Kreatifitas Teknologi dan Tradisi Berfikir

PEKAN lalu, saya berkesempatan mengunjungi Kota Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

Pemandangan alam wilayah yang berjuluk kota karang ini sungguh masih indah. Meskipun panas mentari di sana sangat terasa, tetapi kencangnya hembusan angin menjadikan Kupang tetap nyaman.

Setiba di Bandara El-Tari, saya harus menempuh perjalanan 20 km ke arah Barat meninggalkan hiruk pikuk suasana kota. Satu jam kemudian saya sudah berada di Batakte, Kupang Barat, tepatnya di Km 14 Jalan Raya Tablolong.

Di Batakte saya melihat suasana alam yang masih sangat alami. Udaranya terasa cukup segar. Suasananya sejuk karena pepohonan di sana masih dominan. Masyarakatnya pun sangat bersahabat.

Di tengah-tengah suasana alam yang sangat hijau nan sejuk itu terdapat sebuah kincir angin peninggalan Jepang. Kondisinya sudah karatan dan nampaknya memang tidak dimanfaatkan, sehingga tidak ada perawatan.

Penasaran dengan kincir angin itu, saya pun mencari informasi ke penduduk setempat. Dikatakan bahwa kincir angin itu bukan termasuk kincir angin modern yang berfungsi untuk pembangkit listrik, kincir angin itu hanya berfungsi untuk memompa air.

Jika angin bertiup kencang, sekali putar, kincir angin itu bisa menghasilkan air yang sangat banyak. Artinya cukup untuk kebutuhan penduduk sekitar. Pernah suatu ketika penduduk diajak untuk bersama-sama merawat kincir angin tersebut dengan iuran bulanan, tetapi tidak jalan dengan baik.

Situasi seperti itu tentu sangat disayangkan. Meskipun mungkin kebutuhan air para penduduk tidak lagi bergantung pada sumur yang disedot oleh kincir angin, tetapi pembiaran terhadap hasil cipta teknologi itu menurut saya adalah suatu kekeliruan.

Keliru karena dengan seperti itu, berarti tidak akan ada inovasi dalam pemanfaatan teknologi. Akhirnya anak-anak kecil sekarang tidak melihat kincir angin itu kecuali sebagai barang yang tidak menarik untuk dipelajari. 

Padahal, jika dirawat, kincir angin itu bisa menjadi tempat yang asyik untuk menjadi tujuan rekreasi, setidaknya bagi penduduk lokal yang ingin melihat sumur yang tidak umum diketahui manusia. 

Bahkan, jika dikembangkan, mungkin penduduk setempat tinggal beli pipa, dan air akan mengalir seperti rumah penduduk di puncak gunung yang tak perlu pompa air, tidak saja untuk konsumsi, tetapi juga bisa untuk irigasi.

Ketertinggalan
Lemahnya kepedulian penduduk setempat terhadap kincir angin tersebut setidaknya menandakan dua hal. Pertama, memang tidak mengerti cara merawatnya, sehingga dibiarkan begitu saja. Kedua, boleh jadi memang tidak peduli sama sekali. Jadi biar tahu tapi tidak mau tahu.

Tetapi, logikanya sederhana, jika ada yang tahu cara merawat dan memanfaatkannya pasti kincir angin itu akan tetap berfungsi. Karena seperti apapun orang enggan untuk “menyentuhnya” keahlian seseorang akan mendorongnya menghidupkan kincir angin itu sebagaimana tujuan didirikannya.

Berarti secara umum bisa dikatakan bahwa terbengkalainya kincir angin itu lebih karena ketertinggalan bangsa Indonesia. Ironisnya, pemerintah kemana, ya?

Memang tidak masalah tidak mengerti teknologi, tetapi sangat problem bagi negara yang tidak bisa menghasilkan produk teknologi. Coba lihat jalanan di kota-kota besar, mulai dari motor hingga berbagai macam tipe mobil, semuanya dari Jepang, Eropa dan Amerika. Belum ada dari Indonesia.

Padahal, kalau mau serius memproduksi motor dan mobil dalam negeri, negeri ini akan mampu memajukan dan mensejahterakan rakyatnya, karena semua kebutuhan teknologi bisa dihasilkan dari tangan sendiri. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan merambah ke luar negeri.

Kemajuan Jepang, Korea Selatan, Amerika dan Eropa dalam bidang teknologi adalah kunci eksistensi mereka sebagai negara berpengaruh dunia. Sayangnya, fakta ini belum ditangkap secara benar, sehingga sampai sekarang, negeri ini masih suka impor teknologi.

Akibatnya jelas, ketertinggalan di bidang teknologi pun belum terselesaikan. Alih-alih teknologi otomotif dan industri, teknologi pertanian saja kita tidak punya. 

Jika situasi ini dibiarkan terus terjadi, maka selamanya negeri ini akan tertinggal tidak saja dalam hal teknologi, tetapi dalam seluruh bidang kehidupan, sehingga semakin jauh kita semakin ketinggalan. Tidak saja ketinggalan teknologi tetapi juga cara berpikir.

Tradisi Berpikir
“Kalau otak itu tidak berfungsi, lambat berpikir, lemah berproses, atau banyak hambatan, maka organnya otomatis tidak bekerja lagi,” demikian ungkap Rhenal Kasali dalam bukunya, Re-Code.

Artinya, tidak ada cara yang mendesak untuk membangun kesadaran warga negara kita berpacu dalam teknologi kecuali membangun kemampuan berpikirnya. Negara yang “otaknya” lumpuh sebenarnya sudah tidak mampu memberi manfaat apa-apa lagi.

Sebesar apapun anggaran diberikan, seideal apapun undang-undang diterbitkan, dan konsep-konsep hebat diputuskan, tanpa ada otak yang mau berpikir, maka semua hanya akan indah di atas kertas. Di alam nyata, semua hanya cerita, seperti halaman demi halaman buku fiksi.

Kasus lebih menyedihkan pernah saya alami selama tinggal di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kaltim. Bagaimana hampir setiap hari mati lampu. Listrik tenaga uap tak pernah mampu menyediakan kebutuhan listrik yang layak. Padahal, tambang batu bara ada di kampung saya tinggal, Jonggon. Dan, kini sudah merambah tempat saya sekolah, Loa Kulu. Entah ke depan kemana lagi.

Sekarang sudah saatnya semua elemen berpikir untuk kemajuan bangsa dan negara ini dengan cara berpikir besar, berpikir manfaat dan berpikir maslahat untuk rakyat. Sejauh tradisi berpikir ini tidak terbangun, maka sejauh itu tidak akan pernah ada pengembangan teknologi.

Dan, cukuplah suatu negara menyadari, bahwa ketiadaan teknologi warga atau penduduknya, bukti paling nyata bahwa tidak ada tradisi berpikir di dalamnya. Karena berbicara teknologi sebenarnya kita berbicara logika, di mana logika itu hanya akan hadir pada suatu bangsa yang penduduknya mau berpikir dan bersama membangun tradisi berpikir. 

Jika tidak diupayakan, selamanya negeri kita akan menjadi surga teknologi luar negeri. Kita bekerja mencari dan mengumpulkan uang, lalu kita belanjakan untuk mensejahterakan orang lain. Pada saat yang sama kita akan bangga dengan produk luar negeri lalu mencemooh negeri sendiri. Padahal, jika mau, kita pasti bisa.

Dalam Islam, Allah sangat benci kepada manusia yang tidak mau menggunakan akalnya alias tidak mau berpikir. 

“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya” (QS. 10 : 100).*

______
*) IMAM NAWAWI, 
penulis adalah kolumnis. Ikuti juga cuitannya di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel