Salah Berkiblat Akhirnya Sekarat



SEORANG teman dalam sebuah diskusi ringan beberapa waktu lalu berkeluh kesah. Kenapa sih di negeri ini terlalu banyak ironi, katanya, padahal di negeri ini tidak kekurangan orang pintar dan ahli.

Lulusan universitas dalam dan luar negeri tiap tahun selalu ada. Bahkan hampir semua pejabat memiliki gelar akademik yang cukup bergengsi, ada yang doktor, malah ada yang professor.

Toh kalau mereka itu belum punya gelar, kemungkinan besar mereka akan dapat doktor honoris causa. Tapi aneh bin irasional, krisis di negeri ini seolah tak pernah mau berhenti, terus berlangsung seolah tak berujung tak bertepi. Kawan saya ini nampaknya tak habis pikir.

Keluhan itu memang beralasan. Fakta menunjukkan bahwa hari ini pejabat negara tidak ada yang tidak bergelar akademik. Minimal mereka sarjana, dan sangat banyak yang sudah doktor bahkan professor. Tetapi realita menunjukkan hal yang tidak berbanding lurus dengan semua fakta tadi. Jika demikian apa yang sebenarnya terjadi?.

Mengurai masalah ini sebenarnya mudah, namun menjadi sangat sulit ketika hati nurani buta akan kebenaran dan Hak Asasi Tuhan. Kalau ada Hak Asasi Manusia kenapa tidak ada Hak Asasi Tuhan. Bukankah yang menciptakan manusia itu adalah Tuhan?. Maka irasional jika ada teori yang menjelaskan dan mengklaim manusia keturunan kera.

Adnan Oktar atau karib dengan sapaan Harun Yahya melalui berbagai macam penjelasan ilmiah secara audio visual telah membabat habis semua teori Darwin. Sebuah teori yang merupakan hasil rekayasa untuk menegasikan Tuhan dan menuhankan akal.

Rhoma Irama di penghujung lirik lagunya yang berjudul 'Buta Tuli' menegaskan, “Sebagai manusia yang punya pemikiran. Kalau tak kenal Tuhan, maka seperti hewan”.

Jadi jika manusia mengklaim punya Hak Asasi Manusia maka saat itu juga sebenarnya ada Hak Asasi Tuhan. Hak Asasi Tuhan inilah yang selama ini ditutup dalam-dalam. Akibatnya apa, manusia bergerak berdasarkan kehendak akal yang seringkali tanpa sadar didominasi oleh egoisme dan hawa nafsu.

Konstitusi kita secara eksplisit menegaskan bahwa negara ini berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Logikanya, setiap aturan dan kebijakan di negeri ini juga mempertimbangkan aspek-aspek Ketuhanan. Tetapi karena negara ini hanya punya dasar yang belakangan sengaja ditinggalkan, akibatnya banyak kebijakan yang menghianati Kehendak Tuhan.

Pejabat tidak menjadikan kesempatan memegang kekuasaan sebagai sarana meraih keridhoan Tuhan. Malah berbalik, menjadikan jabatan sebagai peluang mencari kepuasan-kepuasan semu.

Lebih dari itu, ada juga kebijakan yang tidak diperintahkan Tuhan tetapi dipaksakan jadi peraturan. Sebaliknya jika ada RUU yang mengajak manusia kembali kepada Tuhan, berbagai macam cara digunakan untuk menggagalkan. Sebut saja dulu ketika ada RUU APP, masih ingat kan bagaimana pembahasan RUU itu berjalan sangat alot?.

Barat Bukan Kiblat
Mengapa terjadi banyak ironi dapat juga dijelaskan lewat kondisi dunia secara global hari ini. Sebagai peradaban superior Barat memang berhasil menghegemoni seluruh peradaban dunia. Indonesia juga masuk daftar negara yang mengalami nasib buruk akibat dari hegemoni peradaban Barat. Dulu kita dijajah dengan militer kini dijajah dengan pemikiran dan ekonomi.

Dengan ini dapat dikatakan bahwa Barat telah menjadi kiblat negara mana pun di dunia ini, tidak terkecuali Indonesia. Mau bukti? Lihat saja konsep hukum di negeri ini. Suharsono dalam bukunya ‘Membangun Peradaban Islam’ menegaskan bahwa hukum di negeri ini masih menjiplak hukum Belanda. Hal ini pula yang dikeluhkan oleh sebagian mahasiswa fakultas hukum.

Dari sisi pendidikan. Pada mata pelajaran Biologi misalnya, anak-anak jurusan IPA di berbagai SMU di negeri ini masih harus menerima teori evolusi. Sebuah teori yang irasional, tidak ilmiah dan bertentangan dengan fakta alam, masih menjadi materi kurikulum pendidikan kita.

Di bidang Ekonomi juga tidak jauh berbeda. Paradigma materialisme sangat kuat di sana. Sejak SMP anak-anak didik kita telah diajarkan doktrin materialisme; "Sumber daya alam terbatas. Kebutuhan manusia tidak terbatas". Tanpa sadar hal ini lambat laun akan membentuk konstruk berpikir egois dan eksploitatif.

Kalau kita bertanya mengapa Eropa menjadi negara penjajah pada 3 sampai 4 abad silam? Tidak lain karena mereka meyakini doktrin di atas. Sebuah doktrin yang bersumber dari hawa nafsu.

Tidak kalah berbahayanya adalah pendapat Augusto Comte yang dikutip dalam materi yang diajarkan pada pelajaran Sosiologi. Di sana ditegaskan bahwa masyarakat modern adalah masyarakat yang rasional.

Bahkan kalau melihat gradasi tentang progresifitas sebuah masyarakat yang dibangun oleh Comte, yang pernah menikahi pelacur itu, jelas dia ingin mengajak manusia berpandangan bahwa masyarakat yang masih percaya Tuhan adalah masyarakat yang tradisional dan berada setingkat di atas masyarakat primitif. Masyarakat progresif adalah masyarakat modern yang rasional dan menegasikan agama.

Kasus-kasus di atas hingga hari ini belum dikoreksi keabsahannya secara rasional, ilmiah, dan tentu secara konstitusi. Semestinya di negeri yang menganut Ketuhanan Yang Maha Esa, teori dan orang yang berpikiran seperti di atas tidak layak masuk dan memberi warna pendidikan di tanah air. Tetapi apa daya, ketika semua kebijakan dan aturan merupakan produk sandraan?

Koreksi bahkan sikap kritis terhadap Barat sangat diperlukan. Hal ini karena kita tidak saja berbeda dengan mereka. Secara historis Barat adalah negara yang pernah menjajah dan menghinakan kita sebagai penduduk negara. Kemudian hari ini Barat sebagai peradaban secara faktual terbukti menjadi penyebab krisis global. Sebuah krisis yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah manusia menurut Fritjof Capra.

AM Saefuddin dalam bukunya 'Islamisasi Sains dan Kampus' menjabarkan beberapa bentuk krisis yang diakibatkan oleh peradaban Barat.

Pertama, Krisis Lingkungan. Ekosistem alam kini berada dalam keadaan yang amat labil, karena terlalu banyak campur tangan manusia. Dampak umum rumah kaca akibat makin banyaknya gas CO2 hasil pembakaran bahan bakar fosil tidak saja mengancam sebagian dunia tetapi seluruh dunia.

Hal ini jika melihat fakta bahwa lubang ozon bumi semakin memperlihatkan derajat ketipisannya yang memengaruhi kesehatan manusia seluruh dunia termasuk dalam hal ini semakin memicu pencairan es di wilayah kutub.

Kedua, Teknologi militer (Senjata). Betapa luar biasa dampak yang diakibatkan oleh peperangan yang dipaksakan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Perang di Afghanistan, perang di Irak, juga Israel dan Palestina, semua dimulai dan diawasi oleh Amerika. Termasuk perang di negara-negara Afrika dengan menggunakan persenjataan hasil sains dan teknologi Barat (lihat hlm 165).

Lebih lanjut AM Saefudin yang pernah mengenyam pendidikan di Belanda itu menjelaskan bahwa Perang Irak itu tidak lain hanyalah satu bentuk arogansi Amerika Serikat, sebagai derivasi dari watak kolonialisme dan penjajahan Barat yang selalu ingin memaksakan kehendak sendiri kepada bangsa-bangsa lain.

“Perang Irak tak lain merupakan kepongahan sains dan teknologi dengan alat-alat perangnya yang tak berperikemanusiaan, yang hendak dipertunjukkan Barat, meskipun pertunjukan itu ternyata justru menjadi bumerang bagi Barat karena terbukti bahwa betapa dahsyatnya dampak dari Krisis peradaban Barat yang sekular dan materialistis itu,” (lihat hlm 166).

Jadi, tidak selayaknya negeri ini tetap menjadikan Barat sebagai kiblat. Sudah ketinggalan zaman. Logikanya sederhana, masak iya sih kita masih mau percaya sama orang yang jelas-jelas pernah dan sedang terus-menerus menipu kita semua, tentu tidak mau, kan?

Bagaimana tidak, mereka menyerukan HAM tetapi mereka juga membunuh banyak manusia. Mereka memimpin pembuatan hukum tetapi mereka melanggarnya. Bahkan mereka menyerukan demokrasi tetapi Barat di PBB punya hak istimewa berupa hak veto. Sebuah hak yang hanya dimiliki oleh Inggris, Perancis, Rusia, Amerika dan China, jelas ini tidak demokratis.

Integrasi Suatu Keniscayaan
Membangun bangsa Indonesia sudah tidak bisa dengan cara-cara rasio semata. Apalagi dengan hanya mengikuti kehendak negara adidaya dunia. Membangun negeri ini harus dengan akal sekaligus wahyu. Sebagaimana amanah Pancasila yang berdasar pada Ketuhanan Yang Maha Esa.

Barat memang punya komitmen dengan akal tetapi tidak dengan moral. Barat memang mengakui agama tetapi menolak Tuhan. Bahkan Barat melahirkan teknologi tetapi juga mengancam kehidupan.

Setidaknya fakta di atas sudah cukup menyadarkan kita dan membuka hati nurani untuk segera berbenah. Integrasi akal dengan wahyu adalah solusi bagi kebangkitan bangsa.

Jika mengacu pada pendapat AM Saefudin maka integrasi itu adalah pelarutan, bukan pencampuran. Dalam Islam ada konsep fid-dunya wal akhirah (dunia dan akhirat). Keduanya tidak bisa dipisahkan apalagi dipertentangkan. Bahkan mutu kehidupan akhirat adalah ditentukan oleh kehidupan dunia.

Dalam konteks kekinian bangsa ini memerlukan integrasi akal dengan wahyu untuk membangun manusia yang berakhlak. Yaitu manusia yang menggunakan akal untuk mendapat keridhoan Tuhan demi kemaslahatan bersama. Manusia seperti inilah yang disebut oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas sebagai manusia beradab.

Manusia yang cerdas akalnya juga luhur budinya. Manusia yang patuh pada Tuhan juga pandai dalam pergaulan, bahkan bisa mensolusikan permasalahan umat manusia. Tanpa adanya integrasi akal dengan wahyu, maka selamanya pendidikan akan melahirkan manusia yang split personality; pandai namun tidak jujur, dan cakap namun tak berakhlak.

Semoga saja hati nurani kita masih bisa melihat jelas kebutuhan akan integrasi akal dengan wahyu, sehingga tidak ada lagi waktu terbuang untuk berdebat dan saling merendahkan. Mari bersama berfikir untuk bangsa. Jika ditolak oleh manusia, yakinlah Tuhan melihat usaha kita. Kelak kita akan bahagia bersama para kekasih-Nya, Amin.[KTC]

______
*) IMAM NAWAWI, 
penulis adalah kolumnis dan social workers . Ikuti juga cuitannya di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel