Memandang Barat​ dan Gadis-gadis Indonesia Pengecat Rambut

Ilustrasi (Foto: IslamicLife)
Oleh Imam Nawawi*

DIAKUI atau tidak, umumnya orang Indonesia masih melihat orang luar negeri (baca Barat) selalu lebih baik dari pada orang Indonesia. Hal ini karena fokus yang dilihat adalah aspek material semata, termasuk fisik orang Barat yang lebih tinggi, hidung lebih mancung dan segala sisi yang berbeda dari bangsa kita.

Sementara orang Indonesia belum seperti orang Barat. Maka, sebagian ibu-ibu dan gadis-gadis di negeri ini banyak yang mengecat rambutnya agar mirip dengan orang Barat. Yang lelaki pun ikut menindik telinga agar sama dengan orang Barat.

Bahkan, fenomena demikian juga berlaku di kalangan kelompok terdidik. Kasus gugatan pasal perzinahan di Mahkamah Konstitusi (MK) misalnya, ada yang menjadikan Belanda sebagai model dengan menyebut, "Belanda itu Kristen taat tetapi tidak memidanakan perzinahan, karena itu privasi".

Tentu masih banyak sisi lain yang selalu merujuknya ke luar negeri. Tetapi benarkah luar negeri selalu unggul, hebat dan patut kita tiru?

Sebagai bangsa yang memiliki falsafah Pancasila, Indonesia sejatinya telah memiliki filter yang cukup baik. Sayangnya falsafah itu lebih sering digunakan sebagai justifikasi untuk menindas mereka yang dianggap mengancam penguasa daripada dihidupkan dalam cara berpikir, bertindak, dan berbangsa-bernegara.

Akibatnya bangsa Indonesia mabuk Barat. LGBT misalnya, kalau ada serangan merujuknya ke Barat.

Bahkan, Aliansi Cinta Keluarga (AILA) disebut lebih berbahaya daripada FPI karena usahanya mengajukan Judical Review ke MK terkait pasal perzinahan dan pemerkosaan. Mengapa? Satu saja, karena yang boleh di Barat akan dilarang di Indonesia. Mirisnya, ada saja anak bangsa yang keblinger mengikuti cara berpikir Barat.

Dalam konteks lebih serius, seorang Mulyadhi Kartanegara sangat cocok untuk kita ikuti cara berpikirnya. Dalam pengantarnya pada buku "Paradigma Sains Integratif Al-Farabi" karya Humaidi.

Putra bangsa yang menekuni filsafat itu menjelaskan bahwa kalau kita sungguh-sungguh memahami dengan benar apa yang menjadi warisan ulama Islam terdahulu dalam mengatasi beragam masalah modern, kita akan banyak mendapatkan solusinya dengan baik.

Ian Richard Netton saja dalam pengantarnya pada buku Ibn Hazm (1163 M) yang berjudul Akhlaq wa al-Siyar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris memberikan judul, Ibn Hazm, Man of Our Time.

Padahal, Ibn Hazm hidup pada abad 13 M. Tapi oleh Ian Richard Netton dikatakan tokoh masa kini, man of our time.

Kata Mulyadhi, ini tidak lain karena masalah-masalah yang digali oleh Ibn Hazm yang merupakan ulama yang juga ahli sastra, filsafat, psikologi dan sosiologi, sesuai dengan konteks kekinian.

Ironisnya, hal semacam ini tidak terungkap ke publik, sehingga pada umumnya masyarakat Indonesia dan dunia secara global terhegemoni oleh cara pandang Barat yang menitikberatkan peradabannya pada aspek material dan fisik dari realitas, akibatnya masalah yang ada tidak benar-benar bisa diatasi.

Akibatnya bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sugistable, gampang niru alias latah dan dipengaruhi, sehingga semua yang ada di Barat, seperti legalisasi LGBT yang terbaru, harus juga ada di Indonesia.

Bahkan sekelas Menteri Agama pun sampai terseret dan menghadiri forum dimana LGBTIQ justru diberi penghargaan. Beruntung masyarakat dan MUI bersikap tegas terhadap ketidakhati-hatian Menteri Agama tersebut.

Kembali pada paparan Mulyadhi. "Manusia itu bukan hanya makhluk fisik, yang punya kebutuhan fisik saja, tetapi juga makhluk spiritual, atau dengan kata lain makhluk dua dimensi. Nah, kalau kebutuhan material saja yang dipenuhi, pastilah akan terjadi ketimpangan," tulisnya (halaman xviii).

Akibatnya dalam menilai keindahan manusia pun, fisik menjadi yang utama. Masih ingatkan tentang bagaimana Indonesia heboh dengan akan diadakannya kontes ratu kecantikan yang di dalamnya ada sesi bikini? Padahal, menurut Buya Hamka, nilai dan bobot yang namanya manusia itu bukan pada wujud fisiknya, tetapi akal budinya.

Seorang sahabat saya pernah bercerita, bahwa kala dirinya kuliah di Kanada dan riset di Belgia, relasi wanita-pria tanpa pernikahan itu biasa. Bahkan dirinya pernah dipanggil profesornya hanya untuk mengatakan bahwa di dunia ini tidak perlu menikah, hanya bikin pantat panas.

Beruntung sahabat saya tadi mengenal Islam dan menjalankannya dengan baik, sehingga ia tetap menjadi Muslim yang taat meski hidup di lingkungan masyarakat yang serba bebas.

Namun, ada keluhan yang dia ungkap. "Kalau kita di sana, Mas. Kita bisa bingung itu, budaya mereka yang benar atau kita yang salah. Kok semua orang kayak gitu," seloroh sahabat yang memecah tawa kami.

Metodologi

Kalau kita mesti belajar ke Barat, maka itulah metodologi. Mereka sangat canggih dalam hal ini. Mungkin disebabkan konsentrasi mereka yang sangat mendalam pada hal material. Mulai dari penataan kota, kebersihan, teknologi dan tentu saja piranti komunikasi dan informasi.

Sampai sekarang kecanggihan metodologi Barat terus berkembang. Selalu saja update penelitian yang mereka rilis di berbagai jurnal dan media.

Dalam hal paling sederhana misalnya, apa kesukaan remaja di Indonesia, mereka cukup melihat dari penggunaan data internet dan segala aktivitas smartphone mereka, sehingga mesti memberikan treatment apa untuk bisnis di kalangan remaja, mereka telah mengantongi data dengan sangat mudah.

Tentu saja, metodologi sifatnya tidak mutlak. Tetapi, ini adalah sisi keunggulan Barat dalam memecahkan masalah dan memunculkan beragam inovasi.

Kalau kita mau pelajari hal ini, maka jelas ini sangat membantu pembangunan di dalam negeri, misalnya bagaimana membangun irigasi, menciptakan listrik tenaga laut, dan lain sebagainya.

Tetapi, cara pandangnya, sama sekali mesti kita pilih dan pilah sebelum selanjutnya diolah. Bahkan dalam beberapa hal, metodologi Barat harus dikritisi. Misalnya metodologi dalam hal studi Islam.

Adian Husaini dalam bukunya Wajah Peradaban Barat menjelaskan bahwa mesti diketahui dan disadari dengan benar-benar, berbagai konsekuensi dari alih metodologi dan impor pemikiran Barat dalam hal studi Islam. Sebab dalam hal agama, Barat pernah mengalami trauma sejarah dengan Kristen.

Adian menulis, "Tidak perlu mengikuti tradisi kaum pemikir Kristen Barat yang kecewa pada doktrin-doktrin dan sejarah agama mereka, lalu mengaplikasikan metodologi sekular-liberal dalam memahami Islam" (halaman xxv-xxvi).

Dengan demikian jelas kesimpulannya, ambil dari Barat apa yang berkaitan dengan materi, tapi jangan dalam hal cara berpikir, berfilsafat dan tentu saja berperilaku kehidupan sehari-hari.

Sebab, dalam hal ini bangsa Indonesia yang mayoritas Islam, kita lebih beradab dan lebih unggul dari negara-negara yang pernah menjajah dunia Timur itu.

__________
*) IMAM NAWAWI, penulis adalah Wakil Ketua Penulis Muda Nusantara (PENA) Pusat

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel