Membangun Mental Bangsa, Pembelajaran Dari Orang Besar















PEKAN lalu, dalam sebuah seminar nasional tentang peradaban di Jakarta, hadir beberapa tokoh nasional yang bersama-sama membahas masalah bangsa. Di antara jajaran tokoh nasional itu, hadir seorang tokoh Kalimantan Timur, Isran Noor yang juga Bupati Kutai Timur dan ketua umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi).

Isran Noor menjadi satu-satunya tokoh daerah yang diundang dan hadir menjadi narasumber dalam seminar nasional yang dihadiri ratusan peserta dari Jakarta dan berbagai wilayah di Indonesia tersebut.

Terlepas dari unsur apapun, secara obyektif sebagai anak Kaltim saya bergembira dengan kehadiran Bapak Isran Noor sebagai narasumber dalam seminar tersebut. Apalagi, Kaltim hingga saat ini belum memiliki banyak figur yang bisa tampil di panggung nasional, sebagaimana daerah-daerah lainnya.

Akan tetapi, dalam forum itu, Kaltim telah mampu menampilkan sosok elegan yang bisa duduk bersama jajaran tokoh nasional -bersama ketua DPD RI Irman Gusman dan analis politik Burhanudin Muhtadi- untuk memberikan sumbang gagasan bagi kemajuan bangsa dan negara. Dalam pandangan Ilahiyah semua itu adalah ayat (tanda, signal) yang tentu hanya bisa dipahami oleh mereka yang memiliki visi jauh ke depan.

Momentum ini harus menjadi satu titik balik perubahan mindset putra-putri Kalimantan Timur. Setidaknya harus ada optimisme baru bahwa putra-putri Kaltim mampu berperan secara nasional dalam hal ide dan gagasan untuk menyelesaikan problematika bangsa. Apalagi seminar tersebut dari kepanitiaan beberapa juga ada saya lihat mahasiswa dari Kaltim yang sedang menimba ilmu di beberapa kampus di Jakarta.

Kaltim sejauh ini telah berkontribusi cukup besar bagi pembangunan nasional, terutama karena adanya tambang mutiara hitam di bumi Borneo itu. Akan tetapi secara ide, gagasan, Kaltim belum begitu terasa eksistensinya. Di samping juga secara nasional belum ada figur yang mampu tampil dalam skala nasional. Inilah tantangan putra-putri Kaltim masa depan.

Menarik apa yang sempat saya catat dari pemaparan Bapak Isran Noor bahwa kemajuan bangsa ini bergantung pada mentalitas putra bangsa itu sendiri. Manakala putra bangsa bermental kerdil, apatis, dan pragmatis, maka bisa dipastikan Indonesia tidak akan kemana-mana selain menemui ajalnya.

Satu di antara hal yang harus dimiliki oleh setiap kader bangsa adalah mentalitas untuk mampu berjiwa besar, kredibel, disiplin, dan mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan kelompok atau individu. Khusus dalam acara seminar itu, Isran Noor memang memberi contoh dengan hadir lebih awal, bahkan boleh dikatakan sama jamnya dengan kehadiran panitia yang sedang mempersiapkan acara.

Membangun Mental
Kita akui bangsa ini sedang dilanda oleh bencana besar berupa kebodohan, kemiskinan, kemaksiatan, kemunkaran, kebejatan, keberingasan, dan kekerasan. Di antara kita mungkin sudah ada yang acuh tak acuh dengan kondisi ini. Sebab secara rasio memang cukup sulit untuk bisa mengatasi kondisi tersebut sehingga bisa kembali aman, tentram, damai dan sejahtera.

Namun tidak ada kata menyerah bagi kita yang memiliki iman, visi, ideologi dalam menjalani hidup ini. Oleh karena itu, ada kewajiban besar yang harus kita lakukan bersama dalam hidup ini ialah membangun mental kita masing-masing. Dengan cara setiap diri berupaya untuk memiliki mindset dan etos keilmuan yang benar, selanjutnya memperbaiki kualitas diri dalam segala hal.

Mindset yang benar akan mendorong setiap diri bergerak melakukan sesuatu bukan atas stimulus eksternal baik berupa materi ataupun non materi. Tetapi atas kesadaran diri, panggilan jiwa, bahwa sesuatu itu perlu dilakukan, sehingga ada atau tidak, cukup atau tidak, imbalan atau hasil berupa materi dari usaha itu, sama sekali tidak merubah semangatnya untuk terus mampu memberikan yang terbaik.

Inilah dahulu yang tertanam kuat dalam karakter para pendiri bangsa. Muhammad Natsir misalnya, sekalipun beliau pernah menjadi pejabat negara, beliau hidup dalam keadaan yang sangat sederhana. Rumah pun tak punya, serba sederhana. Bahkan, konon ceritanya, jika ia diantar oleh sopir negara ke rumahn pribadinya, mobil harus diparkir depan gang, karena selain jalannya sempit, kondisi jalannya juga cukup berlumpur.

Kemudian etos keilmuan. Wajib bagi seluruh remaja dan pemuda Kaltim untuk menuntut ilmu. Dan, pemerintah Kaltim dalam hal ini juga berkewajiban untuk membantu asa generasi muda ini terwujud. Sebab jika Kaltim memiliki generasi cemerlang, maka ke depan Kaltim akan menjadi lebih baik. Boleh jadi hari ini pusat pendidikan masih di Jawa, tetapi kalau serius kita mempersiapkan diri pusat pendidikan pun akan bergeser ke Kaltim.

Soal etos keilmuan kita patut belajar dari KH Agus Salim, salah seorang intelektual negeri yang sangat disegani oleh Belanda. Bahkan KH Agus Salim ini dikenal sebagai diplomat ulung, yang kalau beliau bicara, musuh pun akan menyetujuinya, sekalipun itu merugikan pihak musuh. Inilah kemampuan diplomasi KH Agus Salim yang sangat luar biasa. Beliau menguasai tidak kurang 8 bahasa asing.

Coba bayangkan, bagaimana sekiranya sosok kedua tokoh itu menjelma hari ini di tengah-tengah problematika bangsa yang tak kunjung usai ini? Tentu akan banyak perubahan fundamental yang akan terjadi. Dan, proses membangun mental ini jauh lebih penting dari proses membangun apapun. Itulah kenapa lagu Indonesia Raya mendahulukan jiwa baru raga. “Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya untuk Indonesia Raya.”

Mempersiapkan Diri
Lalu apa yang perlu kita lakukan? Berikut akan saya paparkan beberapa hal yang mungkin bisa membantu kita semua untuk bersama-sama menjadi manusia Indonesia yang dapat merubah kondisi bangsa.

Pertama, sebagai apapun kita, milikilah dan amalkanlah prinsip; Do More what anybody Expected from You: "Bekerjalah lebih dari apa yang setiap orang harapkan dari Anda".

Bila kita pelajar, mahasiswa, maka belajarlah lebih baik dari yang orang kira. Jika pandangan umum masyarakat kita belajar 5 jam itu sudah sangat baik, maka kita harus mendesain diri untuk bisa belajar 10 jam dengan penuh kesungguhan.

Apabila itu berhasil kita lakukan maka tanpa harus kampanye, tanpa harus membayar mahal pembuatan spanduk, brosur, atau apapun kita akan dirindukan oleh banyak orang. Orang Barat mengatakan; orang akan mencintaimu, orang akan menyukaimu, menginginkanmu, membutuhkanu lebih dari yang kamu harapkan. Itulah yang pernah dicapai oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hingga saat ini sosoknya tetap dipuja, dipuji, dan senantiasa dirindukan oleh perindu kebenaran.

Kedua, jangan pernah putus asa dan selalu mengikuti nasehat orang yang cerdas, berpengalaman, dan bijaksana. Pesan orang Perancis, Ignore the Doom Sayers: "Abaikan ucapan orang-orang yang bodoh".

Berikut ada beberapa fakta menarik untuk kita cermati. Albert Einstein baru bisa bicara pada umur 4 tahun lalu kemudian menjadi Fisikawan terkemuka hingga hari ini. Walt Disney dipecat oleh editor surat kabar karena dianggap tidak kreatif. Bahkan Thomas Alva Edison pun harus di DO dari sekolahnya karena dianggap terlalu bodoh. Namun Thomas berhasil menemukan lampu pijar.

Ketiga, dan ini aksiomatik. Tidak ada pejuang besar yang lahir dari kenyamanan situasi dan kondisi. Henry Ford menegaskan bahwa, orang-orang yang berprestasi besar bukan dilahirkan tapi diciptakan oleh situasi buruk yang menimpanya.

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berhasil menjadi manusia agung karena dia harus berhadapan dengan kaum jahiliyah yang biadab. Wali songo dikenang hingga saat ini karena jasanya telah meng-Islam-kan bumi Nusantara hampir seluruhnya.

Pendek kata, jangan berkecil hati melihat situasi bangsa dan negara hari ini. Sebaliknya, kita harus sambut momentum ini untuk bisa sukses dan bermanfaat. Bahkan kita akan menjadi semakin besar dengan situasi buruk negeri ini yang begitu lama melanda. Mari satukan barisan untuk bersama membangun mental untuk bangsa.[KTC]

*Imam Nawawi adalah kolumnis tetap rubrik Coffe Break Anak Kaltim www.kaltimtoday.com dan mantan Pengurus Daerah Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Kutai Kartanegara, Kaltim

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel