Hai Parents! Sudahkah Menjadi Pengukir Jiwa yang Baik?

SAYA penikmat hasil pahatan dan ukiran, baik berupa patung, berbagai jenis kerajinan tangan, perhiasan sampai kaligrafi.

Bila saya punya waktu, saya akan ‘betah duduk’ mencermati sang pemahat atau pengukir mengerjakan pahatan dan ukirannya.

Tak habis habis kagum saya terhadap akal, ide dan kreativitas yang dimilikinya dalam mewujudkan karyanya yang tentunya berujung pada kekaguman terhadap sang maha Pencipta.
https://pixabay.com/en/baby-child-feet-close-up-821627/
Foto Ilustrasi: FancyCrave1 / Pixabay

Bukankah menjadi pemahat atau pengukir selain memiliki bakat yang luar biasa, harus ulet, tekun, sabar, kreatif, bersungguh sungguh dan haqqul yaqin akan menghasilkan sesuatu karya yang sangat indah?.

Lepas apakah itu berbahankan gelondongan kayu, berbagai jenis logam, semen bahkan akar kayu yang sudah lama terendam tanah atau air sekalipun bisa menjelma menjadi karya yang luar biasa.

Belajar dari pemahat dan pengukir, bukankah kita juga sebenarnya tak ubah seperti mereka? Hanya saja kalau teman teman pemahat dan pengukir substansinya benda nyata, konkrit.

Tapi, kalau sebagai orangtua, kita memahat dan mengukir ganda: Memahat dan mengukir fisik dan terlebih lagi memahat dan mengukir jiwa.

Ya, kita PEMAHAT dan PENGUKIR JIWA.

Anak yang dianugrahkan kepada kita sebenarnya sudah berbentuk fisiknya dan umumnya sempurna. Kalaupun ada kurang kurangnya di salah satu aspek, dengan ke Maha Rahim–Nya, kekurangan tersebut telah diseimbangkan dengan di-"lebih"-kan-Nya di bidang yang lain.

Anak kita juga sudah diberikan berbagai kecenderungan dengan menganugerahi mereka hal hal yang diturun temurunkan dari kita orangtuanya, dan kakek nenek dari kedua belah pihak.

Tapi aspek keturunan ini hanya mengambil bagian 20% saja dari apa yang telah dan akan dimiliki oleh anak kita. Adapun 80% lainnya kitalah yang mengisi. Kitalah yang membentuk dan kitalah yang memahat dan mengukirnya. Sehingga ia menjadi bentukan yang kokoh, baik dan Indah.

Untuk itu Allah melengkapi ayah dengan tubuh yang kuat, ratio lemak dan tulang yang lebih bagus, testosterone lebih banyak di otak, alat kelamin yang bisa membuahi dan otak kiri yang membuat beliau terampil berfikir logis dan melihat ke depan.

Sementara ibu dilengkapi antara dengan ovarium, rahim, estrogen dan progesterone, serotonin dan otak kanan serta persediaaan kata yang puluhan ribu jumlahnya dalam sehari.

Semua ini adalah persediaan dan kekuatan agar kita bisa jadi pemahat dan pengukir yang bukan saja berusaha menyempurnakan bentuk lahir yang sudah diberikan Allah untuk tumbuh dan berkembang tanpa cacat, tetapi yang lebih penting adalah memahat dan mengukir jiwa dengan memperindah segenggam daging yang ada di dalam tubuh bernama Hati.

Hati inilah yang perlu dipahat agar tunduk, jernih, taat, baik, lembut, lapang, tulus ikhlas dan senantiasa merendah karena tawadhu’.

Rasulullah mengatakan bahwa kualitas manusia lepas indah, gagah, tampan ataukah cantik ditentukan oleh daging yang segumpal ini.

Banyak sekali orangtua silap dan lupa untuk memahat daging yang segumpal ini, karena hidup yang tergesa gesa, silap merumuskan tujuan pengasuhan, hanyut dalam persaingan dan terlalu khawatir terhadap masa depan.

Salah satu bentuk kesilapan ini adalah untuk mengenali bahwa tubuh dan hati seperti kita sebutkan tadi, memang ada unsur turunan tapi 80% tergantung piawai atau tidaknya sang pemahat atau pengukir.

Ada dua unsur utama yang harus kita sadari sebagai pemahat dan pengukir jiwa anak anak kita, bahwa yang berkembang lebih dahulu pada anak anak kita adalah pendengaran dan penglihatan.

Maka seharusnyalah kita berhati hati benar dengan apa yang didengar oleh anak anak kita, baik berupa kata kata maupun intonasi bicara. Pendengaran berkembang lebih dahulu dari yang lain.

Alat pendengaran ini pun sebagaimana panca indra lainnya dibuat sangat khusus oleh Allah bentuknya. Cupingnya yang indah yang menampung kata kata, kemudian lorongnya yang dalam dan panjang, cairan yang kental dan sangat pahit untuk mencegah binatang masuk dan merusak bagian dalam telinga sehingga akan mengganggu pendengaran.

Binatang kecil saja dihindari Allah untuk masuk ke pendengaran anak kita apa lagi kata kata yang tidak baik.

Marilah kita belajar bagaimana Allah melindungi telinga anak kita dari binatang sekecil apapun hendaknya kita belajar bagaimana menghindari mereka dari kata dan bunyi yang merusak jiwanya.

Allah telah mengingatkan kita soal berkata kata ini dalam berbagai cara: ”Wa quulu linnasi husna = bicaralah baik baik pada manusia. Qaulan Maisuran = berkata dengan kata yang mudah. Qaulan Layyinan = dengan lemah lembut. Qaulan Sadiidan = berkata Benarlah. Qaulan Kariiman = Berkatalah dengan kata kata yang mulia. Dan lain sebagainya.

Bagaimanalah kata kata yang telah masuk kejiwa anak kita selama ini? Jangan jangan kata tak sesuai perintah Allah. Dan intonasi lebih banyak melengkingnya daripada nada yang rendah sesuai kemampuan jiwanya.

Bukan saja anak yang sering dibentak akan menghardik tapi bila mereka tak bisa mengungkapkan rasa, dia tidak saja akan memendam berjuta rasa negatif tapi akan merenggangkan jarak orangtua dan anak tak bisa diukur dengan kilometer.

Selain di awal usianya anak belajar lewat mendengar, anak kita juga belajar dari melihat. Bagaimana kita memelihara penglihatannya dari apa yang patut dan tidak patut mereka saksikan.

Kitalah yang harus mulai mengendalikan diri misalnya untuk tidak berganti pakaian di hadapan anak kita yang berusia di atas 2,5 tahun, memisahkan tidur mereka dari kamar kita pada usia 3,5 – 4 tahun, tidak seselimut dengan saudara kandungnya sejenis di atas usia tujuh, membatasi pandangannya dari hal hal yang tidak patut dari gadget dan internet.

Bukankah Allah berkali kali memerintahkan kita untuk menahan pandangan dan menjaga kemaluan kita?

Teman teman, sungguh kita diperlengkapi oleh Allah untuk jadi pemahat dan pengukir Jiwa anak kita.

Anak anak kita harus jadi Baik dulu sebelum Cantik atau Ganteng. Baik dulu sebelum Pintar dan Hebat.

Bukankah banyak benar sekarang kita temukan orang Pintar dan Hebat tapi sama sekali tidak Baik?

Dalam nenggambarkan penghuni surga saja Allah mendeskripsikan Baik dulu baru Cantik: "Fii hinna khairaatun hisan": Di dalam syurga itu ada bidadari bidadari yang baik baik dan jelita!".

Marilah kita produksi hasil pahatan dan ukiran yang baik dan indah dari rumah produksi kita untuk dan karena Allah, demi hari tua dan akhirat kita.

Yuk, kita mulai sejak kecil bak lirik sebuah lagu:

Belajar di waktu kecil bagai mengukir diatas batu
Belajar sesudah dewasa laksana mengukir diatas air
Selamat menjadi pemahat dan pengukir Jiwa yang ulung.

ELLY RISMAN
Soesoh, Aceh Barat Daya 2 April 2017

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel