Inilah yang Harus Dilakukan Indonesia untuk Cegah Ebola

KITA sudah hampir setahun bersama wabah ebola. Kini ebola di dunia memasuki babak baru dalam penanggulangannya: sebagian menunjukkan keberhasilan dan sebagian masih menunjukkan kegagalan. Salah satu keberhasilan penanggulangan ebola adalah perhatian dunia pada ebola terus meningkat.

Seluruh dunia memberikan perhatian penuh pada ebola yang jumlah kasusnya sampai akhir Oktober 2014 sudah 9.000 orang lebih—sekitar 400 di antaranya petugas kesehatan—dan menimbulkan kematian pada lebih dari 4.500 orang.

Akhir Oktober 2014, Pemerintah Kanada memperkenalkan vaksin ebola edisi pertama, yang akan terus disempurnakan. Vaksin ini baru saja diterima WHO dan minggu terakhir Oktober dilakukan pertemuan yang langsung dipimpin Dirjen WHO untuk membicarakan kemungkinan pemanfaatan vaksin ini.

Perkembangan vaksin baru lain adalah dimulainya penelitian pada puluhan ribu orang di Afrika untuk kandidat vaksin yang dihasilkan National Institute of Health AS.

Program penanggulangan yang baik juga sudah menunjukkan hasil. Senegal dan Nigeria pada Oktober 2014 sudah dinyatakan oleh WHO sebagai bebas ebola setelah 42 hari (dua kali masa inkubasi) tak ada kasus baru. Artinya, kalau penanggulangan dilakukan dengan benar dan saksama, ebola dapat dihilangkan dari suatu negara.

Kegagalan

Selain sejumlah keberhasilan di atas, sejumlah kegagalan dan tantangan juga terus dihadapi. Di tiga negara episenter ebola—Liberia, Guinea, dan Sierra Leone—kasus terus bertambah setiap hari. Penyakit juga sudah keluar dari Afrika, ditemukan kasus ebola di Eropa dan AS.

WHO memperkirakan, kalau tidak ditangani dengan baik, kasus ebola Desember 2014 akan jadi 10.000 kasus baru setiap minggu. Para ahli juga membuat estimasi jumlah  kasus ebola pada Januari 2015 dapat mencapai 550.000 orang, atau bahkan sebenarnya akan ada 1,4 juta karena sebagian kasus tak terdeteksi atau tak terlaporkan.

Petugas lapangan di negara terjangkit di Afrika juga amat kurang, baik petugas kesehatan maupun petugas lain. Untuk tenaga pengubur jenazah yang aman (seperti diketahui, penularan ebola dari jenazah amatlah tinggi), misalnya di negara-negara wabah di Afrika, perlu 500 tim pengubur jenazah (lengkap dengan mobil jenazah khusus, alat pelindung diri khusus, pelatihan, dan lain-lain), dan kini baru ada 50 tim di lapangan.

Yang juga perlu mendapat perhatian adalah terjadinya penularan ke luar Afrika. Kasus pertama di AS, terbang dari Liberia masih tanpa keluhan, lalu setelah lima hari di AS baru gejalanya timbul. Artinya, penularan ebola antarbenua melalui pesawat terbang memang akhirnya telah terjadi.

Secara medis, hal yang paling mengkhawatirkan adalah terjadinya penularan pada petugas kesehatan di AS dan Spanyol. Hal ini menunjukkan dua hal. Pertama, inilah pertama kali terjadi penularan ebola antarmanusia di luar Afrika. Kedua, walaupun petugas kesehatan di AS dan Spanyol sudah menggunakan alat pelindung diri lengkap, toh mereka juga bisa tertular ebola dan jatuh sakit.

Belakangan diketahui petugas kesehatan ini tertular karena menggunakan alat pelindung diri tanpa mengikuti prosedur yang benar, baik waktu mengenakan maupun ketika melepas.

Salah satu tantangan lain, sampai 2014 penyakit yang ditemukan pada 1976 ini belum ada obatnya yang ampuh yang dapat membunuh virusnya. Perhatian perusahaan farmasi besar juga tak terlalu besar.

Selain pengobatan terhadap mereka yang sakit, upaya penting mencegah meluasnya penularan adalah menemukan dan mengarantina mereka yang mungkin berhubungan dengan pasien (disebut kontak). Dari satu pasien, dapat ditemukan puluhan dan mungkin ratusan orang yang harus diawasi. Ada lima bentuk pengawasan yang harus dilakukan selama 21 hari sesuai masa inkubasi ebola, tergantung dari pertimbangan epidemiologi yang ada.

Pertama, memeriksa suhu setiap pagi dan sore. Kedua, melarang mereka mendatangi tempat umum. Ketiga, meminta mereka tetap tinggal di rumah sakit (bagi petugas kesehatan). Keempat, meminta warga tak meninggalkan rumah selama 21 hari. Kelima, menyediakan ruangan karantina khusus.

Tentu tak mudah melakukan kegiatan karantina seperti ini. Di AS pernah ada pertimbangan untuk mengarantina semua penumpang satu pesawat terbang waktu ada seorang di antara mereka yang diduga ebola, juga penutupan stasiun di Dallas karena ada seseorang yang dicurigai sakit dan muntah di pelataran stasiun.

Ada juga upaya untuk menelusuri keadaan kesehatan 800 orang yang pernah naik beberapa pesawat yang kebetulan juga dinaiki seorang pasien ebola. Pernah juga ada kapal pesiar yang harus membelokkan arah pelayarannya di sekitar Meksiko karena ada dugaan penumpang ebola di dalamnya.

Belum lagi dampak psikologis bagi mereka yang dikarantina selama 21 hari, tidak boleh kontak dengan orang lain sambil berpikir bahwa dalam tubuh mereka mungkin ada ”bom waktu virus” yang setiap waktu mungkin menyerang dan mematikan.

Bagaimanapun, kemungkinan karantina dalam berbagai tingkatannya memang merupakan bagian dari program penanggulangan penyakit amat menular seperti ebola ini, dan harus disiapkan.

Kesiapan Indonesia

Sampai saat ini belum ada kasus ebola di Indonesia dan juga belum ada di Asia, tetapi tentu kita harus siap dan waspada. Ada lima tahap yang kita lakukan dan harus terus ditingkatkan di Indonesia untuk mengantisipasi ebola yang kini sudah menjadi masalah kesehatan dunia dan sesuai perkembangan ”babak baru” ebola sekarang ini.

Antisipasi pertama tentu kesiapan pintu masuk negara, khususnya bandara internasional. Ada tiga kegiatan di sini. Pertama, ketersediaan pos kantor kesehatan pelabuhan. Kedua, pemasangan thermal scan di bandara. Ketiga, pemberian kartu kewaspadaan kesehatan seperti yang diberikan kepada jemaah haji yang kembali ke Tanah Air. Kita patut bersyukur bahwa sejauh ini tidak terjadi ebola pada musim haji tahun ini.

Antisipasi kedua adalah kesiapan surveilans epidemiologi di lapangan. Hal ini maksudnya agar kalau ada kecurigaan kasus di masyarakat, kasus itu dapat segera ditemukan, dideteksi, ditangani, dan semua orang yang pernah kontak dengan kasus itu ada dalam pengawasan ketat.

Kemungkinan karantina juga disiapkan dalam tahap ini. Dalam hal ini peran pemerintah kabupaten/kota menjadi amat penting untuk pelaksanaannya langsung di lapangan.

Antisipasi ketiga adalah kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan untuk menangani ebola, mulai dari peran pelayanan tingkat pertama sampai ke rumah sakit rujukan yang sudah kita siapkan di seluruh Indonesia. Pelayanan tingkat pertama tugasnya mendeteksi awal dan merujuk kasus yang dicurigai, termasuk menangani kontak yang berhubungan dengan kasus yang dicurigai itu.

Kesiapan rumah sakit bukan hanya kemampuan pengobatan, melainkan juga jaminan agar tak terjadi penularan pada petugas kesehatan, seperti sudah terjadi di negara lain, dan kesiapan kemungkinan karantina di rumah sakit.

Artinya, perlu pelatihan terus-menerus bagi petugas di berbagai lapisan pelayanan dan juga alat serta ruangan memadai, sebagaimana sudah tersedia di rumah sakit rujukan di negara kita, dan harus terpelihara baik.

Antisipasi keempat, kesiapan laboratorium. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan sudah memiliki laboratorium dengan status Biosafety Level 3 (BSL 3), yang di dalamnya pengolahan virus dilakukan dalam alat Biosafety Cabinet 3 (BSC 3). Petugas andal juga tersedia, sejauh ini tidak ada masalah tentang reagen dan prosedur pemeriksaannya.

Antisipasi kelima, komunikasi risiko. Penjelasan ke masyarakat luas amat penting karena pemahaman masyarakat menjadi kunci penting keberhasilan program kesehatan. Masyarakat tak perlu panik dan takut berlebihan, tetapi perlu waspada dan mengenal penyakit ini secara benar.

Kita tak dapat meramal secara pasti bagaimana perkembangan ebola pada masa depan dan apakah akan memengaruhi Indonesia atau tidak. Yang jelas, upaya antisipasi sudah kita lakukan dan akan terus digiatkan sesuai perkembangan penyakit di dunia.[]

________
Tjandra Yoga Aditama, penulis adalah Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan. Dikutip Pinopini.com dari Budisan's Blog dengan perubahan judul. Opini ini telah diterbitkan di harian Kompas, 29 Oktober 2014.

Sumber gambar: MD-Health

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel