Sejatinya Guru dan Kisah Imam Syafii dengan Muridnya yang Lamban

MEMUTUSKAN menjadi guru untuk mengajarkan apapun hal positif tanpa pamrih dan tetap totalitas, memang tidak mudah dilakoni.

Pragmatisme telah banyak meluluhkan jiwa  kemanusian kita. Era ini segalanya telah diukur dengan uang. Dengan fulus semua bisa mulus, tak ada fulus mampus. Begitu kata yang sering dilontar menggambarkan fenomena ini.

Sumber foto: Pixabay.com

Meski, ada yang tetap bertahan dengan tetap mengedepankan ketulusan. Tapi jumlahnya terbatas. Sebab terlalu banyak hak mereka yang kemudian dilahap dan dikebiri hingga merekapun berontak lalu melakukan hal yang sama.

Untuk mengembalikan hal ini pada keadaan semula, terlihat sedikit agak berat dan riskan. Namun hal ini tetap dapat diupayakan, sebagai manifestasi kepedulian kita terhadap dunia pendidikan yang kian merana.

Guru adalah pendidik. Guru adalah murabbi. Guru harus memiliki kesabaran yang ekstra melampaui "kenakalan" anak-anaknya.

Guru harus punya keyakinan kokoh  bahwa mendidik adalah mengantar dan mengantar itu melelahkan namun ada kebahagiaan saat yang diantar sampai hingga tujuan dengan aman.

Mengajar dan membuat mereka paham itu melelahkan, tapi ketahuilah ada tabungan besar yang kita investasikan terhadap mereka bahwa mereka adalah pondasi yang dititipkan pada guru agar membuatnya kokoh.

Tak semua kebaikan hasilnya dituai secara instan. Ada hasil kebaikan yang  harus dinanti, ditunggu, disabarkan. Sembari meyakini satu hal bahwa semua kebaikan pasti berbuah kebaikan.

Mendidik dengan sabar dan tulus memang tak pernah mudah layaknya berlayar di tengah lautan luas. Siapa pun tak mudah menerka kondisi bentangan samudera. Terkadang tenang. Kadang kala ombak menerjang. Tapi, satu hal, kapal takkan surut ke belakang sebab komitmen kita untuk berlabuh manis di tujuan akhir.

Jadilah pendidik sejati sebagaimana Imam As-Syafii yang disebutkan dalam kitab Tabaqaat as-Syafi'iyaah (2/134) bahwasanya syahdan Ar-Rabiy' ibn Sulaiman (murid Imam Syafii) seorang yang lambat faham.

Suatu ketika Imam Syafii telah mengulangi satu pelajaran kepadanya sebanyak 40 kali, tapi ar-Rabiy' belum paham juga.

Akhirnya, ia berdiri meninggalkan majelis karena malu dengan keadaannya. Maka Imam Syafii pun memanggilnya untuk berduaan dan mengulang-ulangi mengajarkan hal itu hingga ia paham.

Imam Syafii lantas berkata: "Wahai Rabiy' kalau sekiranya  ilmu itu seperti makanan yang bisa disuapkan ke mulut, maka niscaya aku akan  menyuapkannya kepadamu".

Begitulah kedaan pendidik sejati sesungguhnya. Kesabaran dan ketulusannya selalu menjadi patron utama sekaligus menjadi generator pengalir energi yang siap dihidupkan setiap saat.

Mengutip pesan KH. Maimun Zubair yang dikutip dari halaman Fanpage KH. Achmad Masduqi Machfudz, kepada para guru yang patut direnungkan.

“Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang Penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah”.

Jangan pernah putus asa. Tetaplah kedepankan niat tulus dalam mendidik bahwa semua akan berakhir dan semua hal kan berbalas sesuai dengan niatnya.

Terakhir pesan KH. Maimun Zubair untuk seluruh pendidik yang telah tulus mengabdikan diri, ingatlah.

"Ketika melihat murid-murid menjengkelkan dan melelahkan, maka hadirkanlah gambaran bahwa di antara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga".

Selamat berjuang wahai guru. Kebahagiaan kita adalah saat menyadari murid kita adalah butiran-butiran tasbih pengabdian kita kepada-Nya. Selamat Hari Guru!

NASER MUHAMMAD

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel