Iklan

Bukan Bigdata dan Bisa Programming, Inilah yang Menentukan Kamu Survive

Admin
Selasa, Agustus 02, 2016 | 09:20 WIB Last Updated 2017-02-27T22:42:55Z
Foto: Forbes
PERTUMBUHAN teknologi digital kian tak terbendung. Tak terkecuali di Indonesia. Tak heran banyak orangtua yang mendorong anak-anaknya berkecimpung di wilayah ini.

Penetrasi digital memang tengah digilai. Anak-anak muda kikinian merasa sangat bangga apabila bisa bekerja di perusahaan teknologi.

Indikator dari YouGov, misalnya, menemukan bahwa mayoritas generasi millennial ingin bekerja di Google dengan indeks peringkat mencapai 57.9, atau jauh lebih tinggi dibanding minat bekerja di Amazon dan Netflix yang membuntuti tepat di bawahnya.

Jajak pendapat YouGov yang dirilis April 2016 lalu menunjukkan tingginya minat anak muda bekerja di perusahaan teknologi. Presentasi selanjutnya YouTube 48.5 persen, Microsoft 44.6 persen, Samsung 44.3 persen, dan Apple 41.9 persen.

Perusahaan favorit generasi millennial untuk bekerja © 2016 Statista


PENTING DAN MENENTUKAN 
Namun, ada yang tak boleh kita lupakan. Kemahiran dalam mengoperasikan perangkat teknologi tak lantas kemudian menentukan seseorang bisa bekerja di perusahaan bergengsi atau di institusi lainnya.

Bukan pula apa yang disebut dengan mahadata (bigdata) atau data technology (DT) yang disebut Jack Ma sebagai sistematika digital masa depan yang tidak saja menganalisa data untuk memahami orang lain, tapi juga mendatangkan banyak uang.

Lalu, apa yang menentukan untuk dapat bertahan (survive) dan menunjukkan eksistensi diri?

Konsultan komputer, Michael S. Sunggiardi, memiliki pendapat menarik soal ini. Michael tegas mengatakan kecakapan operasional saja tidak cukup. Kompetensi tersebut harus didukung dengan aspek-aspek mendasar lainnya.

Michael S. Sunggiardi


Dikutip Pinopini.com dari akun Facebook resmi miliknya, Selasa (02/08/2016), Michael mengatakan tidak semua anak sekolah harus pinter PHP atau programming komputer. Tidak semua anak sekolah harus pinter teknik elektro.

Tetapi, tegas Michael, semua anak sekolah harus mampu ber-kolaborasi, karena abad berikutnya adalah abad kolaborasi. Bekerja sama untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan banyak manfaatnya.

"Semua anak sekolah juga harus kreatif, karena kalau belajar "as is", kita menjadi bangsa pengikut yang hanya bisa kasih jempol atau membangga-banggakan orang lain, tanpa mampu berbuat sesuatu yang bermanfaat," katanya.

Dan terakhir, kata Michael, semua anak sekolah harus mampu berfikir logika, yakni berpikir dengan menggunakan solusi dari kaidah-kaidah yang sudah ditemukan oleh orang lain dan tidak berada di awang-awang alias ngawur.

Kolaborasi yang ditopang dengan kemampuan adaptasi yang baik serta didukung kreatifitas, berfikir logis, dan kompetensi operasionalisasi perangkat yang selaras, maka ini akan melahirkan sumber daya yang siap tarung.

Dan, jangan lupa juga, di belantara maya ini kita tetap harus menomorsatukan Allah Ta'ala sebagai Dzat Maha Segalanya.

Sebab, sejatinya, kemampuan yang kita miliki semua berasal dari-Nya. Dan, persembahkan semata untuk-Nya dalam bentuk kebermanfaatan untuk sesama. (NUGROHO)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bukan Bigdata dan Bisa Programming, Inilah yang Menentukan Kamu Survive

Trending Now

Iklan