Iklan

Membangun Nalar Meneguhkan Moral

Admin
Sabtu, April 21, 2012 | 06:01 WIB Last Updated 2017-02-27T22:45:06Z













SEPERTI apakah sebenarnya manusia modern saat ini? Pertanyaan ini layak untuk kita ajukan pada diri masing-masing, lebih awal sebelum kita melihat lingkungan, situasi dan kondisi bangsa yang kian hari kian menegasikan moral.

Kasus paling menarik dicermati adalah hilangnya kesadaran berbuat jujur yang terjadi pada sebagian siswa, khususnya ketika menghadapi Ujian Nasional (UN), yang tahun ini secara serentak dimulai untuk tingkatan Sekolah Menengat Atas pekan ini. Ada suasana galau di sana, antara berbuat ideal dengan mengerjakan soal secara jujur atau culas tapi lulus.

Ironis memang, jujur justru diyakini akan mengakibatkan ketidaklulusan bagi mayoritas siswa. Oleh karena itu –sudah menjadi rahasia umum– gerakan ketidakjujuran ini didesain sedemikian rupa, asalkan sekolah bisa mencapai target 100 % lulus. Soal jujur tidak jujur bukan lagi pertimbangan. Asalkan bisa lulus segala cara pun halal.

Beberapa hari lalu, seorang sahabat bercerita kepada saya. Bahwa dulu, ungkapnya, tatkala dirinya masih SMA dan menghadapi UN, kepala sekolah langsung mengintruksikan agar para siswa bekerja sama dalam menjawab soal-soal UN. Tentu perintah semacam ini disambut oleh sebagian besar siswa. Tapi tentu tidak semua siswa sependapat dengan intruksi kepala sekolah itu.

Tetapi sebagian siswa yang tidak sepakat itu harus siap-siap mendapat gelar aneh-aneh baik dari kawannya sendiri, boleh jadi juga dari sang kepala sekolah. Kondisi pun memaksa mereka yang ingin jujur ikut tidak jujur. Apalagi ada tekanan psikologi yang berkepanjangan.

Logika preman pun berlaku. Benar belum tentu memberi keuntungan, tapi keuntungan harus dicapai meski harus dengan cara-cara yang tidak benar.

Saya tiba-tiba teringat dengan salah satu bait lagu Rhoma Irama yang berjudul "1001 Macam"; “Banyak orang berkata dalam mencari nafkah, cari yang halal saja sudah susah apalagi yang haram. Banyak orang berkata yang Jujur pasti hancur. Karena zaman ini sudah edan, jujur tidak makan”.

Fenomena seperti ini sebenarnya tidak tergambar secara gamblang dalam pelaksanaan UN saja, tetapi juga dalam aspek lain. Mulai dari urusan kelas teri di tingkat RT sampai urusan kelas kakap yang diperankan oleh aparatur negara di ibukota negara.

Justru lebih riuh lagi apa yang dipertontonkan oleh elit politik di Senayan. Benturan kepentingan antar kelompok sangat nyata di sana. Misalnya hari ini ada RUU yang disahkan oleh DPR maka dua tiga hari lagi muncul kelompok lain melakukan uji materil (Judical Review) ke MK. Karena RUU yang disahkan ditengarai tidak substansial bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kalau kita lihat secara cermat, rasanya semua itu tidak lain karena rendahnya atau bahkan hilangnya nilai kejujuran di antara mayoritas mereka yang menyandang gelar pejabat atau wakil rakyat. Hal ini tidak bisa ditutup-tutupi lagi sebab aroma pragmatisme itu bisa dicium oleh rakyat yang paling awam sekalipun.

Kemanusiaan Manusia
Dalam kajian filsafat manusia disebut sebagai binatang berbicara dan beragam jenis definisi lainnya yang menggambarkan manusia sebagai makhluk rasional. Tetapi saya pribadi tidak begitu tertarik dengan jangkauan filsafat terhadap manusia. Selain terlampau empiris juga tidak menjelaskan manusia secara utuh.

Manusia tentu bukan binatang apalagi disebut binatang berbicara atau binatang berfikir. Sebab hewan-hewan di bumi ini secara prinsip juga punya bahasa dan karena itu semua juga berbicara antara satu dan lainnya. Dalam Al-Qur’an fakta ini bisa dilihat pada Surah ke-27 (An-Naml) ayat 18 dan 19.

Di sana digambarkan bagaimana Nabi Sulaeman mendengar seruan raja semut yang memerintahkan rakyat semutnya untuk mengamankan diri karena akan datang tentara raja Sulaeman yang akan melewati daerah mereka. Nabi Sulaeman mendengar lalu tersenyum dan kemudian mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas anugerah berupa kemampuan memahami bahasa binatang.

Jadi manusia bukan sekedar seonggok daging yang disebut jasad ataupun makhluk rasional dengan kemampuan akalnya. Manusia secara utuh adalah manusia yang baik jiwanya, terang hatinya dan karena itu baik pula perilakunya. Ia tidak hanya cerdas akalnya tapi juga lembut hatinya. Ia tak hanya kuat raganya tapi juga teguh pendirian hatinya.

Berbicara raga atau jasad, maka sangatlah menarik definisi Islam terhadap manusia yang disebut kuat. Manusia yang kuat dalam Islam bukanlah manusia yang kekar badannya, kuat ototnya, atau keras pukulannya. Tetapi manusia yang kuat adalah manusia yang mampu mengendalikan emosi, terkhusus tatkala dirinya diselimuti kemarahan, kebencian dan kedengkian.

Jadi manusia bukan sekedar seonggok daging berupa jasad. Ini seperti apa yang dikatakan mantan Menteri Pendidikan Nasional, Bapak Malik Fajar, “Sesungguhnya engkau menjadi manusia bukan semata-mata karena jasmanimu tetapi terutama karena jiwamu.”

Jiwa inilah yang kini diabaikan oleh banyak manusia mungkin juga termasuk kita. Barat secara konsep mungkin menawarkan paradigma kehidupan yang ideal secara rasional; HAM, Multikulturalisme, Demokrasi, tetapi dalam praktiknya Barat tidak setampan wajah konsepnya. Barat sangat anti terhadap HAM, intoleran terhadap bangsa lain, dan tentu sangat tidak demokratis.

Ketika mereka berbicara HAM, dengan semena-mena Amerika membombardir Afghanistan, Irak, dan membiarkan Israel membantai rakyat Palestina setiap harinya. Ketika mereka berbicara Multikultralisme, disaat yang sama sangat paranoid dengan imigran dari Asia yang berduyun-duyun mendatangi negara-negara Eropa. Demikian pula dengan demokrasi, sampai kapanpun Barat tidak akan memberikan kesempatan seorang Muslim menjadi presiden. Sebab Muslim bagi Barat adalah ancaman.

Dalam skala nasional peristiwa serupa juga telah lama terjadi bahkan mulai mentradisi. Di masa-masa menjelang pemilu, para kandidat kepala daerah tiba-tiba sangat merakyat. Berkunjung ke sana, ke sini, memberi bantuan ini, memberi bantuan itu. Bahkan tidak cukup itu, layaknya produsen sebuah produk, masing-masing kandidat mengumbar keunggulan diri dan programnya masing-masing.

Ironisnya, situasi tiba-tiba berubah saat pemilu telah usai digelar dan menetapkan kandidat sebagai pemenang pemilu. Mereka yang tadinya baik dan merakyat berubah menjadi elitis dan sulit ditemui. Jika sebelumnya kandidat yang mendatangi rakyat, sekarang rakyat susah pun tak bisa menemui sang pejabat, kecuali mereka yang bisa menyenangkan dan memudahkan urusan sang pejabat.

Fakta ini menunjukkan dengan pasti bahwa manusia telah kehilangan hakikat kemanusiaannya. Hari ini banyak manusia yang suka dan mudah memberi janji sekaligus segera melupakannya. Banyak pula yang berbicara penuh kebijaksanaan namun tak mampu menghindarkan diri dari kebiadaban. Jika demikian benarlah ungkapan Malik Fajar bahwa tidak cukup manusia disebut manusia hanya karena badannya.

Dalam ajaran Islam, kondisi manusia seperti itu adalah manusia yang telah kehilangan cahaya iman dan karenanya gelaplah hati nuraninya. Dalam kondisi seperti itu, seorang manusia bisa menghalalkan segala cara semata-mata demi kepuasan diri dan kepentingannya. Tidak ada lagi kata Tuhan dalam jiwa dan raganya.

Di sini saya kembali terenyuh untuk kali kedua dengan lagu Rhoma Irama dalam bait lagunya ‘Buta Tuli’; “Sebagai manusia yang punya pemikiran. Kalau tak kenal Tuhan maka seperti hewan”.

Sejauh manusia tidak bertindak sesuai moral maka sejatinya dia bukan manusia. Peradaban Barat menyebutnya sebagai Barbarisme dan peradaban Islam menyebutnya sebagai Jahiliyah. Keduanya mengacu pada sasaran yang sama, yaitu manusia yang tidak manusiawi.

Gambaran manusia yang tidak manusiawi itu, lagi-lagi, bisa kita lihat dalam lantunan lagu. Perumpamaan kondisi yang demikian itu disuarakan lewat bait lagu Ebit G. Ade yang berjudul "Untuk Kita Renungkan". Di sana Ebit bersenandung pedih, “Namun dalam kekalutan masih ada tangan yang tega berbuat nista”.

Manusia seperti itu adalah manusia yang miskin moral dan cacat nalar. Baginya keuntungan itu hanyalah ketika dirinya bisa hidup nyaman sekalipun harus membunuh banyak orang. Itulah yang dipraktikkan negara-negara Eropa pada 3 abad silam. Dengan kekuatan militernya mereka menjajah negeri-negeri Timur dan merampas harta kekayaan negeri-negeri yang dijajahnya. Tidak saja itu, mereka juga menjadikan bangsa terjajah sebagai bangsa budak.

Ironisnya kemiskinan moral dan kecacatan nalar itu kini menjangkiti negeri kita sendiri. Di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, kerusuhan di mana-mana, kelaparan yang terus mengancam, elit negara justru asyik berdebat soal untung dan rugi bagi diri dan kelompoknya. Masalah-masalah penting dan mendasar tak lagi menjai fokus perhatian mereka.

Jika demikian benarlah apa yang disampaikan oleh mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla bahwa negeri ini membahas semua hal kecuali yang penting. Memutuskan banyak hal kecuali yang penting. Sebab faktanya masalah penting dan mendasar memang sama sekali tak disentuh bahkan cenderung diabaikan.

Iman yang Memanusiakan
Sekiranya tidak ada agama dalam kehidupan ini maka nalar manusia sudah cukup mampu memahami apa itu kebaikan, kebenaran dan apa itu keburukan dan kebatilan. Tetapi jangkauan nalar manusia sangat terbatas. Indera sebagai perdana menteri nalar tak mampu menjangkau hakikat dari segala sesuatu.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Tahafut Falasifah-nya menjelaskan bahwa indera sangat lemah dalam melihat realita. Ia mencontohkan bagaimana mata melihat bintang-bintang di langit sangat kecil. Padahal penelitian membuktikan bintang itu sangat besar. Demikian pula tatkala mata melihat bayangan, diyakininya bayangan itu tetap, padahal bayangan selalu bergerak meskipun sangat lambat.

Tetapi akal juga bukan segalanya, akal juga punya keterbatasan. Maka turunlah wahyu agar manusia bisa mengambil pelajaran, mendapat petunjuk, dan mendapat jaminan kebahagiaan. Tatkala manusia mampu menjernihkan akalnya secara sempurna maka ia akan melihat kebenaran wahyu. Sebaliknya manakala akal manusia terkontaminasi oleh dorongan hawa nafsu, maka kebenaran wahyu akan sulit terlihat olehnya.

Dengan demikian tidak ada jalan lain selain kembali menguatkan nilai-nilai keimanan dalam diri. Hanya iman yang akan mendorong manusia memiliki kesadaran kuat untuk membangun nalar yang menguatkan moral. Tanpa iman manusia hanya akan menjadi pemangsa dan perusak. Bahkan lebih jahat dan lebih buas dari binatang buas.[KTC]


*Imam Nawawi adalah kolumnis www.kaltimtoday.com dan Perintis Kelompok Studi Islam (KSI) Loa Kulu, serta Mantan Perintis dan Ketua Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII), Kutai Kartanegara, Kaltim.
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Membangun Nalar Meneguhkan Moral

Trending Now

Iklan