bekerja untuk kesejahterakan rakyatnya.

Dalam kehidupan pemimpin seperti itu, derita rakyat adalah pikirannya. Masalah rakyat adalah beban hidupnya. Kesengsaraan rakyat adalah masalah terbesar dalam hidupnya, dan bukan sebaliknya sebagaimana banyak kita lihat hari ini.

Sekarang bukan kita tidak punya pemimpin, pemimpin itu ada dan mungkin sangat banyak. Regulasi telah siap, teori manajerial juga sudah tersedia dan dipahami, anggaran apalagi. Namun, karena mental yang tidak ada, maka masalah pun selalu menumpuk dan nyaris tak teratasi. Jalanan tetap rusak, biaya hidup kian tinggi, pengangguran dimana-mana, pergaulan bebas merajalela, korupsi menggurita dan yang paling nyata ialah gelandangan, pengemis, dan premanisme kian bertambah.

Visi Ideal dan Problem Mental
Visi memang mencerminkan kesungguhan hati. Namun demikian visi bukanlah generator yang secara otomatis pasti mampu menggerakkan manusia pada jalan yang diimpikannya. Visi akan tinggal visi manakala mental seseorang, pemimpin atau rakyat, tidak berbanding lurus dengan spirit visi yang dibangun. Data terakhir menyebutkan bahwa hingga hari ini tercatat 158 kepala daerah baik yang aktif maupun purna bakti terjerat kasus hukum.

Dapat dipastikan bahwa masing-masing kepala daerah pada saat-saat kampanye telah memaparkan visi dan misinya dengan penuh semangat. Tetapi karena ketiadaan mental positif yang mendukung, menjadikan mereka tercatat sebagai orang yang gagal mewujudkan visi alias mental dan terpelanting dari visinya sendiri.

Imam Syafi’I mengungkapkan kata bijak perihal orang seperti ini: Wujuduhu ka ‘Adamihi. Artinya, keberadaannya sama dengan ketiadaannya alias sama sekali tidak berguna. Punya visi dengan tidak punya visi sama saja, karena tidak punya mental.

Meminjam filosofi Bung Hatta tentang gincu dan garam, saat ini dapat dikatakan bahwa pemimpin yang timpang antara visi dan mental sebagai penganut filosofi gincu, merah merekah namun tidak memiliki rasa. Padahal semestinya pemimpin itu menganut filosofi garam, ia mampu larut dan tidak nampak namun sangat terasa keberadaannya.


Leburnya Kepekaan
Mental seseorang berpengaruh besar terhadap cara pandang (paradigma), kebiasaan, termasuk kinerja. Kebiasaan tidak bertanggungjawab misalnya, itu bukan karena tidak memahami mana hak dan kewajiban, tetapi karena mental yang terganggu, sehingga menyebabkan hilangnya kepekaan akan tanggungjawabnya.


Jika mental yang terganggu, jangankan masalah besar, masalah teknis saja tidak akan pernah diselesaikan dengan baik.

Contoh sederhananya adalah masalah kerusakan jalan. Pada tahun 2001 ketika penulis masih berseragam SMAN 1 Loa Kulu, Kutai Kartanegaera, setiap kali ingin menjenguk orang tua yang tinggal di Desa Margahayu, Jonggon A, penulis selalu khawatir dengan keselamatan dalam perjalanan.

Sebab badan jalan yang rusak juga banyak terdapat pada tanjakan terjal yang kanan dan kiri jalan tebing curam. Sementara perbaikan tidak pernah dilakukan, dan bisa jadi hal itu sampai hari ini tak pernah benar benar maksimal. Fakta ini menunjukkan adanya problem mental serius yang ada pada pemerintahan Kutai Kartanegara.

Ini baru masalah jalanan rusak yang menjadi hak publik. Bagaimana dengan yang lain? Bisakah pendidikan gratis diwujudkan dengan tetap memperhatikan aspek kaulitas? Bagaimana nasib anak-anak jalanan, fakir miskin yang dijamin oleh negara? Siapa yang akan peduli dengan mental birokrat yang bejat dan budaya remaja yang durjana?


Pembangunan Integratif
Kini sudah saatnya kita berpikir dan berupaya mewujudkan pembangunan integratif. Sebuah program pembangunan yang tidak selalu berorientasi fisik dan kognisi semata, tetapi juga mental. Selain itu juga sudah saatnya kita mengakhiri pembangunan Kaltim dengan karakter burung Beo, hanya meniru, menduplikat karya bangsa lain dan mengubur dalam-dalam karakter, potensi, dan kekhasan Kaltim itu sendiri.


Pembangunan integratif ialah pembangunan yang berorientasi mencetak sumber daya manusia yang handal berdasarkan nilai-nilai iman. Manusia yang cerdas akalnya, canggih cara berpikirnya dan sholeh perbuatannya. SDM yang mampu menjalankan nilai-nilai luhur agamanya, konstitusinya, dan komitmen-komitmennya dalam upaya mensejahterakan rakyat.

Upaya ini sangatlah penting untuk diprioritaskan oleh jajaran pemerintahan Kaltim, jika ingin mewujudkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Tetapi program ini pasti akan membuat badan para birokrat, politisi, guru, dan juga seluruh rakyatnya sangat kelelahan karena harus berjuang sepenuh jiwa raga. Sebab upaya itu sendiri menuntut masing-masing pribadi mampu menjalankannya.

Semua akan mudah manakala visi dan mental telah terintegrasi dengan baik. Aa Gym pernah berkata, manusia tidak saja punya telinga, mereka juga punya mata. Tidak mungkin generasi mendatang akan lebih baik dari kita saat ini, manakala kita tidak mempersiapkan diri untuk hal itu. Demikian pula halnya dengan visi, tidak pernah akan terbukti manakala mental telah mati.

Walaupun Robin Hood, seorang anak dari keluarga biasa diajarkan untuk menjadi ksatria oleh sang ayah yang gemar filsafat, tetapi tetap saja, dalam dunia nyata tanpa kesungguhan yang sebenar-benarnya, mustahil anak domba menjadi raja singa.

IMAM NAWAWI

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel