Inilah Salah Kaprah Orangtua Ketika Mendoakan Anak, Patut Direnungkan

SETIAP orangtua memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap anak-anaknya. Beragam harapan orangtua tersebut tentu saja merupakan hal yang sangat manusiawi.

Namun, perlu takaran yang pas dan proporsional. Setiap ekspektasi selayaknya disesuaikan dengan keadaan atau kondisi sang anak.

Yang tak kalah penting adalah kebijaksanaan orangtua dalam mengaktualisasi harapan-harapannya termasuk dalam berdoa untuk anak-anaknya.

Sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai moral agama, doa merupakan ritual yang tak asing kita lakukan.

Doa adalah semacam mekanisme parenting transenden yang dapat dirasakan, fiksional, mengalirkan sugesti dan bertumbuh menjadi power kepengasuhan yang menakjubkan.

Kendati demikian, doa bisa saja menjadi kering kerontang tanpa makna serta jauh dari kata kontemplatif karena mengabaikan sendi-sendi utama (rukunnya).

Pemerhati masalah parenting, Chandra Dwi Yuniar

Pendidik yang juga pemerhati masalah parenting, Chandra Dwi Yuniar, mengatakan tidak sedikit orangtua salah kaprah dalam berdoa termasuk dikala berdoa untuk anak-anaknya.

Dia menjelaskan, diantara adab doa adalah khusyu’ merendahkan hati penuh harap. Namun, adab ini kerap diabaikan.

Merendahkan hati dalam berdoa, jelas Chandra, adalah pengharapan yang mendalam dan penyertaan perendahan dirian di hadapan Tuhan .

Ketika berdoa untuk kebaikan anak-anak kita, pun mestinya dengan pengamalan yang kukuh dan teguh terhadap adab tersebut.

Namun alih-alih mengakui kelemahan diri di hadapan Tuhan saat berdoa, malah terkesan "mendesak" Tuhan agar segera memenuhi permintaannya.

Celakanya, lirik doa yang sebenarnya bertujuan baik itu acapkali memposisikan anak sebagai pihak "yang bersalah", yang karena itu kita keluhkan seabreg kebandelannya di hadapan Tuhan. Sebagai orangtua, kita justru lupa mengakui keburukan diri kita sendiri di hadapan-Nya.

"Kita pun mungkin pernah begitu. Kita mendoakan anak-anak kita tapi dengan menimpakan segala ketidakberesan terhadapnya. Ya Allah, anak saya pemalas. Ya Allah anak saya memang bodoh, anugerahkanlah padanya kecerdasan. Mungkin seperti itu doa kita selama ini," kata Chandra ditemui Parentnial.com beberapa waktu lalu.

Padahal seharusnya, jelas Chandra, berdoa khusyu' dan merendah diri adalah kita orangtua mengakui segala kelemahan kita di hadapan Tuhan bahwa kita sangat lemah dan tak berdaya tanpa pertolongan-Nya.

Kita mengakui di hadapan-Nya bahwa memang kita banyak dosa. Kita orangtua yang tidak beres. Kita memang abai. Kita tak kuasa mengendalikan sepenuhnya anak-anak kita. Tuhanlah yang punya kuasa.

"Jadi jangan salahkan anak-anak dalam setiap doa kita. Salahkan diri kita sendiri sebagai orangtua dan mengakui segala kelemahan kita. Jangan sombong seolah kita bisa mengendalikan anak-anak kita," pesan Chandra.

"Kita hanya berusaha membimbingnya, namun Allah SWT jualah penguasa hati setiap manusia. Makanya kita memohon kepada Allah SWT menjaga anak-anak kita," lanjutnya.

Nah, Parents, mulai sekarang tanamkan prasangka positif terhadap anak-anak kita yang sungguh masih sangat belia nan polos itu. Berdoalah untuk mereka tapi jangan mencelanya.

Mereka mungkin memang "nakal", tapi jangan fokus hanya pada kenakalannya dan lantas menderanya dengan hukuman yang dapat menghancurkan moralnya.

Bahkan di hadapan Tuhan sekalipun, tak elok menimpakan kesalahan dan segala masalah yang ada pada diri anak seolah karena akibat ulahnya sendiri. Padahal, boleh jadi, orangtualah yang bermasalah.

DEVINA SETIAWAN 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel