Intelek dan Kesadaran Moral















WAH, bablas tuh Menteri Kesehatan, masak program perdananya justru kampanye kondom untuk anak remaja. Benar-benar tidak masuk akal buat program seperti itu,” begitu ujar salah seorang kawan. Ungkapan itu dalam bahasa orang Kutai kurang lebih seperti ini; “Gila dah, ndik masuk akal beneh hak, polah program tegak tuch,”.

Benar. Beberapa saat setelah resmi menjabat sebagai menteri, Nafsiah Mboi, Menteri Kesehatan, langsung membuat kebijakan berupa program kampanye penggunaan kondom untuk kalangan remaja dan kalangan seks beresiko.

Hal itu dimaksudkan agar angka hamil yang tidak diinginkan akibat perzinahan dan angka aborsi dapat ditekan. Selain itu kondom diyakini Bu Menkes dapat mengurangi resiko penyebaran HIV/AIDS meski remaja gemar melakukan perzinahan.

Akal siapapun, agama apapun, ajaran apapun pasti menolak pemikiran seperti itu. Bahkan mungkin di zaman primitif pun tidak ada legalisasi perzinahan seperti itu. Bagaimanapun tujuan mulia untuk pencegahan HIV/AIDS, akan berbanding terbalik dan akan terus meningkat, selama seks bebas dibiarkan, apalagi dilegalkan dengan dalih kondom.

Ironinya program kampanye kondom justru lahir dari seorang menteri yang secara usia sangat matang (71 tahun) dan mencatat rekor sebagai Menkes tertua sepanjang sejarah kabinet NKRI. Mungkin di sini terbukti ungkapan bijaksana bahwa, “Menjadi tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan”.

Intelek
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberi arti intelek sebagai kecerdasan berpikir, orang terpelajar dan terdidik. Artinya, cukup banyak di negeri ini yang memiliki intelektual handal. Apalagi di kalangan elit yang pendidikannya sampai ke luar negeri, Eropa dan Amerika. Karena memang publik Indonesia menganggap Barat adalah simbol supremasi pendidikan dunia.

Akan tetapi muncul sebuah pertanyaan serius, lalu mengapa bangsa ini justru semakin tertinggal dalam segala bidang? Bukankah para menteri, gubernur, bupati/walikota rata-rata berpendidikan atau memiliki karakter intelektual? Kasus korupsi makin menjadi, bahkan dalam beberapa kasus melibatkan oknum yang bergelar guru besar di sebuah universitas.

Disinilah harus kita pahami bahwa intelek hanyalah salah satu bagian dari alat yang memungkinkan setiap manusia mengetahui apa yang belum diketahui. Ada unsur paling utama yang jauh lebih menentukan daripada sekedar intelek, yaitu hati. Hati adalah kemampuan manusia untuk mengafirmasi kebenaran secara pasti dan menolak kebathilan secara pasti.

Intelek sangat bergantung pada kekuatan hati masing-masing jiwa. Boleh jadi inteleknya bagus, tetapi jika hatinya rusak maka perbuatannya pun akan merusak. Seperti seorang guru besar yang terlibat kasus korupsi, inteleknya cukup mengerti bahwa korupsi itu harus dijauhi, tetapi ketika hatinya rusak, intelek pun tak mampu berbuat apapun.

Itu mengapa, bergelar akademik apapun, dari universitas manapun, tidak ada jaminan seseorang akan menjadi baik, selama hatinya belum benar-benar baik. Dan, hati akan benar-benar baik, manakala setiap orang mampu merasakan kehadiran Tuhan setiap saat.

Jadi intelek akan berfungsi dengan baik dan benar sebagai pembimbing kehidupan manusia, manakala ada kekuatan hati atau kesadaran moral. Oleh karena itu propaganda kebebasan adalah satu hal yang keliru, karena bertentangan dengan hukum alam itu sendiri.

Professor Alexis Carrel sebagaimana dikutip oleh Mujtaba Musawwi, mengatakan; “Kita belum belajar mematuhi hukum kehidupan sebagaimana kita mematuhi hukum fisik dan grativitasi. Terdapat konflik tragis antara kebebasan manusia dan hukum alam, konflik yang karenanya manusia modern tersiksa, karena menghendaki otonomi mutlak.

Berarti, intelek tidak boleh berdiri sendiri. Ia harus berada dibawah dominasi hati yang bersih, jernih, dan suci. Apabila intelek berada dibawah dominasi hati yang kotor maka kejahatanlah yang merajalela. Dan, manusia sendiri yang akan merasakan akibatnya. Termasuk Amerika dan Eropa yang kini sedang dilanda krisis ekonomi dan krisis moral yang sangat serius.

Lahirnya gagasan kebebasan sebenarnya lebih karena intelek telah terjajah oleh kepentingan hati yang kotor (hawa nafsu). Menghadapi situasi seperti ini, manusia mestinya memahami dengan baik konsekuensi-konsekuensi hukum alam, yang mendorong tumbunya kesadaran untuk melakukan disiplin diri agar kehidupan alam ini tetap terpelihara dan bisa diselamatkan.

Manusia harus bisa mengendalikan sebagian besar keinginan, harapan dan hasrat. Dengan menahan diri dan memuaskan beberapa hasrat, maka kesehatan dan kekuatan dapat dijamin. Oleh karena itu manusia hari ini harus berani berkorban. Kemuliaan, keindahan, dan kesucian tidak akan ada tanpa pengorbanan.

Apabila tidak seperti itu, maka kehancuranlah yang akan benar-benar menghampiri kehidupan manusia. Mujtaba Musawwi berkata dengan sangat tegas, “Apabila setiap saat manusia menggunakan kebebasannya secara total (melepas diri dari Tuhan, Etika dan Moral) maka ia memaksakan hukum alam dan pasti akan berhadapan dengan hukuman yang mengerikan”.

Kapasitas Intelek
Intelek adalah anugerah besar Allah kepada manusia. Dengan intelek itulah manusia bisa dibedakan dari binatang. Bahkan dengan intelek itulah manusia mengembang misi sebagai khalifah dan abdullah di muka bumi.

Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati." (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur”. (Qs 67 : 23).

Sahabat Ali R.A. berkata, intelek adalah aset yang paling agung bagi manusia, karena ia mengembalikan martabat kemanusiaan setelah kehinaannya, mengangkatnya ketika ia jatuh, membimbingnya ketika ia kehilangan arah, memberikan ketegasan dan wibawa kepada ucapannya saat ia berkata.

Dalam kitab Tashnif Ghurar Al-Hikam yang berisi kumpulan mutiara hikmah dari Sahabat Ali R.A. disebutkan secara lebih detail lagi bahwa akal benar-benar perangkat utama pada manusia yang harus benar-benar dijaga.

Di antaranya disebutkan bahwa, akal itu adalah utusan kebenaran. Akal itu adalah pedang yang memutuskan. Akal itu adalah kemuliaan agung yang tidak hancur. Akal itu adalah teman tentara Allah dan hawa nafsu adalah pemimpin tentara setan. Sedangkan jiwa saling ditarik di antara keduanya. Maka barangsiapa yang menang akan berada dalam kelompoknya.

Jadi, intelek sangat mungkin untuk bisa mengetahui secara pasti mana kebenaran dan mana kebathilan. Kata “sedikit sekali kamu bersyukur” dalam ayat Qur’an di atas menandakan bahwa banyak manusia tidak menggunakan kapasitas inteleknya untuk memikirkan sesuatu dan bertindak di atas landasan kebenaran absolut. Akibatnya hawa nafsu yang dominan, dan rusaklah tatanan kehidupan.

Di alam ini terdapat banyak sekali tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Al-Qur’an berusaha menyadarkan intelek, sehingga manusia memanfaatkan kemampuan sadarnya untuk merenungkan secara mendalam atas tanda-tanda Keagungan dan Kebijaksanaan Allah, yang termanifestasikan dalam sistem ciptaan dunia.

Intelek yang bekerja dengan baik sesuai kapasitas dan tujuan ideal penganugerahannya, akan menjadikan manusia terhindar dari budaya fantasi, raba-raba, duga-duga, dan kira-kira atau sesat. Semua pasti, semua jelas, semua terang. Dan, harus diakui bahwa intelek akan bekerja dengan baik manakala ia mengetahui dan mengafirmasi Ketuhanan Allah SWT.

Kesadaran Moral
Kesadaran moral adalah kondisi manusia yang bertindak tidak saja atas dasar logika tetapi juga kepatutan di hadapan Tuhan dan manusia. Dalam kondisi demikian seorang manusia akan memiliki kemampuan pengendalian diri yang kuat, sehingga dia akan tersenyum kepada siapapun, termasuk kepada orang yang membencinya. Rela dan bahkan gemar berkorban demi kebahagiaan orang lain.

Kesadaran moral ini akan dimiliki oleh manusia yang mengetahui kebenaran sekaligus berkemauan mengamalkannya. Apabila ada orang mengetahui kebenaran tetapi menolaknya maka ketahuilah bahwa orang tersebut adalah para penentang moral. Itu juga berarti dia menolak atau melawan Tuhan. Iblis adalah contoh konkrit akan hal ini.

Dalam Al-Qur’an dikisahkan bagaimana Iblis melawan perintah Tuhan. Iblis melawan Tuhan karena argumentasinya yang hanya disandarkan pada akalnya semata. Ia tidak menyadari bahwa ia berhadapan dengan Allah yang telah menciptakannya. Iblis benar-benar terhina ketika argumen yang disampaikan ternyata tidak diterima oleh Tuhan. Hilangnya kesadaran moral menjadikan ia terkutuk sepanjang zaman.

Kesadaran jarang membuat kesalahan dalam memberikan penilaian. Beragam kesalahan manusia dalam kehidupan sosial, kadang berasal dari kesalahan akal dan rasa atau merupakan konsekuensi kesadaran yang kehilangan daya tekan yang mampu memberikan perlawanan tangguh terhadap nafsu yang memaksa.

Kesadaran tidak saja menjadi pembimbing terpercaya dalam kehidupan. Kesadaran juga saksi yang adil, jujur atas perilaku manusia yang ‘dirahasiakan’ dan menyatakan dengan tegas apa yang disaksikan.

Seseorang mungkin mengatakan dengan lidahnya sesuatu yang bertentangan denga apa yang ada dalam hatinya. Ia mungkin menutupi pikiran-pikiran rahasianya dengan mengendalikan gerakan-gerakan yang tampak. Akan tetapi ia tidak memiliki daya untuk membungkam ‘suara’ kesadarannya dan menghentikannya dan mencela dirinya sendiri. Sungguh kesadaran tidak dapat dicurangi walau dengan segala tipu muslihat.

Persis seperti yang terjadi di negeri ini, orang saling serang untuk menunjukkan dirinya tidak bersalah. Orang bergerak tidak lagi atas kesadaran intelek apalagi moral, dan itulah yang terjadi di Senayan setiap hari, kata Iwan Fals.

Bahkan DPR itu tidak lebih dari komunitas taman kanak-kanak, kata mendiang Gus Dur. Sebab dengan hanya kerdipan mata, disertai iming-iming materi, mayoritas anggota DPR itu membeo pada apa yang menjadi kepentingan pemodal tanpa basa-basi dan tanpa argumentasi.

Mau tahu, lihat saja bagaimana kita akan disuguhi UU KKG (Keadilan dan Kesetaraan Gender). Sebuah UU yang sama sekali tidak memiliki nilai relevansi dengan masalah dan kebutuhan bangsa dan negara. Termasuk yang dibahas di atas, rencana pemudahan akses kondom bagi remaja. Tidak lebih ironi lagi adalah pemberian grasi kepada ratu narkoba dari Australia.

Apapun dalihnya, seperti apapun datanya, dan bagaimanapun argumentasinya, intelek yang tersandera kepentingan hawa nafsu tidak bisa disembunyikan dihadapan siapapun apalagi dihadapan Tuhan.

Jika Tuhan sudah tidak lagi menjadi pertimbangan maka sirnalah kesadaran moral dan rusaklah tatanan kehidupan. Jika ini dibiarkan maka negeri ini akan hancur lebur ditelan zaman dengan catatan yang memalukan dan memilukan. Semoga tidak terjadi.

Masih ada harapan, masih ada kesempatan. Mari berusaha, mari bekerja, mari bersama-sama membangun bangsa. Sampai kelak kita bisa bertemu dengan wajah Tuhan yang tersenyum menyambut kehadiran kita semua Bangsa Indonesia. Semoga.*

*Imam Nawawi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel