Gara-gara Medsos, 80 Persen Selingkuh dan Perceraian di Bekasi Dipicu WhatsApp

MEDIA sosial memang memiliki fungsi positif. Namun di sisi yang lain, jika tak cermat, media sosial dapat memberi dampak negatif luar biasa.

Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, media sosial nampaknya telah menjadi momok yang cukup mengkhawatirkan. Medsos tak dapat lagi dianggap sebagai fenomena alami.

Yang terjadi di Kota Bekasi, Jawa Barat, misalnya, setidaknya mengkonfirmasi realitas tersebut. Bagaimana tidak, ternyata tingginya tingkat perselingkuhan dan perceraian di kota ini dipicu oleh media sosial.

Ilustrasi (Soruce: Pixabay)

Pejabat Humas Pengadilan Agama (PA) Kota Bekasi, Jazilin, mengatakan media sosial menjadi faktor penyumbang tertinggi angka perceraian di Kota Bekasi.

Yang juga mencengangkan dari data Pengadilan Agama Bekasi tersebut, perempuan mendominasi sebagai pihak yang menuntut perceraian.

Berdasarkan data Pengadilan Agama (PA) Kota Bekasi, sebanyak 2.231 pasangan bercerai sepanjang Januari-September 2017.

Faktor pemicu perceraian terbanyak adalah perselingkuhan, yaitu sebanyak 1.862 kasus, disusul faktor ekonomi sebanyak 111 kasus dan faktor poligami 121 kasus.

Dari banyaknya perceraian itu, pemicu utama dimulai dari maraknya media sosial yang dipakai para suami-istri.

"Betul, memang fakta (akibat medsos) seperti pengaruh SMS, WhatsApp, dan jejaring sosial lainnya. Hampir 80 persen dari kasus perselingkuhan," ujar pejabat Humas PA Kota Bekasi, Jazilin, di kantornya Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, dikutip Detikcom, Selasa (3/10/2017).

Jazilin mengungkap mayoritas gugatan cerai itu diajukan wanita. Gugatan berawal dari rasa curiga terhadap suaminya yang ditengarai berselingkuh.

"Biasanya salah satu pihak, baik laki atau perempuan, begitu handphone-nya tidak boleh dilihat oleh pasangannya, akhirnya ketahuan," cerita Jazilin.

Perceraian karena medsos diduga marak sejak ponsel pintar laris manis di pasar.

"Karena sebetulnya baik laki-laki maupun perempuan tidak berani ngomong langsung, sehingga mereka lihat dulu di medsos sampai berlanjut kopi darat," tutur Jazilin.

Karena itu, Jazilin mengimbau kebiasaan komunikasi pasangan suami-istri secara langsung kembali ditingkatkan sehingga tidak ada prasangka curiga di antara kedua belah pihak. Sebab, jika hal ini tidak dikontrol dengan baik, bisa fatal.

"Terutama bagi suami dan istri, jaga baik-baik etika komunikasi lewat sosmed. Jangan sampai kebablasan dengan wanita atau laki-laki lainnya," tegasnya. (dtc/ybh)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel