Ustadz Tewas Tertindih Truk di Tarakan

Kecelakaan maut terjadi di Jalan Amal, tepatnya tanjakan dekat Taman Anggrek, Kota Tarakan sekitar pukul 13.20 Wita. Truk nomor polisi KT 8673 FA berhenti di tanjakan, mundur kemudian menabrak pengendara sepeda motor di belakangannya dan masuk ke jurang. Pengendara motor naas itu adalah Achmad Jailani, warga Jl Mulawarman, Tarakan.

Lelaki berusia 38 tahun yang biasa disapa ustad dan berprofesi sebagai dosen itu meninggal tertimbun tanah uruk yang diangkut truk. “Saat truk mundur ternyata korban yang tengah mengendarai sepeda motor berada di belakang truk sehingga beliau pun sama-sama jatuh ke jurang,” jelas Fajar, salah satu mahasiswa Universitas Borneo Tarakan (UBT).

Sepeda motor dinas Honda Win KT 4043 M yang dikendarai korban remuk tertindih truk. Tim Basarnas, Polantas dan anggota Polsek Tarakan Timur dibantu warga perlu waktu hampir sejam untuk mngevakuasi korban. Jenazah Ustad Jaelani kemudian dilarikan ke RSUD Tarakan. Di rumah sakit, keluarga dan kerabat korban sudah banyak yang berkumpul.

Termasuk Wakil Walikota Tarakan Suhardjo Trianto. Rencananya, jenazah almarhum hari ini dibawa ke kampung halamannya, di Jember, Jawa Timur. Almarhum meninggalkan seorang istri, Istiana dan anak semata wayang Irodat Maulana (9 tahun).

Budi Asto, salah seorang rekan almarhum kepada wartawan menjelaskan, siang kemarin korban sebenarnya dalam perjalanan menuju kampus UBT di Amal. “Dia (korban) memang mau ke kampus, karena hari ini (kemarin, Red) mau memberikan uji skripsi kepada mahasiswa,” ungkapnya.

MILIK TETANGGA

Pemilik truk KT 8673 FA adalah Sudirman, tetangga korban. Sudirman yang tampak sibuk di lokasi kejadian shock ketika melihat KTP yang ditemukan di dompet korban ternyata bernama Ahmad Jaelani, yang tak lain tetangganya sendiri. “Siapa namanya? Ustadz Jaelani kah? Astagfirullah…… Astagfirullah,” kata Sudirman.

Ia mengaku sebelum ke tempat kejadian perkara (TKP) sempat bertemu dengan istri korban. “Tadi sebelum saya ke sini (TKP) sempat ketemu dengan istrinya di rumah. Namun saya tidak tahu jika ustadz yang menjadi korban,” ungkap Sudirman sedih.

Sementara Aswan, si sopir truk yang diamankan di Polres Tarakan mengaku tak tahu jika truk yang dikendarainya menimpa motor Ustad Jaelani. “Saya panik dan takut sama bos (pemilik truk), maka begitu jatuh ke jurang saya naik dan langsung naik ojek untuk pulang. Tapi di perjalanan bos menelepon, dan ada korban jiwa. Makanya saya inisiatif menyerahkan diri ke kantor polisi,” terang Aswan.

Aswan menceritakan, saat itu posisi truknya di tengah tanjakan. Tiba-tiba sepeda motor yang dikendarai anak sekolah berhenti di pertengahan tanjakan. “Saat itu ada dua anak sekolah yang berboncengan dan sepertinya ada yang jatuh lalu mereka berhenti tiba-tiba di pendakian untuk mengambil barang yang jatuh itu,” kenangnya. Menghindari terjadinya tabrakan, Aswan ikut berhenti.

Ternyata rem tak bisa menahan truk mundur. “Saya sebenarnya mau banting ke kanan, tetapi saya khawatir jika ada kendaraan dari belakang sehingga saya tetap ambil kiri dengan segala risiko,” ungkapnya. Tanpa diketahuinya, korban yang merupakan tetangganya berada persis di bagian belakang truknya. “Tetapi saya sama sekali tahu kalau ada korban jiwa.

Bahkan setelah pada posisi aman di jurang pun saya tidak mengetahui jika ada sepeda motor yang nyangkut di bagian bawah truk. Apalagi ada korban jiwa seperti itu,” katanya.(noi/KaltimPost)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel