Sinergi Potensi Untuk Prestasi, Menuju Kaltim Jaya nan Sentosa















KALIMANTAN Timur merupakan satu di antara sekian banyak provinsi di Indonesia yang menyimpan potensi sumber daya yang cukup besar. Baik potensi sumber daya alam maupun potensi sumber daya manusia. 

Potensi besar sumber daya alam tentu telah menjadi pengetahuan umum. Oleh karena itu Kaltim senantiasa menjadi satu wilayah yang selalu ‘seksi’ di hadapan para investor dan pengembang usaha.

Akan tetapi pemerintah Kaltim belum melihat lebih serius potensi sumber daya manusia sebagai sebuah potensi yang jauh lebih besar. Kalaupun ada sumber daya manusia yang dianggap potensial masih sebatas pada mahasiswa. 

Kepedulian itu pun masih dalam bentuk konvensional, dimana mahasiswa dianggap cukup menerima dana stimulan atau beasiswa. Lebih lanjut para mahasiswa dibiarkan tak terkelola dengan baik. Akibatnya ide-ide kreatif mereka sering tenggelam karena ketiadaan saluran.

Sumber daya manusia sejatinya tidak saja terletak pada para mahasiswa, tetapi juga penduduk Kaltim secara umum yang memiliki potensi produktif dalam berkontribusi bagi pembangunan Kaltim yang secara langsung memberi dampak positif bagi masyarakat. Baik kontribusi di bidang sosial, pendidikan, ekonomi, pertanian maupun budaya dan olahraga. Semua potensi tersebut harus disinergiskan agar optimalisasi energi pembangunan dapat mewujud lebih baik lagi.

Semua sektor tersebut harus dikelola dan dibina secara simultan dan tidak melulu bersifat finansial. Namun juga kemudahan-kemudahan administrasi dan pendampingan pengembangan yang lebih baik oleh person-person profesional. 

Sudah saatnya pemerintah merubah paradigma konvensional yang mengaku dirinya telah bekerja hanya karena telah membuat program dan menggelontorkan dana untuk implementasi program yang dibuatnya.

Lebih jauh para birokrat, politisi, dan tokoh-tokoh masyarakat sudah selayaknya terjun langsung guna melihat kondisi riil di lapangan. Kaltim yang wilayahnya sangat luas tidak semestinya dilihat di atas kertas dan di balik meja semata.

Sepintas hal ini cukup melelahkan dan mungkin dianggap tidak terlalu efektif untuk dilakukan. Tetapi jika dicermati secara mendalam, terjun langsung untuk memetakan potensi yang sesungguhnya serta merencanakan kebijakan di masa yang akan datang, langkah tersebut sungguh sangat tepat untuk dipertimbangkan.


Urgensi Musyawarah
Istilah musyawarah mungkin sudah sangat umum dipahami oleh seluruh rakyat. Akan tetapi musyawarah itu sendiri sering kurang fungsional. Mengingat input-input dalam musyawarah itu sendiri berasal dari person-person yang kurang representatif dalam menyuarakan aspirasi masyarakat yang diwakilinya. Katakanlah dalam hal ini politisi di parlemen. Secara umum dapat dipahami bahwa publik sepakat secara rasa (emosi) bahwa mayoritas politisi masih belum bekerja sesuai kehendak asasi masyarakat.


Upaya membangun sebuah provinsi tentu bukanlah hal mudah dan pasti tidak akan bisa dibebankan kepada pemerintah semata. Partisipasi aktif masyarakat sungguh sangat dibutuhkan, khususnya pihak-pihak swasta. Di sinilah pemerintah Kaltim harus mampu mencermati kelompok-kelompok potensial dalam masyarakat yang memungkinkan dilibatkan secara aktif dalam proses pembangunan.

Untuk bidang pendidikan atau akhlak misalnya, sudahkah para birokrat, politisi duduk bersama dengan para fungsionaris ormas-ormas keagamaan, yang selanjutnya secara serius membahas pembangunan SDM dari sisi akhlak atau moral. 

Pernahkah pemerintah secara langsung berkunjung ke lembaga pemberdayaan seperti pesantren dalam rangka betul-betul mendengar aspirasi mereka bagaimana menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba, free sex, dan lain lain.

Pun demikian dengan bidang pertanian. Desa-desa transmigrasi yang para penduduknya telah eksis dengan pertanian dan perdagangannya juga tidak semestinya dilihat dari atas kursi kantor dengan mengandalkan tenaga pemerintahan di lingkungan desa dan kecamatan. 

Penentu kebijakan juga harus terjun langsung dalam rangka menghimpun data dan aspirasi, sehingga perencanaan pembangunan tidak salah sasaran. Tidak kalah penting untuk diperhatikan dan terus-menerus dikembangkan ialah sektor usaha kecil menengah.

Untuk perwujudan musyawarah seperti itu pemerintah diharapkan mampu membuat wadah atau forum yang diselenggarakan pertahun atau persemester. Melalui musyawarah massal yang ditangani secara profesional, insya Allah, kita yakin akan berhasil menghimpun informasi-informasi penting dan strategis sebagai bahan perencanaan pembangunan Kaltim secara keseluruhan. Baik perencanaan jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.


Potensi Pondok Pesantren
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Pesantren telah lahir jauh sebelum Penjajah Belanda tiba di Nusantara. Kaltim juga satu provinsi yang memiliki cukup banyak pesantren. 

Namun demikian, pesantren masih diposisikan sebagai objek yang harus dibantu secara finasial semata. Akses-akses untuk pengembangan pesantren menjadi lebih baik, nyaris belum pernah dilakukan, kecuali sebatas formalitas yang tidak berdampak langsung bagi pencerdasan putra daerah.


Pondok pesantren sangat berperan penting bagi pembangunan sumber daya manusia. Sebab pesantren mampu membina anak-anak sampai orang tua dan bersinggungan langsung dengan masyarakat. 

Pesantren juga sangat memungkinkan untuk dijadikan sebagai satu percontohan (miniatur) pengembangan berbagai sektor penting dalam pembangunan. Katakanlah pertanian, perkebunan, perikanan, atau pun tempat pembinaan generasi muda putus sekolah untuk memiliki life skill.

Tetapi potensi ini masih dibiarkan begitu saja. Ada banyak kendala memang dalam pelaksanaannya. Mulai dari SDM pesantren itu sendiri, hingga pada sistem mentoring dan evaluasi. 

Di sinilah pemerintah bergerak bagaimana menyalurkan tenaga-tenaga kompeten yang dikhususkan mengoptimalkan potensi besar tersebut. Misalnya dengan memanggil mahasiswa berprestasi yang mendapat beasiswa dari pemprov untuk langsung mengabdi di Kaltim.

Mungkin langkah ini masih cukup sulit untuk dicerna oleh sebagian besar pemegang kebijakan pemerintah Kaltim. Tetapi ini adalah satu langkah strategis yang perlu dicermati dengan hati nurani. 

Jepang dan Korea bisa menjelma menjadi negara maju, karena investasi mereka dalam sektor pembangunan SDM yang sangat ambisius. Demikian pula halnya dengan Malaysia yang sejak tahun 1970-an telah memulai langkah pembangunan SDM. Hari ini mereka mulai menuai hasilnya.

Kita tidak boleh lengah dengan ketersediaan SDA yang ada di Kaltim. Sumber daya alam adalah sumber daya yang akan lenyap. 

Dan, ketika SDA sudah menipis, sementara SDM yang dimiliki belum memadai atau unggul, maka Kaltim akan menjadi satu wilayah yang tidak ramah terhadap kehidupan umat manusia.

Sudah waktunya pemerintah Kaltim berpikir dan mengajak berbagai kalangan untuk bersama-sama mensinergikan potensi untuk meraih prestasi. Bersama menuju Kaltim Jaya dan Sentosa.

*IMAM NAWAWI, penulis adalah perintis dan mantan Ketua Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Kabupaten Kutai Kartanegara.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel