Pornografi Mengancam!

TANTANGAN terbesar bagi seluruh keluarga Indonesia saat ini bukan hanya narkoba, tawuran, tetapi juga pornografi sekaligus pergaulan bebas, termasuk film atau sinetron murahan.

Film atau sinetron memang tidak berdampak secara langsung bagi cara pandang, pola pikir, dan gaya hidup masyarakat.

Tetapi, jika menonton film atau sinetron menjadi kebiasaan, maka hiburan yang sifatnya tontonan itu pun akan seketika berubah menjadi tuntunan. Karena jika suatu kelancungan yang ditayangkan berulang-ulang pelan tapi pasti akan dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Dahulu, orang tua mana yang rela anak gadisnya memakai pakaian kurang sopan, jalan ke tempat rekreasi seorang diri, apalagi berboncengan dengan teman lelakinya kesana kemari. Tetapi, ketika tidak sedikit orang tua yang hobi film dan sinetron, akhirnya mereka menganggap tradisi remaja yang berbahaya saat ini sebagai sesuatu yang biasa.

Akibatnya jelas, dengan fasilitas teknologi yang sangat canggih dan murah, menjadikan remaja yang tidak siap mudah terjebak untuk melihat hal-hal yang berbau porno. Pornografi bahkan telah merusak akal sehat tunas-tunas bangsa sekaligus melumpuhkan nurani dan kemanusiaannya.

Bagaimana tidak, hari ini anak usia sekolah secara terang-terangan, tanpa malu, melakukan pergaulan bebas sekehendaknya. Ada yang berjalan berdua penuh kemesraan di area publik; mall, pantai, taman-taman kota, dan sebagainya. Tidak ada yang mereka lakukan, melainkan berujung pada interaksi haram.

Data dari KPA yang dibacakan dalam seminar “Sinergi Pemerintah dan Industri Perfilman dalam Membentuk Masyarakat Madani” di Universitas Padjajaran (9/5/10) cukup memprihatinkan.

Sebanyak 97 % pelajar dari 4.500.000 orang di 12 kota besar Indonesia siswa SMP mengaku pernah menonton video porno, 90 % pernah berciuman, kemudian 62,7 % melakukan perzinahan, dan 21 % siswa SMA pernah melakukan aborsi.

Kondisi itu semakin diperburuk dengan data yang tidak kalah mencengangkannya. Lebih dari 10 juta laki-laki di tahun 2009 suka melakukan perzinahan dengan PSK, demikian rilis Kementerian Kesehatan 3 tahun silam.

Sementara, data di Kaltim menunjukkan bahwa 2.559 orang positif terjangkit virus HIV dan 404 di antaranya telah meninggal dunia. Dengan data tersebut, Kaltim berada di posisi empat terbanyak pengidap HIV setelah DKI, Papua, dan Jawa Timur.

Diduga kuat, prostitusi telah menjadi lahan subur penyebaran HIV. Sayangnya, sekalipun tak satu pun akal manusia menyetujui praktik haram ini, tetapi karena dorongan hawa nafsu (materialisme) tidak sedikit orang yang rela melumpuhkan nurani dan keimanannya demi keuntungan sesaat lewat bisnis esek-esek itu. Setidaknya itulah yang dilakukan oleh Keyko.

Siapa yang tidak mengenal Keyko belakangan ini, yang terkenal sebagai “ratu germo” yang mengendalikan sedikitnya 1600 PSK dengan segmen kalangan atas yang memiliki dompet tebal. Dari 1600 PSK yang dikelolanya, rata-rata berasal dari kalangan mahasiswi, sales promotion girl, public relations, bahkan foto model.

Nalar kita sulit menerima kenyataan ini, tetapi tidak bagi pemuja hawa nafsu yang perilakunya telah dikonstruk oleh Karl Marx lewat determinisme ekonomi, juga dikokohkan oleh Sigmund Freud bahwa manusia bergerak karena dorongan libido seksnya, atau Auguste Comte yang menyatakan masyarakat yang masih menerima ajaran agama sebagai masyarakat primitif.

Jadi, pergaulan bebas itu adalah bagian utama dari HAM bagi mereka yang tak lagi percaya Tuhan. Pornografi itu adalah seni bagi pemuja rasionalisme, dan agama itu adalah candu bagi penganut atheisme. Inilah dampak dari apa yang disebut dengan antrophocentrisme. Sebuah zaman yang manusia bebas menentukan secara membabi buta mana benar mana salah.

Akibat Liberalisme
Jika kita merenung sejenak, dari mana kira-kira datangnya budaya destruktif rendahan seperti itu? Jawabnya satu, dari liberalisme. Sekalipun liberalisme itu adalah produk sejarah dan peradaban Barat, bangsa dan negara manapun saat ini tidak bisa lepas dari pengaruh buruk peradaban Barat tersebut.

Gempuran budaya Barat melalui teknologi informasi menjadikan dunia saat ini dipenuhi dan dikendalikan oleh segala macam hal yang muaranya ke Barat. Termasuk gaya hidup yang banyak diwarnai oleh industri film yang menampilkan budaya bebas. Coba kita fikir, darimana ibu-ibu rumah tangga mewarnai rambut mereka dengan warna pirang jika bukan dari film?.

Liberalisme dalam sejarahnya merupakan bentuk perlawanan terhadap persecutiton (penganiayaan dan pembunuhan). Penganiayaan itu dialami Barat ketika gereja bertindak sebagai pemegang otoritas kehidupan mereka, yang banyak menerapkan aturan kehidupan yang irasional, otoriter, dan preventif. Itulah masa yang menjadi rahim bagi pertumbuhan liberalisme di Barat.

Seolah mendapat kemerdekaan, liberalisme langsung membangun satu tata kehidupan yang sepenuhnya menentang agama (Kristen). Jika di masa gereja orang berzina dihukum, di masa liberalisme, pergaulan bebas halal. Ketika sebelumnya pakaian harus sopan, sekarang pakaian harus nyaman yang muaranya tiada lain adalah seksualitas. Demikian seterusnya.

Perempuan yang di zaman gereja didiskriminasi, kini diberikan hak emansipasi dan “dijunjung tinggi”. Sayangnya, pola penghormatan terhadap wanita, hakikatnya justru meruntuhkan harkat dan martabat wanita. Coba lihat gelaran Miss Universe, bahkan belakangan di Brasil ada kontes bokong wanita terindah.

Inilah era liberalisme, era di mana agama, Tuhan, dan tokoh agama bukan lagi sosok penting dalam kehidupan. Zaman yang menurut Judson Taylor sebagai zaman yang banyak mengingkari firman Tuhan, suka mengakui kesalahan dan membela kesesatan, dan menolak Tuhan masuk mengatur wilayah-wilayah kemanusiaan.

Inilah zaman yang orang-orang di dalamnya ingin berpikir dan bertindak bebas. Bebas dari kepercayaan yang dianggap membelenggu. Dan, ingat sekali lagi, agama bagi liberalisme, apapun agama itu, semua bersifat membelenggu.

Oleh karena itu, liberalisme ini tetap bersikukuh dengan pergaulan bebas dan segala hal yang menentang agama atau bahkan fitrah manusia itu sendiri. Ketika seks bebas menimbulkan HIV, kondom diciptakan. Intinya, lakukan apa saja dan jangan takut melanggar perintah agama, karena semua bisa diatasi.

Padahal, jika direnungkan sejenak, masalah besar bangsa ini akan sangat mudah diatasi, manakala seluruh manusia mau tunduk, patuh, dan taat menjalankan perintah agama. Sebab satu-satunya cara efektif untuk memutus rantai penyebaran HIV adalah tinggalkan perzinahan. Dan, satu-satunya cara yang efektif untuk membangun moral bangsa, hentikan industri pornografi.

Peran Aktif Keluarga
Kita tidak bisa menutup mata dari masalah pornografi, pergaulan bebas, dan tentu masa depan bangsa ini. Selama kita tidak waspada alias lengah dan lalai, tidak menutup kemungkinan ada di antara anggota keluarga yang terseret dalam gaya hidup biadab itu.

Sehingga, menghadapi pornografi harus kita mulai dari diri sendiri dan keluarga. Keluarga harus berusaha menanamkan pendidikan akhlak secara benar, sekaligus memberikan keteladanan bagi putra-putri di rumah.

Jangan sampai kita ingin putra-putri kita baik, tapi ternyata orang tua tidak memberikan contoh, tentu akan sangat berat membina akhlak dan moral mereka.

Lalu, apa yang harus dilakukan oleh keluarga Indonesia untuk menjaga putra-putrinya dari pengaruh pornografi? Berikut beberapa rekomendasi yang patut diusahakan oleh kita semua.

Pertama, hindari membaca berita sampah sekaligus menonton film, sinetron yang hanya menampilkan aurat, termasuk acara gosip, dan live talkshow yang tak jarang menampilkan kebinalan.

Kedua, perkuat tali komunikasi dan silaturrahmi antar seluruh anggota keluarga. Jangan sampai karena kesibukan bisnis dan lain sebagainya, seorang bapak atau ibu tidak mengerti pergaulan anaknya.

Dengan komunikasi yang baik, Insya Allah, anak akan merasa diawasi dan disayang oleh ibu bapaknya. Ingat, rata-rata korban pelecehan seksual, pemerkosaan, atau pelaku tindak kriminal umumnya berasal dari keluarga yang kurang baik komunikasi antar sesama anggota keluarganya.

Ketiga, saran dari Anwar Djaelani dalam opininya di Jawa Pos (28/9) lalu juga patut untuk dilakukan. Yaitu, mendorong putra-putri kita masuk dalam kegiatan Rohis di sekolah atau lembaga dakwah kampus di universitas.

Komunitas itu akan memberi pengawasan lebih baik dalam pertumbuhan iman dan akhlak putra-putri kita semua. Bahkan, lebih jauh, Rohis ternyata juga telah berhasil mendorong anggota-anggotanya meraih prestasi akademik yang mengagumkan.

Keempat, jika hendak melakukan rekreasi, berkunjunglah ke tempat-tempat yang bersifat edukatif. Hindari berkunjung ke tempat-tempat yang sudah populer dengan praktik kemesuman.

Kelima, tingkatkan secara terus menerus pemahaman seluruh anggota keluarga terhadap ajaran agama, sekaligus pelaksanaan perintah agama berupa ibadah, moral, dan kepedulian terhadap sesama.

Tanpa kembali kepada fitrah manusia yang dibimbing agama, mustahil bangsa ini bisa menjadi bangsa yang maju dan disegani. Lihat saja dasar kenegaraan kita, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” bukan kebebasan manusia.

Jika memang pergaulan bebas itu adalah baik, dan pornografi itu adalah seni, lalu apa bedanya manusia dengan binatang? Padahal manusia punya akal dan pikiran.  “Jika tak mengenal Tuhan maka seperti hewan,” demikian pesan Rhoma Irama dalam sebuah lagunya yang berjudul "Buta Tuli".

Selanjutnya, mari berantas pornografi, mewaspadai pergaulan bebas, dan berantas liberalisme. Karena semua itu adalah sumber kerusakan yang akan memusnahkan sebuah peradaban.*

_____
*) IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel