Kebebasan yang Mengancam


BELUM LAMA ini, saya berjumpa dengan sahabat senior. Sebelum berpisah, ia meminjamkan bukunya kepada saya yang katanya ringan dan cukup inspiratif.

Kata teman saya yang luar biasa ini, buku yang dibelinya itu ditulis dengan bahasa sederhana namun sarat makna. Tapi, “Jangan kaget, penulisnya biksu, loh,” demikian ucap sahabat tersebut sembari tersenyum lebar.

Ajahn Brahm, ya itulah nama penulisnya, Sarjana Fisika Teori dari Cambridge Unviersity United Kingdom yang berpindah haluan menjadi biksu di usianya yang ke 23 tahun.

Saya pun tertarik untuk segera membuka lembar demi lembar halaman buku ringan itu. Bahasanya memang memikat. Akhirnya, tibalah saya pada bahasan tentang kebebasan.

Sampai pada bahasan ini saya enggan untuk membuka lembar berikutnya. Ternyata apa yang saya pikirkan dijelaskan di sana, yaitu tentang kebudayaan Barat dalam memandang kebebasan. Menurut Brahm, begitu ia suka dipanggil, di dunia ini sejatinya ada dua jenis kebebasan.

“Ada dua jenis kebebasan yang dapat kita temukan di dalam dunia kita: kebebasan untuk berkeinginan (freedom of desires) dan kebebasan dari keinginan (freedom from desires)”.

Barat, demikian tulisnya, hanya mengenal jenis kebebasan yang pertama saja, kebebasan untuk berkeinginan. Barat menjadikan kebebasan ini seperti agama bahkan Tuhan dalam kehidupan. Sebagian aktivis dan intelektual Indonesia pun ada yang ‘keracunan’ konsep kebebasan Barat ini.

Bahkan, lebih lanjut Brahm menulis, “Dapat dikatakan bahwa paham yang mendasari kebanyakan sistem demokrasi Barat untuk melindungi kebebasan rakyat untuk mewujudkan hasratnya, sejauh mungkin”.

Maka jangan heran, kalau Barat mengaku sebagai peradaban positivistis di sisi lain sangat irasional. Irasional dalam pandangan akal sehat, seperti nikah sejenis, pergaulan bebas, dan eksploitasi wanita. Apakah mereka tidak sadar dengan itu semua?

Mereka sangat sadar. Tetapi inilah namanya kebebasan, bebas berkehendak, melampaui apa pun namanya yang menjadi penghambat. Tuhan sekalipun, kalau menghalangi hasrat maka harus dipinggirkan. Maka sekali lagi jangan heran, kalau banyak orang ‘benci’ dengan syariat Islam atau pun terminologi Islam lainnya.

Padahal, ini kata Brahm, di Barat, orang-orangnya tidak merasa benar-benar bebas. Karena, semakin manusia menuruti impian hasratnya, sejauh itu hidupnya akan terjerembab pada perasaan terpenjara, tertindas dan selalu ingin bebas. Dan, bebas yang dimaksud adalah bebas bertindak sebebas-bebasnya.

Hamid Fahmi Zarkasyi dalam Misykat-nya di Republika (18/4) memberi bukti apa yang dikatakan Brahm. Sekalipun kaum wanita di Barat memperjuangkan kesetaraan gender, faktanya kaum wanita di Barat kondisinya semakin terpuruk. Tingkat perkosaan tertinggi ternyata justru di Barat.

“Menurut satu sumber tingkat perkosaan tertinggi adalah Amerika Serikat, ada yang menyebutkan Swedia, yang disusul Inggris kemudian Jepang.

Di Amerika, perkosaan terjadi setiap 90 detik, sehingga data umum menyebutkan bahwa 22 juta wanitanya telah mengalami perkosaan dalam hidup mereka. Di Perancis 25 ribu wanitanya diperkosa setiap tahun,” demikian tulis Master Filsafat dari Brimingham itu.

Jadi, kesimpulannya sederhana, konsep kebebasan yang diusung Barat sejatinya adalah wajah baru dari penurutan hawa nafsu. Maka, Brahm yang seorang biksu menolak konsep kebebasan jenis pertama ini. Seandainya ia ada di Indonesia, kemudian ditanya soal Miss World, ia mungkin berkata, “Selagi itu dipandang dari kebebasan berhasrat, maka tidak ada gunanya akal dan agama”.

Brahm lebih suka pada jenis kebebasan yang kedua, yaitu freedom from desires, bebas dari berkeinginan. Menuruth Brahm, kebebasan jenis ini hanya bisa ditemukan dalam beberapa ajaran religius.

Mereka menjunjung rasa berkecukupan, kedamaian yang bebas dari berkeinginan. Biasanya, komunitas seperti ini sarat dengan aturan, tetapi anehnya, orang-orangnya justru merasa benar-benar bebas.

Jadi, kebebasan yang akan membawa kemaslahatan bukan kebebasan yang memperturutkan segala hasrat. Tetapi kebebasan yang sepi dari segala macam hasrat ketamakan, keegoisan, dan kebanggaan-kebanggaan palsu dan menipu, itulah yang dipesankan Ajahn Brahm. Sederhana, tetapi rasional dan realistis.

Pelajaran di Pesawat
Logika kebebasan dalam pengertian bebas berhasrat sebenarnya irasional dan tidak empiris. Buktinya sederhana, mari kita lihat fakta di pesawat. Sebelum kita ke bandara, kita sudah harus memesan tiket dengan tujuan tertentu. Untuk mendapatkan tiket, jelas, kita harus membayar.

Kemudian, kita harus tiba di bandara setidaknya dua jam sebelum take off. Setelah itu, di dalam pesawat kita harus mematikan hand phone, memakai sabuk pengaman. Semua itu adalah jenis aturan yang seluruh penumpang pesawat harus mentaatinya.

Tidak diperbolehkan seorang penumpang, siapapun dia, melanggar aturan tersebut. Selain berpotensi membahayakan diri sendiri, juga bisa mengancam keselamatan penerbangan.

Demikian pula dalam kehidupan ini, kebebasan yang menabrak aturan, baik norma, lebih-lebih agama, sebenarnya tidak saja membahayakan yang menyukainya saja tetapi juga bangsa dan negara.

Contoh kebebasan berpakaian. Berbikini katanya hak asasi. Jika negara menerima pendapat semacam ini, maka Miss World boleh. Padahal, kita butuh generasi putri yang cerdas dan berakhlak. Jika pemerintah membiarkan itu terjadi, maka sama saja logikanya dengan seorang bapak yang membiarkan anaknya bermain sepuas hati sampai lupa makan dan lupa pulang.

Sama saja logikanya dengan seorang pramugari yang membiarkan seorang penumpang pesawat bertindak melanggar aturan yang mengancam keselamatan penerbangan.

Artinya, hidup itu penuh aturan. Maka rasional ketika Ajahn Brahm lebih memilih jenis kebebasan kedua, yaitu freedom from desires. Bebas dari berkeinginan. Pemerintah, mestinya paham terhadap masalah-masalah semacam ini. Karena kebebasan yang menabrak norma dan agama, sejatinya adalah awal dari kebinasaan.

Akhir kata, prinsipnya satu, kebebasan apa pun yang menegasikan aturan agama, adalah jenis kebebasan yang patut dicegah. Apalagi, di Indonesia, segala sesuatu hendaknya menghormati keberadaan mayoritas bangsa yang beragama Islam, karena itulah langkah yang paling bisa membantu pemerintah mewujudkan segala macam cita-cita mulianya.

Sayangnya, meskipun Ajahn Brahm yang seorang Budha memilih freedom from desires, nampaknya hal ini tidak menjadi pilihan masyarakat di Myanmar yang mendeportasi dan terkesan ingin menghabisi etnis Muslim Rohingya.

Andai saja, pilihan Ajahn Brahm ini diikuti oleh orang Myanmar yang mayoritas penganut Budha seperti Ajahn, tentu, tragedi kemanusiaan tidak perlu terjadi. Karena semua menahan diri dari keinginan berhasrat yang menghancurkan sendi-sendi kehidupan.*

________
*) IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis. Ikuti juga cuitan-cuitannya di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel