Jangan Jadi Penakut!

SEJATINYA tak ada yang perlu kita takutkan. Saya pun sengaja memakai judul di atas untuk membahas masalah ini. Bukan apa-apa, kunci keberhasilan seseorang itu terletak pada keberanian dan sejauh mana ia siap menderita. 

Namun ironisnya, sekalipun semua memahami hal tersebut, tetapi sangat langka manusia yang benar-benar siap untuk menghadapi rintangan. 

Maka, saya benar-benar terkejut ketika kemarin membaca buku karya Dr. Adian Husaini yang berjudul Pendidikan Islam Membentuk Manusia Berkarakter & Beradab. Apa yang mengejutkan?

Di dalam buku tersebut (hlm 36), pakar peradaban itu mengutip pendapat seorang budayawan, Mochtar Lubis, yang berbicara tentang karakter bangsa Indonesia di Taman Ismail Marzuki, 35 tahun silam.

Mochtar Lubis menjelaskan bahwa ciri-ciri umum orang Indonesia sebagai berikut: munafik, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, masih percaya takhayul, lemah karakter, cenderung boros, suka jalan pintas, dan sebagainya.

Mungkin tidak semua orang sepakat dengan budayawan tersebut, tetapi kini memang saatnya kita membuka diri, berani jujur dan siap melakukan perubahan. Bahwa apa yang disampaikan budayawan tersebut harus kita respon secara serius.

Di sini saya akan ambil tiga poin saja dari beberapa ciri yang digambarkan oleh Mochtar Lubis tersebut. Pertama, cenderung boros. Orang Indonesia suka berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta. Kemudian membangun rumah mewah, mobil mewah pesta besar, suka barang impor, main golf, singkatnya suka kepada apa saja yang serba mahal.

Kedua, kurang kuat dalam mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Sangat mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk ‘survive’ (keuntungan) bersedia mengubah keyakinannya. Makanya jangan heran dengan gejala pelacuran intelektual yang amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia.

Ketiga, suka tidak bekerja keras alias bermalas-malas. Orang Indonesia sangat sulit secara suka rela bekerja keras, kecuali kalau terpaksa. Seperti mudah mendapat gelar sarjana, supaya segera dapat pangkat, dan dari kedudukan berpangka cepat bisa menjadi kaya. Jadi priyayi, jadi pegawai negeri adalah idaman utama, karena pangkat demikian merupakan lambang status yang tertinggi.

Re-Code
Satu-satunya cara terbaik agar kita dan generasi muda sekarang dan akan datang tidak terseret pada karakter negatif itu, adalah dengan melakukan perubahan diri. Dan, upaya perubahan diri itu harus kita jalani dengan cara siap menderita.

Dalam bahasa pakar manajemen dari UI, Renald Kasali, kita harus melakukan Re-Code, atau perubahan DNA. Yaitu merubah cara berpikir kita menjadi lebih terbuka, positif dan solutif. Setiap upaya perubahan menuntut adanya kesiapan diri secara utuh, meliputi intelektual dan mental sekaligus.

Mengapa demikian, karena melakukan perubahan di Indonesia yang menurut Renald Kasali masyarakatnya masih bertipe komunal, sungguh tidak mudah.

Setiap ada pembaharu -biasanya dari kalangan muda- umumnya akan dipandang sebagai sesuatu yang mengancam dan menentang apa yang sudah ada. Jelas, pandangan seperti ini ada pada mereka yang sudah tidak muda alias orang berusia tua, yang notabene merasa lebih berjasa, lebih berpengalaman, dan lebih merasa berhak untuk didengarkan.

Dalam situasi seperti itu, menurut Renald, dalam bukunya Re-Code (hlm 14) pembaharu akan dikucilkan dan dianggap sebagai lawan. Disinilah setiap pembaharu akan benar-benar teruji kualitasnya. Apakah dia akan beradaptasi dengan orang tua yang salah paham atau terus bertahan dengan ide dan gagasannya.

Jika dia bertahan, maka hantaman umpatan, cemoohan, dan pengucilan akan bertubi-tubi menyerang telinga, hati dan pikirannya. Tetapi, bagaimanapun, ide dan gagasan itu jangan pernah ditukar dengan sakitnya perasaan karena celaan dan umpatan. Teruslah bertahan, karena itu adalah nutrisi yang bagus untuk memompa semangat juang mereka yang merindukan perubahan.

Tak Lelah Untuk Kebaikan
Lalu, bagaimana mewujudkan itu semua? Tidak ada jalan lain, kecuali dengan usaha tak kenal lelah, tanpa rasa takut, kesabaran, dan doa yang tak putus.

Tidak seorang pun yang meraih sukses melainkan harus menerima umpatan, celaan, cemoohan bahkan mungkin pengucilan dan pengusiran. Itulah yang dialami oleh Nabi Muhammad ketika membawa ajaran Islam.

Padahal jelas, Nabi Muhammad sejak kecil diakui oleh masyarakatnya sebagai anak yang jujur, pemuda yang berakhlak, dan tidak pernah memikirkan diri sendiri. Tetapi, ketika ajakan menuju kebaikan disampaikan kepada masyarakatnya, seketika Nabi Mulia itu dicaci dan dibenci.

Hal semacam ini sudah menjadi sunnah kehidupan. Tidak saja pada mereka yang ingin melakukan perubahan besar dan mendasar. Pada mereka yang akan merubah tradisi saja, pasti akan menghadapi batu sandungan yang cukup menyedihkan.

Coba perhatikan, jika ada teman sekelas yang tadinya suka bolos, kemudian dia ingin merubah diri dengan rajin belajar, tekun berlatih, dan tidak mau lagi ikut-ikutan kegiatan yang tidak berguna. Seketika umpatan dan celaan akan mengarah padanya. Sok pintar, emang mau jadi apa, dan sebagainya.

Pernah suatu ketika, saya berkesempatan dialog dengan seorang pemikir HMI-MPO yang sangat dikagumi oleh kader mudanya hingga sekarang. Dia berkisah, ketika pertama kali belajar menulis dan terus menulis, salah seorang temannya berceloteh. “Siapa yang mau baca tulisanmu, serius amat menulis?”

Ucapan tersebut berhasil disikapinya secara tepat. Dia semakin giat membaca dan terus berlatih menulis. Dan, kini dia berhasil menjadi pemikir yang disegani di negeri ini. 

Uniknya, dia bisa menjadi pemikir, tanpa harus kuliah di jurusan filsafat apalagi sampai doktor. Kok bisa, ya karena beliau punya tradisi intelektual yang luar biasa. Pernah ia membaca tuntas buku setebal 500 halaman hanya dalam sehari perjalanan di atas bus!.

Jangan Takut Menderita
Coba kunjungi orang yang sukses dan tanyakan apa yang membuat mereka berhasil. Pasti mereka akan menceritakan segala hal yang membuat mereka terjatuh, sedih dan menderita. Mengapa demikian, karena kebahagiaan yang diraihnya sekarang adalah buah dari keberaniannya menghadapi penderitaan.

Sahabat muda, jangan pernah ada rasa takut menderita. Penderitaan itu harus kita hadapai, jika kita benar-benar ingin meraih sukses dan bahagia. Berpikir pragmatis dengan menghindari masalah karena ingin cepat selesai adalah tindakan bodoh yang akan membunuh akal dan nurani kita sendiri. Akibatnya kita akan terjebak menjadi manusia kerdil yang memelihara karakter negatif yang menistakan.

Pahami dan hayati dengan sepenuh hati, bahwa setiap sukses memang menghendaki pengorbanan. Dan, pengorbanan itu hanya bisa kita tunaikan manakala ada penderitaan yang siap mengiringi kehidupan kita. Jadi, untuk apa takut menderita, jika akhirnya sukses dan bahagia. Selamat berjuang.*

______
*) IMAM NAWAWI, 
penulis adalah kolumnis. Ikuti juga cuitannya di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel