Hindari Panggilan "Kamu" dan Bagaimana Seharusnya Sapaan kepada Pasangan

ARTIS terkenal Nagita Slavina dikabarkan marah saat dipanggil oleh suaminya, Raffi Ahmad, dengan sebutan yang tidak biasanya.

Jika biasanya Nagita disapa dengan panggilan "mama" oleh suaminya, kali ini Raffi Ahmad, memanggil istrinya itu dengan sapaan "bunda" di salah satu acara televisi yang dibawakannya bersama.

Nagita pun meradang. Nampak seperti tidak terima. Nagita yang menggenakan cardigan pink tampak berwajah muram dan menatap sinis ke suaminya. Raffi pun terlihat mengklarifikasi insiden salah sebut itu. Tapi, Nagita tampak membuang muka dan ogah menyimak.

Terlepas dari kehebohan berita itu dan apakah cuma settingan belaka, namun tetap penting kita mengambil pelajaran dari kasus tersebut tentang bagaimana seharusnya bersikap kepada pasangan.

Seringkali interaksi antar pasangan lebih banyak berlangsung datar tanpa "bumbu penyedap" berupa sapaan yang menyenangkan. Padahal ini penting untuk menumbuhkan rasa saling percaya dan memiliki.

Untuk itu, inilah tips agar hubungan tetap terjalin dekat dan mesra meski Anda dan pasangan sama-sama sibuk bekerja.

1. Berikan sapaan terbaik
Jangan pernah pelit pujian untuk pasangan anda. Pujian yang baik adalah memanggilnya dengan sapaan terbaik yang disenanginya. Anda mungkin perlu melakukan "riset" kecil-kecilan untuk dapat mengetahui apa-apa saja yang disenanginya.

Kendati mungkin pasangan anda tidak terlalu ideal dari warna kulit, misalnya, jangan pernah meruntuhkan kepercayaan dirinya dengan memanggilnya "hai hitam". Atau dia berbadan gemuk dan bongsor, anda memanggilnya "hai, sini ndut".

Hormati pasangan anda sebagaimana anda ingin dihormati. Perlakuan untuk penghormatan ini harus berawal dari bagaimana sikap kita terhadap orang lain bukan saja terhadap pasangan.

2. Hindari panggilan "kamu"
Kata ganti "kamu" mungkin dianggap biasa khususnya bagi pasangan yang telah sangat dekat dan berpacaran lama. Tapi sebenarnya, sapaan "kamu" kepada pasangan rasanya hanya cocok diperagakan dalam film.

Bayangkan saja, ketika menyapa pasangan di hadapan anak-anak anda dengan kata "kamu". Maka anak-anak akan menemukan kosakata baru dan teladan payah tentang bagaimana menyapa orang lain.

Untuk anak-anak, sapalah mereka dengan menyebut namanya sehingga disitulah dia belajar memperlakukan orang lain dengan baik, yang, -pertama-tama- melalui sapaan yang simpatik.

Untuk panggilan kepada pasangan istri atau suami, sapalah dengan sebutan yang baik dan penghargaan seperti ucapan "sayang", "cinta", "adinda", "bunda", dan lain sebagainya. Anda tidak akan rugi dengan sapaan-sapaan yang menggodanya.

Di kota-kota besar, kata sapaan "kamu" untuk pasangan agaknya lumrah terlontar. Namun, untuk orang atau di daerah tertentu, panggilan tersebut terdengar superior, tak sopan, seperti marah, dan terkesan merendahkan.

Jadi, mulailah menyapa dengan panggilan-panggilan yang tak menyakitkan dan menyinggung perasaan meskipun hal itu bagi anda adalah hal yang biasa-biasa saja.

3. Pahami psikologi lawan bicara
Khususnya bagi wanita, sapaan bagi mereka layaknya sebuah perlakuan yang langsung mengenai sasaran. Karena itu, kata-kata yang keluar dari mulut jangan sampai menyakiti perasaan mereka yang rapuh.

Walaupun hanya berupa sapaan, jika hal itu dianggap tak pantas dan  tak menghargainya, wanita akan tersakiti. Sebab, pada dasarnya, wanita itu butuh perlindungan dan rasa nyaman. Dan itu bisa dimulai dari sapaan atau bahkan pujian.

Dan, ternyata, ada pujian tertentu yang paling disukai wanita atau setidaknya yang paling wanita ingin dengar dari pasangan.

Seperti kami dikutip dari laman beautyandtips.com, wanita itu senang dengan kata-kata pujian seperti “kamu terlihat cantik!”, “aku beruntung memilikimu”, “aku senang mengobrol denganmu”, atau kalimat "kamu memang yang terbaik”.

Mulailah membangun keintiman dalam hubungan anda. Dengan terbangunnya rasa saling memiliki dan menghargai semata-mata karena Allah Ta'aala, Insya Allah keluarga menjadi sakinah mawaddah warohmah. (UMMU ZAHIRAH)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel