Menjadi Betina, Itu Saja

PENGUSUNG gerakan women's lib aliran keras berkukuh bahwa yang membedakan perempuan dan laki-laki hanyalah kemampuan menghamili dan dihamili.

Syukurlah keberadaan lelaki dan perempuan tak sesederhana itu sebab alam punya cara kerja yang berbeda, tak peduli sekeras apa kaum di atas berteriak.

Sejak lahir, secara umum perempuan dan laki-laki punya pembawaan alamiah yang berbeda (tentu saja dengan mengesampingkan mereka yang punya kelainan kromosom).

Rumusan alam itu dicatat oleh Margarete Mitscherlich dalam bukunya Die Zukunft ist Weiblich (Masa Depan adalah Betina). Bukan buku baru, melainkan alam itu sendiri jauh lebih lama dari penulis zaman kapan pun.

Di sini Mitscherlich dengan jeli merumuskan dua kutub betina dan jantan. Pola berpikir betina, weiblich, ditandai sikap penuh tepa selira (tenggang rasa), toleran kepada pihak lemah, bersikap merawat, dan memikirkan penderitaan orang lain yang kontras merupakan lawan dari berpikir jantan, maennlich.

Maennlich memuat hasrat laki-laki menguasai, nafsu agresif, serta kepemilikan jiwa paranoid (simtom penyakit jiwa, merasa terus diuber-uber lawan). Implikasinya adalah ciri-ciri khas maennlich yang sulit mawas diri, curiga pada sesama, suka menyalahkan orang lain, tak mau mengakui kesalahan, dan penuh semangat balas dendam. Singkatnya, megalomania dalam berbagai derajat dan cara.

Itu sebabnya profesi tertentu seperti perawat, guru TK, dan pengasuh bayi 'dikuasai' perempuan sebab natural memang terlahir mengemong dan merawat dunia yang terdekat dengannya.

Namun, tentu saja profesi yang dilibati para perempuan bukan hanya terbatas pada yang tersebut di atas saja. Semua profesi sudah dimasuki perempuan.

Yang menjadi masalah, benarkah perempuan sama sekali tidak menghadapi kesulitan memasuki apa yang beberapa dekade sebelumnya disebut 'dunia laki-laki'? Benarkah segalanya jadi mudah bagi perempuan, bahkan setelah menjadi pemimpin revolusi dan kepala negara bukan lagi hal mustahil?

Fakta mencatat bahwa perempuan banyak mengalami kesulitan dalam 'dunia laki-laki'. Jika tidak, KUHP tentu tak akan mencantumkan pasal yang mengatur ketentuan perbuatan cabul di tempat kerja, terutama jika dilakukan atasan.

Itu baru perkara pelecehan seksual. Belum terhitung kerasnya persaingan di dunia kerja, kesenjangan gaji antara karyawan perempuan dan laki-laki sekalipun kualitas dan kapasitas mereka sama.

Mudah disimpulkan bahwa terbukanya keran berekspresi dan aktualisasi diri tak otomatis membuat perempuan bebas membawa, terlebih mengembangkan, sifat natur betinanya.

Bahkan, ada banyak kasus ketika justru perempuan seperti melempar bumerang kepada weiblich-nya sendiri. Ingat kasus Angelina Sondakh dan Ratu Atut, berikut angka fantastis uang negara yang mereka curi demi kepentingan pribadi? Natur weiblich tidak akan membiarkan mereka merampok uang rakyat (yang banyak di antaranya masih makan nasi aking dan tinggal di kolong jembatan) untuk tas atau sepatu berharga ratusan juta.

Natur weiblich sebaliknya adalah semacam suara hati yang mendorong seseorang bersimpati pada penderitaan orang lain. Peribahasa Jawa mengatakan simbok (ibu) kudu wani nombok. Ibu adalah seseorang yang harus berani berkorban, berani memberi lebih.

Sayang sekali para perempuan ini dengan segenap kesadaran justru membunuh weiblich mereka dan mengangkat tinggi maennlich sebagai ganti.

Penampilan megah sebagai salah satu ukuran utama keberhasilan adalah bagian dari maennlich yang haus pengakuan sebagai bagian dari kekuasaan dan-untuk kepentingan itu-mereka merampok milik rakyat tanpa kira dan minus rasa.

Megawati dan Sonia

Drama keperkasaan maennlich turut dipertontonkan pula oleh Megawati Soekarnoputri. Dalam Kongres PDI terakhir Megawati meradang mengungkapkan amarahnya kepada Jokowi yang dianggap mbalela dan tak lagi manis turut segala kehendak Sang Matron.

Itulah dorongan maennlich: agresif, curiga, ingin menguasai, dan penuh hasrat balas dendam. Bukan hanya itu, peristiwa ini pun dirilis media internasional, di antaranya The Wall Street Journal (11 April 2015) dengan kutipan: "Former President Megawati Sukarnoputri this week delivered an unveiled message to President Joko Widodo: You're a product of the party, and you remain at its service."

Sedikit saja dorongan maennlich dan Megawati dengan gemilang berhasil mempermalukan Sang Presiden bukan hanya di hadapan ratusan juta rakyatnya, melainkan juga di dunia internasional.

Bandingkan dengan yang dilakukan Sonia Gandhi yang menolak jabatan luar biasa strategis sebagai perdana menteri meskipun partainya memenangi Pemilu India 2004.

Keputusan ini diambil Sonia setelah muncul oposisi nasionalis Hindu yang menganggap ia bukan keturunan India asli. Naluri weiblich Sonia mengatakan bahwa mengambil posisi PM yang sesungguhnya merupakan haknya sama artinya dengan menoreh pisau perpecahan bangsa yang berimplikasi pada biaya sosial nan besar.

Nyatanya, keputusan Sonia justru menuai gelombang simpati bangsa India. Kelak ia tetap kukuh dalam eksistensinya sebagai politisi kaliber atas di negara dengan sejarah politik yang kuyup darah dan air mata itu.

Sonia dengan perkasa telah menunjukkan bahwa semangat menjatuhkan lawan serta paranoia oposannya yang mayoritas laki-laki bisa ia patahkan dengan weiblich. Lebih tepatnya, dengan weiblich ia tetap bisa meraih dan mempertahankan kekuasaan selama yang ia inginkan.

Karena itu, perempuan tak perlu jadi laki-laki manakala ia hidup dalam dunia laki-laki yang sesungguhnya sudah luar biasa acakadut ini.

Keperempuanan bisa dijadikan senjata mematahkan ruh dominasi dan arogansi yang kuat dalam dunia laki-laki dan jika weiblich bisa dijadikan alat perlawanan dalam dunia politik yang begitu keras dan kejam, terlebih dalam bidang lain yang lebih lembut dan manusiawi.

Weiblich, seperti yang telah didemonstrasikan Sonia Gandhi, berhasil meredam kericuhan bangsa dan negara. Jadi, sekarang isunya bukan bagaimana peran perempuan dapat merambah ke berbagai bidang, melainkan bagaimana perempuan tetap bisa menjadi perempuan agar bisa memenuhi kodratnya sebagai sang empu.

Menjadi eksis dan mengungguli lawan dengan membunuh weiblich dan jadi maennlich, sesuatu yang bukan dirinya, sama sekali tak patut dibanggakan.

Di mana pun perempuan, ia mesti tetap perempuan. Dan menjadi betina adalah apa yang diperlukan perempuan menyempurnakan kekuatannya.

___________
YUANITA MAYA, penulis adalah penulis lepas dan ibu rumah tangga. Artikel ini pertama kali dimuat di koran KOMPAS, 23 Mei 2015.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel