Menimbang Produktivitas Puasa


TIADA terasa, Ramadhan kini berada di ambang pekan ketiga. Artinya dua pekan lamanya kita telah berpuasa, Alhamdulillah

Namun, ada fenomena yang tampak cukup menarik. Pada masa pertengahan menuju akhir Ramadhan umat Islam umumnya akan mengalami degradasi dalam beberapa hal.

Diantarnya adalah mulai banyak yang meninggalkan masjid, membuat daftar belanja yang hampir semuanya adalah benda-benda, kemudian bersiap diri menuju mall, dan berkeluh kesah jika di saat lebaran nanti apa yang diinginkannya belum bisa diwujudkan. 

Sebagian yang lain lebih tragis lagi. Mereka menjalani Ramadhan laksana bulan-bulan lainnya. Tidak ada peningkatan motivasi menuntut ilmu, sehingga memang tidak ada agenda membeli buku, menghadiri kajian ilmu. Yang ada adalah makan yang banyak saat berbuka dan sahur. Tidak ada pula motivasi untuk peningkatan kualitas diri untuk semakin disiplin, tanggung jawab, berprestasi, dan lain sebagainya. 

Tidur pagi, malas-malasan, ngobrol kesana-kemari masih menjadi tradisi. Sungguh puasa hanya bisa dilihat dari keadaannya yang tidak makan dan tidak minum. Selebihnya nihil, tidak ada perubahan. 

Lebih parah lagi, sebagian besar muda-mudi kita ternyata tidak bisa beranjak dari budaya berduaan di siang hari Ramadhan, padahal mereka secara kognitif tahu bahwa berpacaran itu dilarang dan berdosa. Di lain sisi, secara sembunyi-sembunyi masih ada yang menggunakan alat telekomunikasi (HP, FB, YM, bahkan Skype) untuk bermesra ria di dunia maya. Tragis.

Memanusiakan Manusia
Sebagai generasi modern, mestinya kita punya pertanyaan penting dan mendasar terkait puasa ini. Setidaknya lagu Bimbo yang digubah dari puisi Taufik Ismail tentang puasa mampu menjadi stimulus generasi muda saat ini untuk berpikir tentang mengapa kita harus berpuasa. [Dengarkan lagunya di sini]

Tradisi berpikir semacam ini harus dibangun dan dibudayakan. Tanpa budaya berpikir manusia kehilangan keistimewaannya sebagai makhluk terbaik di sisi Tuhan. Lihat saja hari ini, peradaban yang masih eksis apalagi menghegemoni adalah peradaban yang memiliki tradisi berpikir.

“Ada anak bertanya pada bapaknya, buat apa berlapar-lapar puasa. Ada anak bertanya pada bapaknya, tadarus tarawih apalah gunanya. Lapar mengajarmu rendah hati selalu. Tadarus artinya memahami kitab suci. Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi,” demikian lirik lagu Bimbo yang sederhana namun sarat makna. 

Mari kita kaji satu per-satu. Pertama, “Lapar mengajarmu rendah hati selalu”. Berarti puasa secara hakikat menghendaki manusia mengendalikan egoisme dalam diri untuk kemudian mengutamakan kebersamaan, kepedulian, dan kasih sayang terhadap sesama. Tanpa puasa, omong kosong manusia bisa berempati dengan mereka yang miskin, yang hidup susah, dan kadang makan kadang tidak.

Pertanyaannya kemudian, sejauh mana urgensi kita perlu memiliki sifat rendah hati. Mari kita kaji secara filosofis. Manusia itu harus berbagi karena sebenarnya setiap orang telah diberikan jatah rizki masing-masing oleh Tuhan. 

Secara fisik manusia hanya memiliki tempat penyimpanan makanan (baca: perut) yang tidak besar. Tidak akan pernah ada orang yang mampu memakan nasi enam piring sekaligus. Tetapi tanpa pernah mengosongkannya dengan makanan (puasa) maka manusia akan kehilangan akal sehatnya dan dia akan menjadi sosok makhluk yang lebih rakus dari kera, dan lebih buas dari buaya. 

Di sini dapat kita pahami dengan benar dan jelas mengapa korupsi itu salah besar. Selain karena dalam normativitas agama dikategorikan sebagai tindakan haram yang mendatangkan dosa besar. Secara filosofis tindakan mencuri itu menunjukkan dirinya gagal menjadi manusia sejati. Ia hanya manusia secara fisik, tapi pikiran, hati dan perasaannya tidak lebih baik dari binatang buas yang tak mengenal norma, etika apalagi agama. 

Jadi lapar (puasa) mengingatkan manusia untuk peduli terhadap sesama bukannya egois. Jika ternyata di bulan suci Ramadhan semacam ini kita masih tidak peduli terhadap sesama, maka tanyakanlah dalam dirimu sendiri, ‘Kalau begitu, untuk apa saya berpuasa?’

Kedua, “Tadarus artinya memahami kitab suci”. Puasa tidak bisa dipisahkan dengan tadarus. Kalau kita berjalan-jalan ke berbagai wilayah di Jawa Timur maka kita akan temukan banyak sekali masjid, musholla yang setiap sore, bahkan ada yang sampai pagi hari terus-menerus membaca Al-Qur’an. 

Jadi, orang yang berpuasa sudah semestinya membangun interaksi yang berkualitas dengan Al-Qur’an. Jika tidak maka puasa yang lakukan akan kehilangan kesempurnaannya. 

Tradisi tadarus di Jawa Timur itu merupakan tradisi yang perlu ditiru, dipelihara dan terus ditingkatkan kualitasnya. Sebab bagaimanapun, paham atau tidak paham dengan makna bacaan Al-Qur’an tetap ada janji kemuliaan dari Tuhan. Jangankan bagi yang membaca, mereka yang mendengarkannya saja akan mendapat pahala kebajikan.

Lalu pertanyaannya kemudian, mengapa harus memahami kitab suci. Kitab suci adalah petunjuk, pelajaran, bahkan obat. Apabila kita berpuasa, sudah punya kepedulian terhadap sesama namun tidak meningkatkan kualitas diri berdasarkan petunjuk Al-Qur’an, maka itu juga tidak akan sampai pada kebaikan yang sempurna. 

Selain itu secara normatif, Al-Qur’an itu diturunkan pada Bulan Ramadhan. Berarti sudah jelas, bahwa Ramadhan harus disatukan dengan Al-Qur’an, yakni dengan senantiasa berupaya memahami dan mengamalkannya. 

Ketiga, “Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi”. Satu perintah yang sangat sering diulang-ulang di dalam kitab suci adalah sholat. Sholat sebanyak 17 rakaat itu biasa dilaksanakan setiap hari di sepanjang tahun. 

Maka, di Bulan Ramadhan adalah sangat baik jika kita menambah amalan sholat di bulan suci dengan mendirikan sholat tarawih. Jadi sholat tarawih akan sangat membantu penyempurnaan kualitas iman, amal, dan ihsan kita sebagai hamba Allah.

Tapi, lucunya, masih banyak orang puasa tetapi tidak sholat. Orang semacam ini tentu tidak memahami dengan baik mengapa ia berpuasa. Dan, tiadalah baginya selain lapar dan dahaga semata. Padahal sholat adalah perintah yang tidak bisa ditunda apalagi ditinggalkan. Jika kita berpuasa namun gagal melakukan ketiga hal di atas, sebenarnya kita masih harus memahami dengan benar mengapa kita harus puasa. 

Tanpa itu kita akan kehilangan sifat kemanusiaan kita sendiri. Lihatlah pejabat yang kian hari kian gila dengan harta, tahta, dan wanita. Sebenarnya mereka tidak bisa memberikan apa-apa sekalipun ikut puasa dan rajin melakukan safari Ramadhan. Hati mereka buta dan raga mereka hidup hanya untuk benda-benda. Kalau demikian, masihkah ia dikatakan manusia?

Intropeksi Puasa
Puasa dalam pengertian umum adalah mengendalikan hawa nafsu. Sayyidina Ali, seorang sahabat muda Nabi, mengatakan bahwa hanya dengan puasa manusia akan bisa menjadi hamba yang takwa. Dia berkata, “Puasa adalah penjara hawa nafsu. Dan, orang yang puasa adalah orang yang cerdas”.

Harus jujur kita lihat diri sendiiri, benarkah selama puasa dua pekan lalu ada peningkatan kecerdasan luar biasa dalam diri kita? Apabila ada peningkatan, apa indikatornya, berapa skornya, dan bagaimana meningkatkannya?

Jika mengacu pada statement Sayyidina Ali berarti peningkatan yang paling utama adalah peningkatan kecerdasan. Cerdas dalam pengertian semakin mengenal Tuhan dengan benar dan semakin menjadi manusia yang paling takut kepada-Nya. Jika tidak maka puasa kita sekali lagi belum sempurna.

Kecerdasan itu hanya akan diperoleh manakala kita membiasakan diri untuk berpikir. Pemikir kontemporer Suharsono dalam salah satu ungkapannya mengatakan bahwa tanpa berpikir manusia tidak akan mampu melihat kebenaran dan keindahan ajaran Islam. Termasuk di dalamnya Al-Qur’an.

Al-Qur’an hanya akan menampakkan ‘keseksiannya’ pada manusia yang mendekatinya secara filosofis, epistemologis dan logis. Tanpa itu (berpikir filosofis, epistemologis, dan logis) Al-Qur’an hanya akan menjadi tontonan dan tidak akan pernah menjadi tuntunan. Di sini kita akan mengerti mengapa Dhahak bin Muzahim mengatakan seperti ini; 

“Kalaulah bukan karena membaca Al-Qur’an, mendingan aku sakit. Ditanyakan, mengapa? Sebab sakit menghilangkan kesalahan dan dosaku, sehingga tercatat amal shalihku sebagaimana aku bisa mengamalkannya”.

Semua itu patut kita introspeksikan dalam diri pribadi. Karena fakta sejarah telah menunjukkan bahwa manusia-manusia yang produktif-inspiratif di zaman dulu adalah mereka yang tetap "kekal" di zaman kita sekarang. 

Bahkan, sosok pribadi yang akan tetap "hidup" di zaman mendatang adalah orang-orang yang getol mengukur diri dengan senantiasa memahami kitab suci, terutama di bulan suci seperti ini tatkala mereka sedang berpuasa.*

Imam Nawawi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel