Jangan Sekali-kali Remehkan Pertanian!



HARI ini engkau masih bisa tersenyum karena pertambangan masih mendatangkan devisa. Hari ini engkau bisa senang karena industri terus berkembang. 

Tetapi, masihkah engkau akan bahagia tatkala semua itu telah tiada? Tambang; batu bara dan minyak bumi kelak pasti tiada. Sudah siapkah engkau menghadapinya?.

Sebanyak apapun industri dimiliki, jika makanan harus impor, maka itu belum aman. Sebaliknya, tidak adanya industri tidak akan berpengaruh apapun jika stok makanan terjamin bahkan surplus. Secanggih apapun teknologi, manusia tetap butuh makan dan hidup sehat. 

Hal inilah yang belum disadari dengan baik oleh bangsa Indonesia. Sekalipun pertanian memiliki peran strategis dalam membangun perekonomian nasional, perhatian terhadapnya masih sangat memprihatinkan. Negeri tropis yang penuh aneka ragam tumbuhan yang sangat mungkin menjadi penyedia stok kebutuhan pangan dunia belum benar-benar menyadari akan potensinya yang sangat besar.

Belakangan baru muncul satu pewacanaan agar negeri ini kembali memperhatikan sumber kehidupan paling ampuh di dunia, yaitu pertanian. Provinsi Kalimantan Timur termasuk yang paling konsen dalam hal ini. Tentu ini satu langkah yang perlu didukung bersama. Karena masa depan Kaltim dan masa depan bangsa hanya bergantung pada sektor pertaniannya.

Di sini nampaknya kita tidak harus selalu memandang “tradisional” kehidupan orang-orang di zaman dahulu. Mungkin mereka tidak punya teknologi seperti kita sekarang. Tetapi mereka punya kemampuan mengelola sumber alam dengan baik, sehingga bisa eksis dengan dua hal utama kehidupan ekonomi; pertanian dan peternakan. Bahkan ada banyak hal inspiratif tersirat di sana jika kita benar-benar mau memikirkannya.

Cobalah Anda pelajari dan simak dengan seksama kisah dalam Al-Qur’an tentang Nabi Yusuf yang dijadikan sebagai Perdana Menteri Mesir untuk mengurusi soal pertanian. Di sana diceritakan bahwa paceklik selama 7 tahun dapat diatasi dengan cara menggalakkan program pertanian yang bersih, berkualitas, akuntabel, dan profesional.

Program pertanian di bawah pengawasan seorang Yusuf yang penuh rasa iman dan takwa kepada Tuhan menjadikan seluruh masyarakat Mesir terhindar dari bencana kelaparan dan kematian. Bahkan Mesir mampu memberikan perlindungan dari bahaya kelaparan dengan memberikan bantuan kepada penduduk Palestina dan sekitarnya. 

Artinya, Al-Qur’an sejak 14 abad silam telah memberikan kode penting kepada penduduk bumi untuk benar-benar memperhatikan masalah ekonomi berupa pertanian, peternakan, dan perdagangan. Pertanian yang baik akan mengantarkan penduduk negeri dalam kemakmuran dan kedamaian. Sebaliknya, pertanian yang buruk akan mengundang kemiskinan yang berujung pada kelaparan dan kematian.

Sebaliknya, pertanian yang buruk akan mengakibatkan peternakan yang tidak baik dan akhirnya akan terjadi impor yang berakibat pada lesunya perekonomian dalam negeri. Bayangkan, setiap menjelang Idul Fitri bangsa Indonesia harus impor beragam produk pertanian dan peternakan dari negara lain.

Untuk tahun ini pemerintah melalui Menteri Pertanian, Suswono telah menetapkan penambahan kuota impor daging sebesar 7000 ton untuk kebutuhan industri. 

Namun demikian, Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau, Teguh Boediyana, masih sangsi bahwa angka 7000 ton daging itu tidak akan masuk ke pasar konsumen langsung. 

Di sisi lain, penambahan kuota impor daging itu juga diprediksi akan membuat harga daging dalam negeri anjlok. Dan, situasi seperti  itu selalu terjadi setiap tahunnya. Dan, itu belum termasuk pada kebutuhan jenis sayur dan buah-buahan.

Potensi Pertanian Indonesia
Padahal kalau bicara potensi Indonesia sangat mungkin untuk menjadi lumbung perekonomian dunia. Apalagi Kalimantan Timur yang memiliki lahan begitu sangat luas. 

Sayangnya, belum ada pemikiran yang serius untuk benar-benar memanfaatkan anugerah Tuhan yang sangat besar ini. Pragmatisme industrialisasi menjadikan kita lupa akan pertanian dan peternakan yang sejatinya adalah urat nadi kehidupan bangsa.

Dari sisi kebutuhan, demand pasar terhadap produk pertanian dalam negeri saja itu sudah sangat luar biasa. belum kalau bicara potensi pasar luar negeri. Bayangkan untuk daging saja harus impor 7000 ton, itu pun masih satu segmen saja, industri. Demikian pula dengan kebutuhan gula. Kebutuhan industri terhadap gula berkisar pada angka 2,5 juta ton, itu belum kebutuhan gula masyarakat.

Atas fakta tersebut, semestinya pemerintah memiliki perencanaan sistematis berkesinambungan yang memungkinkan pertanian Indonesia, khususnya Kaltim dapat dibangun dengan sebaik-baiknya. Jika hal itu terwujud, kesejahteraan itu sudah di depan mata. Sebab kita bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri dari hasil pertanian sendiri. 

Jadi kita tidak perlu impor bahkan sangat mungkin Indonesia mengekspor hasil pertaniannya ke seluruh dunia, seperti China saat ini.

Bangun Kedaulatan Ekonomi
Entah bagaimana awalnya, Indonesia benar-benar tidak mampu bahkan “dicegah” untuk melindungi rakyatnya sendiri. Pemerintah yang punya otoritas penuh mengatur negara termasuk melindungi warga negaranya kini sudah tidak lagi dapat dilaksanakan. Aturan globalisasi dan IMF mereduksi peran dan otoritas pemerintah dalam menjalankan amanat negara.

Pemerintah seolah menjadi pelayan IMF dan tidak lagi menjadi pelayan rakyat. Akibatnya rakyat sering dirugikan dan pasti akan selalu mengalami kesulitan. IMF melarang pemerintah melakukan intervensi pasar. Bulog yang dulu mengawasi beberapa komoditas kini hanya berwenang untuk mengendalikan stok beras.

“Bulog punya peran yang sebenarnya strategis untuk mengontrol pasokan dan harga. Sayangnya, kewenangannya dipreteli. Bulog tak lagi mengontrol gula, kedelai, jagung, dan lain-lain, tetapi cuma beras. Itu pun dengan anggaran dan cadangan yang terbatas. Mestinya, Bulog masuk lagi ke bahan pokok dan mempunyai stok setara minimal 10 persen dari kebutuhan nasional,” ujar Tito Pranolo Direktur Center for Agricultural Policy Studies seperti dilansir Harian Kompas (17/7).

Lebih lanjut Tito menambahkan, “Setelah monopoli Bulog dicabut lebih dari 10 tahun lalu, mari kita lihat komoditas itu apakah kompetitif di pasar. Kalau kebijakan itu betul, komoditas kita jadi kompetitif. Yang terjadi? Segelintir orang yang menguasai stok,” ujarnya.

Mungkin kita tidak perlu menolak globalisasi tetapi juga tidak wajib membiarkan kondisi perekonomian nasional selalu berada dalam spekulasi yang tidak perlu. Bayangkan, setiap tahun rakyat selalu dipermainkan oleh naik turunnya harga. Bagi pejabat mungkin tidak berpengaruh, tetapi bagi rakyat itu sangat menyusahkan. Apa iya, pemerintah kalah dengan segelintir orang yang menguasai stok kebutuhan negara?. 

Tidak ada logika yang membenarkan hal tersebut. Oleh karena itu pemerintah harus benar-benar mewujudkan kedaulatan ekonomi. Boleh dengan mengakomodir regulasi global tetapi tetap dengan cara memberdayakan petani dalam negeri, sehingga stok kebutuhan nasional dapat disuplai dari hasil bumi sendiri. 

Atur kembali regulasi mengenai penguasaan stok, jangan sepenuhnya dilempar ke pasar. Kecuali pasar itu mengerti dasar negara kita dalam membangun ekonomi yaitu Ekonomi Kerakyatan. Jika tidak, untuk apa ada negara jika faktanya tidak berdaulat?. [ktc]

*Imam Nawawi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel