Anda Orangtua Sering Cemaskan Anak? Coba Renungkan 3 Hal Berikut

CEMAS dan khawatir adalah sifat alami bawaan manusia. Lantas, bagaimana jika orangtua terlalu cemas terhadap perilaku atau sikap anak?

Tentu tak ada yang salah. Sebagai orangtua sudah sepantasnya kita mencemaskan masa depan anak-anak yang merupakan kodrat Ilahi. "Only the paranoid survive!," begitu kata Andrew S Grove.

Tetapi, paranoid berlebihan tentu tak elok. Apalagi hanya mencemaskan hal-hal materiil yang simbolik semata dan mengabaikan substansi nilai tertinggi dari kehidupan itu sendiri yaitu mengabdi kepada Tuhan yang Maha Esa.



Lantas, bagaimana mengatasi kecemasan-kecemasan orangtua terhadap anak-anak kita di era yang sangat hitech dan penuh tantangan yang tidak sederhana sekarang ini?

Tak kurang, pemerhati masalah parenting Hasanudin Abdurakhman mengajak orangtua untuk memikirkan kembali tentang seringnya kita mengeluh perihal kelakuan anak-anak yang menurut kita "susah diatur".

Kita sering mengeluh soal anak-anak kita. "Anak zaman sekarang susah diatur." Atau, anak-anak zaman sekarang tidak disiplin, tidak mau prihatin, atau banyak keluhan lain.

"Itu anak siapa? Anak kita. Siapa yang mendidiknya? Kita. Jadi, yang salah siapa?," kata Hasanudin bertanya dalam salah satu kolomnya di laman Kompas.

Keluhan itu punya beberapa makna. 

Pertama, kita tak kuasa berpikir lebih jauh untuk memahami anak-anak kita. Mereka begitu, karena mereka anak-anak zaman sekarang. Ada apa dengan zaman sekarang sehingga anak-anak itu berbeda dari kita maupun harapan kita, tak kita pikirkan lebih jauh.

Kedua, menghindar dari tanggung jawab. Anak-anak itu begitu karena sesuatu di luar kita, yang tak kuasa kita kendalikan. Maka mereka begitu bukan tanggung jawab kita.

Ketiga, kita merasa lebih baik. Kita adalah generasi yang lebih baik. Kita menganut nilai-nilai baik, mempraktekkan perilaku baik. Kita kecewa pada anak-anak yang tidak berperilaku seperti kita dulu.

Mengapa anak-anak sekarang berbeda dengan kita saat masih seusia mereka? Tentu saja berbeda.

Kata Hasanudin, kita dulu juga berbeda dengan generasi orang tua kita. Pengetahuan manusia berkembang. Teknologi juga berkembang. Kondisi ekonomi juga berubah. Tentu saja perilaku manusia berubah.

Kita hidup di lingkungan yang berbeda saat usia belia, berbeda dengan habitat anak-anak kita sekarang. Kita dulu baca buku, koran, dan majalah, mereka kini baca internet. Kita dulu, satu rumah belum tentu punya telepon.

"Anak-anak sekarang bahkan punya telepon sendiri. Tentu saja pengetahuan, informasi yang dimiliki anak-anak kita berbeda dengan kita saat seusia mereka. Demikian pula cara kita berkomunikasi," tulisnya.

Kita dulu hidup prihatin, karena keadaan ekonomi kita yang pas-pasan. Orang tua kita hidup prihatin. Kini kita tidak hidup prihatin, kenapa berharap anak-anak kita hidup prihatin?

"Tak ada yang salah dengan anak-anak kita yang berbeda. Tata cara hidup boleh berubah. Tapi ada yang tak boleh berubah, yaitu nilai-nilai fundamental," tegasnya.

"Alih-alih mengeluhkan anak-anak yang berbeda, saya memilih untuk membuat pendekatan yang berbeda dalam mendidik anak. Misalnya, dulu saya tak sangat akrab dengan ayah saya. Tak mungkin misalnya saya bercanda sambil memegang kepalanya. Tapi dengan anak-anak saya sangat akrab, sehingga hal-hal itu dimungkinkan. Tapi saya tetap mengajarkan sopan santun pada mereka," kata Hasanudin yang kerap membubuhkan pengalaman pribadi dalam setiap tulisannya.

Demikian pula soal gaya hidup. Hasanudin tak menyarankan orangtua untuk mengajak anak-anaknya hidup prihatin. Tapi tetap mengajari mereka soal menghargai materi, memanfaatkannya dengan tepat, tapi tidak bermegah-megahan dengannya

Ketimbang mengeluhkan perbedaan, menurut Hasanudin, lebih penting bagi kita untuk memahami perbedaan tersebut.

Ia juga mengajak orangtua memahami pola anak-anak sekarang dalam menggali informasi. Apa efek media pada mereka. Bagaimana pola pergaulan antar mereka. Apa kosa kata yang mereka gunakan. Juga musik apa yang mereka nikmati.

"Kita bisa menikmati zaman yang dinikmati anak-anak kita, memahami mereka, dan terus melakukan komunikasi yang sehat dengan mereka," tandasnya.

Nah, dari pemaparan di atas, semoga kita menjadi orangtua yang lebih bijaksana namun tetap memegang kiat prinsip fundamental terutama panduan agama dan etika sosial.

MUHAMMAD SYAM

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel