Cinta, Kenapa Kamu Menanyakannya Setiap Hari, Sih?

MUKENA putih bordiran padang itu masih dipakainya, walau hampir setengah jam berlalu dari ibadah Isya yang didirikannya.

Tetiba, suara seraknya yang manja mengusik kekhusyuan suaminya yang sedang membaca.

"Hubbii, apa dia masih ada?"
"Dia siapa?"
"Dia yang mencuri hatimu waktu itu"
"Oooh...si Hajar?"

"Apaaa????, ternyata namanya Hajar, pantesan aku temuin nama itu tertulis indah di sebuah agenda milikmu"

"Haha...Hanaan Hanaan, kamu ni lucu"
"Ga ngegombal, aku serius Hubbii"

"Kan, kamu sendiri yang katakan jika kamu selalu cemburu pada apa dan siapa yang mencuri hatiku, dan kamu yang menamai sesuatu dan seseorang itu dengan Hajar"

"Sekarang, Hubbii jujur, apa dia masih menari-nari dalam benakmu?"

"Rahasia doonk..."

Si istri semakin cembetut dan mengambil buku dari tangan suaminya.

"Hanaan, lelaki itu semakin dikorek apa yang dia timbun, semakin penasaran, biarkanlah kunang-kunang yang berkedip-kedip di hatinya, jangan kamu usik"

"Jadi...dia masih ada?"

"Hanaan, kamu ada di depanku sekarang, hanya kamu, kamu yang menjadi tanggung jawabku yang harus kucintai dan kusayangi, di luar apa yang kamu terima, tanpa kusadari, abaikanlah. Aku ini manusia biasa yang berusaha menjaga diri dan hatiku agar tetap berada dalam ridho Allah, yang karenanya aku ingin kamu juga ridho"

"Aku hanya tak ingin hati dan dirimu mendua, Hubbii"

"Hanaan, apa yang tidak tampak tidak ada kewajiban bagi kita untuk menilainya, biarkan rasa itu hanya pemiliknya yang tahu, akupun tak akan mengusik apa yang ada dalam hatimu, apa yang kamu berikan padaku cukup menjadikanku ridho padamu, terimalah bukti cintaku sebagaimana aku memberikannnya padamu"

"Terimalah maafku, Hubbii. Cinta ini tak ingin dibagi, itu saja"
"Istirahatlah, besok pasti ada cinta baru yang lebih indah"
"Tidaaaaak...jangan memulai lagi, Hubbii"
"Haha...cinta, kenapa kamu menanyakannya tiap hari sih?"

SARAH ZAKIYAH

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel