Iklan

Kebahagiaan Sang Ibu dan Menyikapi Sindrom Sibling Rivalry

Hasni Rania
Selasa, Januari 01, 2019 | 09:11 WIB Last Updated 2019-01-02T02:12:20Z
HARI ini usia kakak 2 tahun 6 bulan dan adik setahun beberapa hari. Kakak sudah lancar ngomong. Dulu waktu belum bisa bicara tidak sabar rasanya menunggu kapan mulut mungilnya memanggil “ummi”.

Sekarang, untuk satu permintaan saja panggilan “ummi” terulang sampai berkali kali. Tentunya dengan nada yang bervariasi. Jika masih sekali sampai 3 kali masih datar tapi jika sudah lewat dari angka tersebut iramanya mulai menaik ditambah dengan embel embel di belakngnya “ummi loh…”.

Nak, ummi bukannya gak respek namun suka dengan kelucuan dan sikapmu yang menggemaskan. Izinkan ummi menikmati masa masa tumbuh kembangmu termasuk moment ketika dirimu memnggil “ummi” dengan panggilan khasmu.

Sore tadi saat asyik main di kaki lima teras rumah. Matanya tertuju ke rak sepatu, melihat sepatunya tak nongol di rak mulailah dia berkicau “mi sepatu mana?”. "Ummi gak liat sayang, mungkin jatuh".
"Jatuh oh jatuh…" tidak lama kemudian, "Mi, sepatu mana?” Pertanyaan yang sama terulang ulang sampai puluhan kali.

Anak kecil memang sangat menikmati proses pembelajarannya tanpa bosan. Yang aneh kita sebagai orangtua yang terkadang bosan dengan beragam pertanyaan dari anak yang selalu diucapkan berulang-ulang.

Tentang si adik. Sudah beberapa hari terakhir dia sakit. Batuk pilek dan hari ini adalah hari ke 5. Sebenarnya si adik sudah bisa bermain  sama kakak, namun kondisi tubuhnya yang belum begitu pulih menjadikan dia agak rewel, dan betah banget dalam dekapan umminya.

Jarak usia yang terpaut begitu dekat kadang menumbuhkan sindrom sibling rivalry antara keduanya. Saling berebut perhatian dari abah umminya.

Dulu saat mengandung adik menjelang persalinan aku dan suami selalu memancing kakak untuk belajar menerima keberadaan adiknya. Saat itu kakak belum bisa ngomong banyak, masih sebatas bisa manggil ummi dan abahnya. Ketika diminta untuk “sayang adik” serta merta dia memeluk perut umminya sebagai ekspresi kalau dia sayang adiknya.

Waktu itu dia pastinya sama sekali belum paham apa itu adik dan kenapa aku harus menyayanginya. Waktu berjalan dan kini coletah keduanya benar benar menjadi sumber kebahagiaan kami. Ya mereka anak anakku.

Kadang ada rasa kurang sabar menghadapi mereka ketika dihadapkan dengan kerewelan dan permintaan yang bersamaan, mengeluh rasanya bukan solusi yang tepat, namun kadang-kadang terjadi juga. orangtua khususnya ibu memang harus belajar lagi dan terus mengasah diri agar bisa lebih dewasa menjadi orang tua.

Dariku, seseorang ibu yang masih lebih banyak ngeluh dari sabarnya, masih banyak kurangnya, dan masih butuh belajar lagi dan lagi.*
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kebahagiaan Sang Ibu dan Menyikapi Sindrom Sibling Rivalry

Trending Now

Iklan