Remaja Menjadi Pemimpin, Kenapa Tidak?!

DALAM sebelumnya, kita telah membahas soal istilah ABG yang ternyata secara signifikan tidak bermanfaat positif bagi kelompok usia pelajar dan secara khusus bagi sekolah dan keteraturan sosial.

Di sisi lain, istilah ABG ternyata membuat kelompok usia pelajar lupa akan peran, fungsi dan posisinya dalam satu dekade setelah usianya yang sekarang sebagai seorang pemimpin. Padahal, peran, fungsi dan posisi itu, disadari atau tidak pasti akan ditemuinya.

Kelupaan inilah yang harus dibuang jauh dalam kamus para pelajar tanah air, sehingga mereka tidak lagi bangga dengan istilah yang justru menjerumuskan eksistensi dan masa depannya sendiri.

Tetapi sebaliknya, sadar dan sabar dalam memanfaatkan waktu remajanya sebagai momentum terbaik guna menempa diri untuk menjadi pemimpin masa depan.

Untuk itu, dalam catatan ke 74 in saya ingin mengajak adik-adik remaja, terkhusus kaum pelajar untuk membahas masalah kepemimpinan, mulai dari arti hingga aplikasi.

Kepemimpinan
Mungkin istilah ini –kepemimpinan- agak asing atau mungkin kurang begitu dimengerti oleh sebagian remaja. Tetapi ini adalah perkara penting bagi semua remaja, terkhusus dalam mengisi hari untuk menjemput masa depannya nanti.

Kepemimpinan bukanlah soal jabatan struktural semata dalam sebuah organisasi, baik sipil, militer maupun pemerintahan. Tetapi kepemimpinan adalah soal pengaruh, tidak lebih dan tidak kurang. Itulah ungkap John C. Maxwell dalam buku populernya "The 360° Leader".

Berbicara pengaruh berarti berbicara soal visi, skill dan kesempurnaan niat seseorang yang dibina sejak dini. Seperti Muhammad ketika masih anak-anak dan remaja. Disaat kejujuran tidak menjadi pilihan banyak anak remaja, ia berusaha keras menjadi remaja yang jujur, hingga masyarakat pun mengenalnya sebagai al-amin, manusia terpercaya.

Maka tidak heran, jika keberadaannya senantiasa memberi pengaruh positif. Bahkan tidak saja di zamannya, tetapi saat ini juga dan tentu hingga waktu berhenti berputar.

Dengan demikian, kepemimpinan adalah suatu pilihan yang kita baut sendiri untuk menjemput masa depan. Jadi, sekali lagi, bukan soal tempat duduk, entah sebagai anggota dewan, menteri atau yang lainnya.

Pekan lalu, seorang teman menulis status di akun FB-nya demikian, "Di negeri ini banyak sekali ketua dan pejabat, tetapi hampir tidak ada yang mampu menjadi pemimpin".

Ungkapan itu saya rasa sangat tepat, karena tidak setiap ketua atau pejabat pasti kapabel menjadi seorang pemimpin. Dan, itu sudah banyak bukti. Sekiranya memang kapabel tentu akan ada banyak perubahan positif di negeri ini, faktanya, ya masih sangat jauh.

Bukan Popularitas
Ketika kepemimpinan bertumpu pada soal pengaruh, maka hal ini jelas tidak mudah. Artinya tidak boleh ada seseorang diangkat sebagai pemimpin sementara ia tidak memiliki jejak rekam yang baik dalam masa hidupnya yang diakui memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Tetapi hukum ini dinegasikan dalam sistim demokrasi negeri ini. Siapa saja, asal populer bisa jadi anggota legislatif. Situasi seperti ini tentu akan dimanfaatkan oleh banyak selebritis baik yang di entertaint maupun di bidang lainnya. Termasuk mereka yang punya modal kapital untuk meraup suara.

Hal ini tentu sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan. Seorang pemimpin tidak bisa disulap dengan popularitas dan uang. Tetapi dengan kredibilitas yang telah teruji waktu yang diakui oleh masyarakat.

Oleh karena itu, tugas generasi muda saat ini tidak ringan. Semua harus bertanggung jawab bagaimana kelak dirinya mampu memberi pengaruh positif kapan dan dimanapun berada. Jika tidak, maka proses kaderisasi kepemimpinan bangsa akan terhenti. Jelas, ini sangat berbahaya.

Penempaan Tiada Akhir
Pakar kepemimpinan Amerika dan juga penulis terlaris bidang kepemimpinan, John C. Maxwell mengungkapkan bahwa tidak ada cara terbaik untuk menjadi seorang pemimpin selain dari menempa diri terus menerus alias tiada henti atau tanpa akhir.

Seorang pemimpin adalah sosok manusia pembelajar seumur hidup. Ia memiliki visi yang jelas, pemikiran yang cemerlang, sekaligus keterampilan yang mengagumkan serta kebiasaan yang membanggakan. Jelas ini tidak bisa dibangun dalam tempo cepat.

Inilah hal terpenting yang harus dipahami para pelajar negeri ini. Jangan sampai kita seperti apa yang disampaikan oleh pelatih basket Amerika, John Wooden, "Saat kesempatan menjadi pemimpin itu tiba, kita sudah terlambat untuk mempersiapkan diri".

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, jika kita ingin menjadi pemimpin atau manusia yang berguna bagi bangsa dan negara, sebagaimana sering diungkapkan oleh pelajar negeri ini ketika ditanya soal cita-cita, maka kita harus belajar seawal mungkin, sebelum benar-benar duduk sebagai seorang pemimpin. Dan, belajar itu tidak boleh terhenti, kecuali oleh kematian.

Percaya Diri
Mungkin ada yang senyam-senyum (tersenyum berkali-kali tanda kurang percaya diri) membaca catatan saya tentang kepemimpinan ini. "Gimana mau memimpin, wong saya hanya anggota".

Percayalah, tidak satu pun orang menjadi pemimpin besar kecuali dia telah percaya diri dengan sebenar-benarnya bahwa dirinya telah mampu memimpin diri sendiri. Jadi, tahap awal untuk menjadi pemimpin adalah sanggup memimpin diri sendiri.

Artinya, sejak awal sudah memiliki kemandirian dalam mengatasi berbagai tantangan kehidupan. Di saat yang sama, ia bergerak atas landasan akal sehat, bukan sekedar senang alias happy.

Mampu mengatur waktu sedemikian rupa, sehingga dalam perjalanan waktu, ia senantiasa mampu memproduksi sesuatu bahkan berprestasi tinggi, sehingga banyak dikagumi oleh teman-teman, orang tua, guru dan tentunya masyarakat.

Jadi, kalau ada yang hanya senyam-senyum tidak pede, sebaiknya segera berhenti dan tersenyumlah dengan girang. Karena peluang menjadi pemimpin itu sangat besar yang bisa dimulai kapan saja dengan bersegera memimpin diri sendiri.

"Jika Anda tidak percaya diri bisa memimpin (memengaruhi) diri sendiri. Lantas, argumen apa yang membuat Anda yakin untuk bisa memimpin orang lain?" Itulah keheranan John C. Maxwell kepada orang yang tidak percaya diri dalam memimpin dirinya sendiri.

Taqarrub
Sesi akhir dari bahasan ini adalah taqarrub (mendekatkan diri kepada Tuhan). Tidak ada jalan terbaik selain menjalin komunikasi yang intens dengan Allah SWT.

Hanya rasa butuh yang utuh, takut yang kuat dan harap yang besar kepada Tuhan, yang membuat seseorang mampu menjadi pemimpin besar, yang dirindukan dan dikenang manusia sepanjang zaman.

Hanya dengan taqarrub saja, seorang pemimpin tidak akan berani untuk ingkar janji apalagi korupsi.
Hanya dengna taqarrub saja, seorang pemimpin akan bertindak di atas kebenaran dan keadilan. Jika ada pemimpin yang tidak taqarrub, jelas ia akan rugi dan merugikan.

Mari kita belajar dari Nabi Muhammad, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, yang tidak saja membanggakan manusia di zamannya, tetapi kita semua saat ini dan selanjutnya generasi yang akan datang. Bahkan hingga detik ini, pengaruhnya sangat terasa sekali.

Mereka itulah para pemimpin yang paling mulia di muka bumi ini. Jika benar, kita semua ingin menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara, maka bersiaplah menjadi pemimpin sejak sekarang.

Pemimpin sejati, adalah yang lebih mendahulukan kewajiban daripada hak. Lebih mengutamakan rakyat dari diri sendiri. Bukan mengejar jabatan, tetapi menebar keberkahan dengan skill dan ilmu yang kita miliki dan akhlak yang mulia.

Sungguh, jalan untuk memperbaiki bangsa ini masih sangat luas. Tidak harus selalu menjadi pejabat atau apa pun. Tetapi, cukup menjadi manusia yang berpengaruh positif bagi pembangunan bangsa dan negara.

Melalui apa itu? Apa saja, intinya bisa berpengaruh dan menginspirasi banyak orang untuk lebih maju dan berprestasi. Itulah pemimpin sejati. Selamat berjuang.*

______
*) IMAM NAWAWI,
penulis adalah kolumnis. Ikuti juga cuitannya di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel