Bahaya Umur Masih Muda Tapi Gemuk Badan Menggila, Ini Alasannya

KEGEMUKAN nampaknya telah mewabah di hampir semua tempat. Hal itu diantaranya karena dipengaruhi fenomena masa kini dimana semua serba instan mempengaruhi gaya hidup masyarakat modern.

Tidak saja teknologi yang dapat dengan cepat memudahkan kita melakukan serta mendapatkan apa saja, makanan cepat saji (fastfood) pun semakin memanjakan kita kendati kandungannya tidak selalu terjamin higienis bahkan boleh jadi sarat dengan kandungan yang bisa memicu kegemukan.

Yang lebih mengkhawatirkan, gejala berat badan berlebihan kini telah menjangkiti tidak saja usia non-produktif antara usia 40-60, tetapi juga telah menggejala hebat di kalangan anak-anak muda bahkan sebelum usia 20-an tahun.

Berat badan berlebih atau obesitas di usia muda nyatanya sangatlah berbahaya dan berdampak buruk pada kehidupan Anda. Jika terlambat ditangani, Anda bisa saja terserang kanker. Bahkan, penyebab mati muda.

Berat badan berlebihan dan penyakit kanker ternyata sangat berkorelasi. Apalagi sebuah temuan teranyat baru-baru ini menegaskan hal tersebut dimana diketahui bahwa kegemukan pada remaja meningkatkan risiko sejumlah kanker.

Tim peneliti dari National Cancer Institute Amerika Serikat baru-baru ini menemukan kegemukan pada usia 20-an dapat meningkatkan risiko kanker kerongkongan dan perut bila bobot yang bersangkutan makin bertambah dari waktu ke waktu. Laporan ini didasarkan atas analisis pada data lebih dari 400.000 orang.

Risikonya yang ditimbulkan tak tanggung-tanggung, yaitu mencapai 60-80 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang bisa mempertahankan berat badannya hingga beberapa waktu ke depan.

Kendati begitu, risiko terbesar akan dihadapi oleh individu yang sudah mengalami kegemukan di usia 20 dan obesitas di usia 50 tahun atau meningkat dari tahun ke tahun, yaitu tiga kali lipat.

"Temuan ini menggarisbawahi pentingnya program pengendalian berat badan untuk mengurangi risiko kedua jenis kanker yang tingkat fatalitasnya tinggi," ungkap ketua tim peneliti, Jessica Petrick dari U.S. National Cancer Institute di Bethesda dikutip Keluargapedia dari CBS News.

Petrick menjelaskan, kelebihan berat badan memicu gangguan pada asam refluks dan heartburn yang lama-kelamaan akan mengakibatkan kanker jika dibiarkan atau tidak tertangani.

"Kondisi semacam ini juga dapat mengubah kadar hormon seperti estrogen dan testosterone, termasuk insulin yang sama-sama dapat mengakibatkan peradangan, padahal kesemuanya ada kaitannya dengan peningkatkan risiko kanker," lanjut Petrick.

Menanggapi studi ini, Dr Patrick Okolo dari Lenox Hill Hospital, New York City mengatakan, temuan ini menambah bukti adanya keterkaitan antara kenaikan berat badan dengan risiko kanker.

"Jadi risiko kankernya tidak hanya pada orang yang sudah gemuk sepanjang waktu, tetapi juga yang beratnya terus naik. Untuk itu kita harus melakukan banyak hal agar bisa mempertahankan bobot sehat kita," katanya.

Meski demikian, kanker kerongkongan dan kanker perut terbilang masih langka, termasuk di Amerika Seirkat.

Namun tingkat keberlangsungan hidup untuk pasien kanker kerongkongan maksimal hanya lima tahun dan peluangnya pun hanya 18 persen karena jenis kanker ini biasanya baru terdiagnosis di stadium lanjut.

Begitu pula dengan kanker perut, dengan tingkat keberlangsungan hidup selama lima tahun hanya mencapai 30 persen. (NURSELINA)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel