Siapkan Masa Depan Bangsamu, Wahai Pemuda!


AKHIR tahun 2016 lalu, Ketua MPR Zulkifli Hasan dalam sambutannya kala membuka Munas VI Syabab (Pemuda) Hidayatullah VI di Batam memberikan wejangan penting bahwa pemuda Indonesia harus menguasai ilmu, ekonomi dan teknologi.

Senafas dengan petunjuk tersebut, dalam pembukaan Musyawarah Wilayah VI Jabodebek pada Jum’at (20/01/2017) kemarin, pengusaha Sandiaga Salahudin Uno menegaskan bahwa Syabab Hidayatullah mesti memiliki harapan dengan melakukan terobosan-terobosan di berbagai bidang, terutama entrepreneurship yang disebutkannya telah berkontribusi sebesar 7% terhadap Produk Domestik Bruto negeri ini.

Sandi menyebut, dalam jangka waktu 15 tahun kedepan, kontribusi tersebut diproyeksikan akan bertumbuh menjadi 12-15 persen.

Sandiaga mendorong pemuda Hidayatullah untuk ikut mengembangkan perekonomian di daerah maupun di level nasional yang menurutnya peluangnya masih besar. Sebab, berdasarkan data World Bank yang dikutipnya, 50 persen penduduk Indonesia dan juga Jakarta berada di bawah 35 tahun.

“Ini menjadikan pemuda sebagai bonus demografi yang akan memastikan mereka dapat menjadi pemimpin, pengambil keputusan dan menjadi elemen-elemen penting dalam pembangunan bangsa,” terangnya seperti dikutip media.

Lebih dari itu, pehobi basket itu mengutip hadits Nabi bahwa 9 dari 10 pintu rezeki ada di dalam entrepreneurship. Dan, Nabi adalah seorang entrepeneur yang sangat amanah, membangun usaha dengan keimanan dan aqidah serta akhlakul karimah.

Dua pesan di atas sangatlah penting bagi seluruh pemuda di Indonesia, terutama pemuda Muslim untuk bangkit dan bangga sebagai Muslim. “Yes, I am Moslem,” ungkap Sandiaga yang disambut applause hadirin.

Sekarang mari kita melangkah lebih jauh, mengapa dua tokoh bangsa ini memberikan nasihat akan hal tersebut?

Pertama, memang semangat ajaran Islam mengatakan bahwa kebahagiaan hidup di dunia, maupun kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat hanya bisa dicapai dengan ilmu. Dengan kata lain, semakin tidak berilmu suatu bangsa, semakin terpuruklah penduduknya.

Kedua, secara kasat mata, negeri katulistiwa ini sedang menjadi bancakan banyak negara asing untuk dikuasai sumber daya alamnya, dikangkangi kedaulatan ekonominya dan dikelabuhi seluruh penduduk negerinya.

Ada seloroh yang cukup umum di publik, tetapi ini fakta. “Betapa, dalam 24 jam, dari bangun tidur hingga akan tidur, kita tidak bertemu dengan beragam kebutuhan dimana nyaris 100% yang kita gunakan adalah produk bukan hasil karya anak negeri”.

Dalam kata lain, secara ekonomi kita tidak sangat terpuruk. Sementara negara-negara kuat di dunia hari ini sedang berkompetisi menciptakan pangsa pasar seluas-luasnya. Dan, tentu saja, negara yang tidak berkembang dunia kreativitasnya, mandeg budaya ilmu dan entrepreneurship-nya akan dimangsa dengan mudah.

Tentu saja ini tidak boleh terjadi. Apalagi secara historis bangsa ini pernah memiliki kesadaran tinggi dalam hal entrepreneurship dimana pada saat itu, Samanhudi mendirikan organisasi Sarikat Dagang Islam (1908).

Prof. Dr. Slamet Muljana dalam buku Jilid I karyanya yang berjudul “Kesadaran Nasional dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan” menjelaskan bahwa maksud utama Sarekat Dagang Islam didirikan adalah untuk memperkuat usaha menghadapi para pedagang Cina (halaman 121).

Pengaruh Sarekat Dagang Islam terus berkembang meluas ke berbagai daerah di Indonesia. Para pedagang Islam di Yogyakarta juga menyadari pentingnya perjuangan menghadapi kaum kolonialis dari bangsa manapun secara ekonomi (lihat Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI 1997 halaman 277).

Dengan demikian, salah satu pilar yang harus ditegakkan para pemuda bangsa untuk menggapai harapan memajukan kehidupan bangsa adalah sektor perekonomian.

Terlebih bagi pemuda Muslim, Allah telah mengirimkan satu kode gamblang bahwa Nabi akhir zaman kita adalah seorang pedagang. Dan, saat ini kompetisi antar negara kuat adalah menciptakan dan menguasai pasar.

Mari kita ingat sejarah, bahwa Belanda mampu menjajah Indonesia berawal dari ekspansi dunia dagangnya untuk mendapatkan rempah-rempah termasuk cengkeh, pala-fuli, kayu manis dan lada. Karena bangsa Indonesia kala itu kurang berpengetahuan, menjadikan Belanda leluasa menguasai, memerintah, mengajar, menolong dan lain-lain berdasarkan atas kepentingan mencari keuntungan penjajah.

Pertanyaan penting berikutnya, apakah semua harus terjun dalam dunia ekonomi dan dagang ? Tentu saja tidak.

Entrepreneurship menurut Muhammad Asad adalah mindset bukan usaha apa. Dan, ini berkorelasi kuat dengan sikap mental kaum Muhajirin kala tiba dan hidup di Madinah. Semua Muhajirin adalah orang-orang yang mandiri, tidak mau menjadi beban bagi orang lain. Dalam situasi sulit, mereka lebih senang bekerja lalu menghasilkan, daripada menerima bantuan yang tidak berumur panjang.

Terakhir, uraian Dahnil Anzar Simanjuntak selaku Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah dalam opininya di harian Republika (18/1) bahwa sekarang adalah saatnya pengusaha-pengusaha Muslim memanfaatkan peluang pasar internal umat Islam yang begitu besar,  yang telah mampu merontokkan raksasa roti di tanah air.

“Kelak, ekonomi yang mandiri dan kuat, mendorong umat islam memiliki politik bermartabat. Tidak dipermainkan kekuatan modal karena sejatinya, bagi saya pertarungan di pasar politik ini, bukan pertaruangan ideologi,” tulisnya.

Jadi, kesimpulannya jelas, untuk meraih harapan akan kejayaan bangsa dan negara pemuda Muslim harus bangkit dalam segala bidang, terutama entrepreneurship sebagai mindset dan ukhuwah sebagai gerakan membangun ekonomi umat untuk kewibawaan NKRI.*
_________
IMAM NAWAWI, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat (PP) Syabab Hidayatullah

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel