Heboh Bunuh Diri Sambil LIVE di Facebook, Waspada Bystander Effect!

JAGAT maya hari ini sedang dihebohkan oleh kelakuan orang yang sulit sekali diterima nalar sehat. Orang yang dilaporkan bernama Pahinggar Indrawan ini berusia  35 tahun tinggal di Jagakarsa, Jakarta Selatan.

HI melakukan video live bunuh diri di akun pribadi Facebook miliknya. Pria tersebut dua kali live di Facebook pada Jumat (17/3/2017) sekitar pukul 10.00 WIB.

HI mengenakan kaus putih itu awalnya curhat di video live pertama 1 menit 11 detik. Sementara itu, video live yang kedua berdurasi 1 jam 46 menit.

Sepanjang video live itu pula Indra juga mengakhiri nyawanya dengan menggantung diri di tali tambang yang telah sediakan. Semuanya, tersiar live!.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa sepanjang video live yang dilakukan pria ini, tak satupun teman (friends) Facebook atau kerabatnyasegera melakukan tindakan.

Mengapa tak ada tetangga atau setidaknya teman Facebook yang mengenalnya melakukan upaya pencegahan misalnya dengan menghubungi orang terdekat dari lokasi kejadian. Padahal, HI live dengan durasi relatif cukup lama sebelum kemudian menggantung diri.

Ataukah, jangan-jangan tingkah awal HI yang mau bunuh diri itu dianggap iseng-iseng belaka.

Gejala copycat suicide?

Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak LPA Indonesia, Reza Indragiri Amriel, mempertanyakan apa yang dilakukan oleh friends Facebook pelaku bunuh diri pada saat melakukan aksi tersebut.

"Jangan-jangan ini wujud bystander effect," kata Reza melalui pernyataan tertulis kepada Keluargapedia.com, Jum'at malam (17/03/2017).

Bystander effect, yakni semakin banyak orang melihat kejadian tragis, semakin rendah kecenderungan orang untuk menolong.

Dulu, kata Reza, bystander effect terjadi di dunia nyata. Sekarang, hal ini terjadi di dunia maya.

Reza mengimbah untuk tidak menonton aksi tersebut, sebab, menurutnya, hal itu bisa saja mempengaruhi sebab kelakuan tersebut bisa dengan sangat mudah menular atau suicide contagion. 

Menurut Reza, aksi dalam video tersebut mendorong copycat suicide. Atau, orang yang mengakhiri hidupnya bukan karena depresi kronis, tetapi lebih karena kurang wawasan dan terinspirasi oleh aksi yang pernah ditonton sebelumnya (peniruan).

"Kita boleh bersedih, merasa kehilangan. Tapi demi kepentingan bersama, pesan yang paling harus kita garis bawahi adalah aksi tersebut adalah salah! Salah! Salah! Jangan ditiru," tegasnya memungkasi.

Curhatan miris sebelum gantung diri
Sebelumnya seperti diwarta media, Seorang pria dengan akun Facebook Pahinggar Indrawan melakukan video live bunuh diri di Facebook miliknya. Pria tersebut dua kali live di Facebook pada Jumat (17/3/2017) sekitar pukul 10.00 WIB.

Pada video pertamanya, Indra mengaku ditinggalkan oleh istrinya. Bukan hanya itu, dia juga mengaku ditinggalkan oleh anak-anaknya.

"Gue cinta mati sama dia, ya nggak tau kenapa emang pun jodohnya juga kali sekarang. Jadi sekarang dia pergi nggak tau ke mana ninggalin gue sama anak-anak. Susah juga sih jelasinnya gue. Gue sekarang pun nggak tau mau apa, gue juga bimbang," ujarnya.

"Sebenernya gue gak berani. Kita lihat aja. Mungkin gue akan siarin langsung. Kalau gak ya hanya video kenang-kenangan untuk istri gue aja," curhatnya.

Dari video yang tayang di akun Facebook-nya, sebelum PI melompat dari kursi dan meregang nyawa hingga meninggal dunia, PI sempat mengucapkan kata-kata terakhir yang berisi kekecewaannya pada rumah tangganya.

Tayangan video bunuh diri itu kini sudah dihapus oleh pihak Facebook karena dinilai mengandung materi yang vulgar, kasar, dan tidak pantas. (ABDULLAH YAZID)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel