Beasiswa, Jangan Ditiadakan Tapi Dioptimalkan















BERBICARA Kaltim, memang cukup istimewa, terkhusus jika melihat para mahasiswanya. Hampir semua mahasiswa dari Kaltim mendapat santunan belajar berupa beasiswa. Ada yang dapat dari Pemda, juga ada yang dapat dari Pemprov.

Jumlah beasiswa yang diterima pun terbilang cukup besar dan masih bisa digunakan untuk sedikit membeli kebutuhan kuliah lainnya. Kondisi tersebut menjadikan mahasiswa dari propinsi lain cukup "iri" dengan mahasiswa asal Kaltim.

Tentu hal tersebut membawa dampak psikologis yang positif bagi para mahasiswa, terlebih mereka yang menimba ilmu di luar Kaltim. Mereka umumnya punya kepercayaan diri yang bagus, yang sebagian besar dari mereka biasanya berjiwa petualang.

Namun demikian kalau berani mengambil tolok ukur ideal, mungkin masih sedikit mahasiswa asal Kaltim yang benar-benar sukses meraih studinya, baik secara akademik maupun keorganisasian. Seperti apa yang telah diraih tiga mahasiswi dari Fakultas Hukum UGM Yogyakarta baru-baru ini, dimana ketiganya mampu meraih indeks prestasi kumulatif dengan angka sempurna, 4,00.

Lebih menarik lagi kalau kita melihat Kabupaten Kutai Kartanegara. Sejak tahun 2001 hingga saat ini, Pemkab Kukar memberikan beasiswa bagi seluruh pelajarnya. Mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Bahkan hampir seluruh mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) mendapatkan beasiswa setiap tahunnya.

Kebijakan besar itu merupakan derivasi dari program GERBANG DAYAKU (Gerakan Pembangunan dan Pemberdayaan Kutai Kartanegara) yang pernah digagas oleh mantan ketua APKASI pertama yang juga Bupati Kutai Kartanegara, Syaukani HR. Mungkin karena antusiasme yang tinggi terhadap pembangunan SDM Kukar, proses penyaluran beasiswa pun dilaksanakan tanpa prosedur administratif yang sangat ketat. Harapannya agar seluruh elemen masyarakat Kukar bebas dari kebodohan dan semua bisa mendapat akses untuk menerima santunan pendidikan, berupa beasiswa.

Akan tetapi karena mindset atau mental sebagian besar pelajar di Kukar belum terbangun, dana bantuan beasiswa itu masih banyak yang disalahfungsikan. Patut diduga, tidak sedikit dari uang beasiswa itu dapat digunakannya untuk gonta-ganti HP, laptop, atau alat elektronika lainnya. Bahkan mungkin ada yang menggunakannya untuk berkencan dengan lawan jenisnya.

Memang ada, meskipun rasanya sangat sedikit, sebagian lainnya yang benar-benar memanfaatkannya untuk mendukung proses belajar hingga meraih prestasi. Tetapi umumnya, orang melihat bahwa beasiswa itu dimanfaatkan pada tempat yang tidak semestinya.

Secara hukum alam, mungkin wajar saja. Ada di antara mahasiswa yang tidak benar-benar memanfaatkan dana beasiswa itu untuk sukses studinya. Namun bagaimanapun, program adalah program. Ia harus direncanakan sedemikian rupa dan dievaluasi sedemikian rupa. Jika tidak, maka dana besar beasiswa itu akan menguap tanpa makna.

Mungkin itulah yang terbesit dalam pemikiran seorang Isran Noor, seorang pemimpin yang sangat konsen dengan pendidikan, hingga akhirnya dengan tegas menyatakan bahwa pemberian beasiswa khusus bagi mahasiswa asal Kutai Timur di tahun ini (2012) akan ditiadakan.

Evaluasi pun dilakukan. Sebagaimana laman berita Kompas.com laporkan bahwa, "Hasil evaluasi tim Pemkab menunjukkan bahwa bantuan beasiswa itu tidak selamanya bermanfaat, tetapi justru berdampak negatif," ujar Bupati Kutai Timur Isran Noor di Sangata, Kamis (15/12/2011).

Dampak negatif yang dimaksudkan oleh Bupati Kutai Timur itu adalah menurunnya etos belajar para mahasiswa, khususnya mereka yang menimba ilmu di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Kutai Timur (Stiper Kutim).

"Saya melihat sekarang ini justru ada efek-efek negatifnya dengan pembebasan biaya pendidikan, contoh seperti di Stiper Sangata, karena dibebaskan biayanya, justru tidak semangat belajar," demikian ungkap Isran Noor dalam isi berita itu.

Bahkan Isran Noor mengaku sangat kecewa dengan hasil temuan tim evaluasi yang menemukan bahwa ada di antara penerima beasiswa yang belajar di Jawa dan Sulawesi justru tidak kunjung selesai studinya. Dan, setelah dicek, ternyata ada sebagian yang sudah menikah dan tinggal di asrama.

Inilah satu fakta yang menjadikan seorang Isran Noor langsung mengambil langkah cepat dengan mengeluarkan kebijakan penghentian bantuan beasiswa yang akan dimulai dari tahun 2012.

Optimalisasi Lebih Baik
Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur bisa dikatakan cukup beralasan. Dan, rencana untuk kemudian menertibkan program penyaluran beasiswa itu adalah satu langkah progressif yang mesti diupayakan secara berkesinambungan.

Menghentikan secara total tentu bukan merupakan langkah yang bijaksana dan solutif. Pasti akan ada perlawanan dan ketidakrelaan dari sebagian masyarakat. Alangkah indahnya jika kebijakan yang dikeluarkan adalah mengoptimalisasikan penyaluran beasiswa.

Jadi mekanismenya beasiswa tidak disalurkan secara merata (semua dapat). Tetapi disaring berdasarkan uji kompetensi akademik, kreativitas, atau mental kepemimpinan. Jadi mereka yang tidak memenuhi kriteria dari uji yang ditetapkan, tidak berhak untuk menerima beasiswa. Cara seperti ini akan membuat mereka yang punya minat dan kesungguhan akan sangat terbantu dan lebih giat belajar. Sedangkan mereka yang gagal, akan berusaha lebih giat lagi belajar agar bisa mendapatkan bantuan beasiswa.

Akan tetapi jika ditiadakan secara total, hal tersebut akan sangat merugikan para mahasiswa yang indeks prestasinya bagus, dan punya kredibilitas baik. Bagi mereka yang asal kuliah, mungkin tidak ada masalah. Tapi apa iya kita tega menyamakan mereka yang baik prestasinya dengan yang tidak?.

Jadi optimalisasi beasiswa mungkin bisa menjadi alternatif solusi. Bagaimana Pemkab Kutim dalam hal ini menyiapkan satu sistem penyaluran beasiswa yang lebih akurat. Dengan demikian yang menerima beasiswa adalah mereka yang memang benar-benar punya semangat belajar yang tinggi, dan punya komitmen untuk membangun Kutai Timur. Misalnya, bagi seluruh mahasiswa yang menerima beasiswa, wajib melaporkan hasil studinya ke Pemkab. Siapa yang nilai semesternya tetap atau bahkan menurun, maka bantuan dihentikan. Dan, bagi yang naik dan terus meningkat akan tetap mendapat bantuan beasiswa.

Sepintas mungkin agak ribet, atau terlalu repot, jika pemkab harus sampai ketahap tersebut. Tetapi demi kemajuan Sangata dan Kutim secara keseluruhan tentu itu adalah tawaran yang harus diterima.

Jaring Sejak Dini
Kalau ingin benar-benar optimal, Pemda di seluruh Kaltim atau bahkan Pemprov, akan sangat baik jika melakukan penjaringan pelajar berprestasi sejak dari SMA. Dari mereka yang berprestasi inilah beasiswa saat kuliah diberikan tanpa syarat dan prosedur yang berbelit-belit.

Langkah tersebut akan memudahkan Pemda dalam evaluasi dan maksimalisasi program beasiswa. Jadi akan sangat efektif bahkan mungkin akan sangat produktif. Memang sudah saatnya pemerintah yang agresif, sehingga data yang dikantongi tim beasiswa pemerintah benar-benar valid dan bisa dipertanggungjawabkan.

Selama ini yang agressif adalah masyarakat, Pemda merasa sudah puas dengan memberikan pengumuman kepada masyarakat bahwa ada program beasiswa. Kemudian pasif menunggu bola dan tidak punya sistem verifikasi yang memadai. Akibatnya data yang dikantongi, mayoritas masih belum bisa dikatakan valid.

Bukan sebuah hal yang langka, bahwa ternyata ada mahasiswa Kaltim yang berprestasi justru tak mendapatkan beasiswa, hanya karena mereka tidak mengerti ada program tersebut.

Jadi, sebaiknya beasiswa diberikan kepada pelajar SMA yang sejak kelas XI hingga kelas XII selalu mendapati ranking 10 besar. Kepada mereka diberikan jaminan kuliah sesuai minat mereka. Selain akan memicu dan memacu semangat belajar sejak SMA, pelajar kita akan punya rencana belajar yang baik, sehingga kita bisa berharap tumbuhnya karakter belajar, dan etos keilmuan kepada mereka.

Akan tetapi kalau seperti sistem yang selama ini berjalan, tentu akan banyak yang tidak tepat sasaran. Apalagi soal KTP kan soal yang tidak terlalu rumit untuk dimanipulir. Jadi kembali ke Pemda juga, apakah ingin benar-benar optimal atau tidak. Jika ingin optimal maka saatnya sekarang meninggalkan tradisi jemput bola.

Mahasiswa, Belajarlah!
Bagi para mahasiswa, sebagai kandidat intelektual, tidak semestinya kebijakan Bupati Kutai Timur direspon secara reaktif. Mari kita intropeksi diri kita masing-masing. Apa benar kita telah menjalankan fungsi, tugas, dan peran sebagai mahasiswa dengan sebaik-baiknya. Jika tidak maka perbaikilah diri, tekunlah belajar dan giatlah dalam berkarya. Prinsipnya bagaimana kita bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang ada, sehingga kita benar-benar bisa menjadi insan cendekia.

Mungkin ini adalah pil pahit. Tapi kalau kita menyadari bahwa kita sedang sakit, maka pil pahit itu adalah pilihan. Makan dan telanlah, biarkan rasa pahit itu menyeruak pada lidah dan tenggorakan kita. Sebab esok kita akan sembuh. Rubahlah dirimu, jadilah mahasiswa yang punya visi dan karakter dengan mental pembelajar yang baik.

Akhir kata, kepada para mahasiswa, belajarlah dengan tekun. Akrablah kalian dengan buku, dosen, dan seminar-seminar, dan teruslah berdoa. Jangan biarkan waktumu melayang hanya karena dorongan hawa nafsu saja; berpacaran, hura-hura, dll. Agar kelak engkau bisa menjadi inspirasi masyarakat Kaltim.

Jangan pragmatis, jangan sedih tapi tersenyumlah. Jangan berkhianat tapi amanahlah. Jika itu berhasil kau lakukan, tentu pintu “beasiswa” akan terbuka lebar bahkan dengan jumlah yang lebih besar dan tak terduga-duga. Insya Allah!.[KTC]

*Imam Nawawi adalah kolumnis www.kaltimtoday.com dan mantan Pengurus Daerah Persatuan Pelajar Islam Indonesia (PD PII) Kutai Kartanegara, Kaltim

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel