Sudahlah, Aku Memang Tidak Berbakat Menulis?

MENULIS adalah pekerjaan yang gampang gampang susah. Gampang, jika kita memang sedang enjoy untuk menulis. Susah, kalau mood booster sedang menepi.

Kalau serangan ini datang, untuk sekedar menulis kata pertama pun susahnya bukan main. Inilah kenapa kemudian banyak orang yang berkesimpulan bahwa menulis adalah kegiatan yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang tertentu saja. Padahal tidak.

Bagi saya, menulis adalah sebuah permainan. Selama kita menganggap kegiatan menulis hanya bisa dilakukan orang orang yang memang sudah berbakat, sedangkan “Saya sendiri tidak berbakat”, maka selama itu juga kita tidak akan pernah memulai tulisan kita sebait pun.

Kegiatan menulis bukanlah bakat. Bukan kemampuan yang dibawa sejak lahir. Kegiatan menulis semua orang bisa melakukannya, kapan dan di mana saja.

Namun, yang banyak disalahpahami, mungkin termasuk kita, menulis seolah olah hanya milik mereka yang berbakat. Ini keliru. Bagi saya, menulis adalah seni dan bisa dipelajari.

Kalau ingin menjadi penulis, pandangan bahwa menulis adalah bakat atau hanya bisa dilakukan orang orang tertentu, harus segera ditanggalkan.

Ambil laptop, polpen, buku, dan mulailah menulis. Jangan menjadi orang yang hanya menikmati khalayan indah tentang menjadi penulis, tapi tidak pernah menulis. Lakukan tindakan. Tepikan khayalan.

Siapa saja bisa menjadi penulis jika terus berlatih dan mengasah diri. Latihan yang dilakukan terus menerus, ditambah dengan intensitas dan kuantitas baca yang baik. Ini akan menunjang kemampuan kita untuk bisa lebih baik lagi dalam melakukan aktifitas ini.

Lambat laun akan terbiasa untuk menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Dan, tentu saja, setiap tulisan selalu punya kekhasan tersendiri. Berbeda itu asyik. Semua punya kekhasan termasuk setiap orang dalam menulis.

Apa yang saya sharing ini sebetulnya hanyalah pengalaman pribadi yang saya rasakan selama menempukan diri ini dalam dunia tulis menulis. Walaupun sampai hari ini saya saya bukanlah siapa-siapa dalam dunia kepenulisan, tapi saya gembira. Saya selalu bahagia mengarunginya.

Berfikir dan menulis
Jangan terburu-buru termasuk dalam menulis. Sering kali tulisan yang dibuat secara tidak sabar akan memberikan ulasan kurang mendalam dan seringkali gagal fokus pada masalah yang sedang dibahas.

Sejauh pengala,man saya, ada 3 hal yang selalu saya pegang dalam menulis, agar tulisan yang saya rencanakan itu bisa jadi dan bisa saya kerjakan dengan baik.

Pertama, menulis adalah hobi atau kesukaan. Kedua, menulis sebagaimana engkau bermain. Ketiga, siapkan data. Selanjutnya kita akan bahas satu persatu di bawah ini.

Hobi adalah kesukaan, kegemaran, atau kesenangan. Sesuatu yang apabila kita kerjakan kita merasa suka, senang, dan bahagia. Begitupun dalam menulis, jadikan dia sebagai hobi.

Jadikan kegiatan menulis sebagai hobi. Apa saja pekerjaan atau aktifitas yang apabila kita lakoni karena senang, maka pasti akan ada kepuasan yang kita dapatkan di sana.

Kedua, anggaplah menulis itu seolah bermain. Tuangkan saja apa yang ada di kepala. Hilangkan beban yang terpacak di kepala untuk menghasilkan tulisan layaknya karya professor filsafat yang banyak memakai istilah berat dan susah dimengerti.

Hindari menulis ungkapan ungkapan yang berat hanya karena ingin disebut intelek. Jika dipaksakan juga, sementara kemampuan tidak mumpuni, akan kesulitan dan akhirnya terhenti.

Justru inilah yang kerap membuat penulis pemula itu mandeg, karena kebelet selalu ingin menuangkan gagasan yang terlalu melangit (casciscus, as-is-us) yang pada akhirnya kata katanya pun menjadi tidak sistematis.

Yang paling mudah untuk penulis pemuda adalah menulis dengan subjektif dengan pola populer. Menulis dengan tata bahasa sederhana saja yang sudah umum dipahami masyarakat. Bukan tulisan ilmiah yang menuntut objektifitas. Ini untuk langka awal, jadi subjektif saja tidak mengapa. Tulislah apa yang dilihat, dengar, dan yang dirasakan.

Selanjutnya, siapkan data data untuk menunjang kualitas tulisan. Data penting untuk menggambarkan sebuah keadaan. Perhatikan betul data yang akan Anda input, apalagi jika data data itu berupa angka, misalnya tahun kejadian sebuah peristiwa, angka sebuah hasil survey, dan lain lain.

Data menjadi penguat dan cita rasa sebuah tulisan. Sebuah tulisan ilmiah, misalnya, akan semakin berbobot jika disertai data data penunjang yang mengetengahkan analisa yang tajam dan menukik. Jika Anda menulis dengan tema tema fiksi, data juga menempati posisi yang tak bisa dinafikkan sebagai bumbu penyedap.

Namun yang terpenting dari itu semua adalah, seorang penulis atau calon penulis harus banyak banyak membaca. Seperti kata Profesor Mulayadhi Kertanegara, seorang penulis produktif, bahwa kegiatan menulis tidak akan pernah berlangsung dan terbangun selama tradisi baca tidak ditegakkan.

Jadi untuk menjadi penulis kita harus banyak banyak membaca, mengetahui informasi, dan bisa memetakan hal hal yang penting dan tidak penting.

Kegiatan menulis adalah tradisi para ulama dan orang orang besar sebelum kita. Rata rata orang besar yang kita kenal adalah orang-orang yang memiliki tradisi menulis yang luar biasa. Mereka bahkan dapat menyelesaikan tulisan hingga beratus jilid jumlahnya. Ini di zaman dulu, di mana segala fasilitas masih sangat terbatas bagi mereka.

Mereka bisa menulis sampai beribu ribu jilid buku dengan gagasan yang tetap aktual sampai hari ini. Bahkan ketika keadaan mereka sedang dalam kondisi serbat tidak memungkinkan, mereka tetap menulis. Sebutlah misalnya ada Ibnu Qoyyim Al jauziyyah, Ibnu Taimiyyah, Buya Hamka, atau ada juga tokoh filsuf semacam Derrida, Betrand Russel, dan masih banyak lagi.

Nah, kawan, tunggu apa lagi. Segeralah menulis dan hidupkan kembali tradisi yang pelan pelan mulai redup di kalangan anak muda ini. (YACONG B HALIKE)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel