Mengenal Tokoh Besar Kaltim yang Tak Saja Membangun Keluarga

SETELAH sekian lama, akhirnya saya dapat kesempatan untuk kembali menginjakkan kaki di Benua Etam. Tentu ada banyak kenangan, kesan dan kebanggaan terhadap Tanah Borneo ini.

Dikatakan demikian, karena perubahan drastis yang merubah sistim kesadaran saya berawal dari Benua Etam, tepatnya di bumi Kutai Kartanegara. Kabupaten yang sangat kaya namun belum begitu 'berdaya'.

Namun, terlepas dari apa yang hingga saat ini masih menjadi kekurangan di Kalimantan Timur, sekarang saya ingin mengajak para pembaca untuk mengenal satu tokoh besar Kaltim yang kiprahnya nyata dirasakan di seluruh Nusantara.

Keinginan saya menulis tentang tokoh besar tersebut tak lepas dari pernyataan yang disampaikan oleh Gubernur Kalimantan Timur, Awang Faroek Ishak beberapa hari lalu dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional Hidayatullah di Asrama Haji Batakan Balikpapan (20/6).

Mantan Bupati Kutai Timur itu berkata demikian, "Abdullah Said adalah salah satu tokoh besar yang tercatat dalam sejarah Kalimantan Timur. Beliau adalah tokoh yang harus kita hormati, tokoh yang sangat cerdas, dan kita wajib melanjutkan apa yang telah beliau rintis".

Saya pikir, ungkapan tersebut adalah bentuk apresiasi seorang Awang Faroek yang sepanjang karir hidupnya berad di dunia birokrasi dan pemerintahan. Awang merasa bangga kepada sosok Abdullah Said.

Jika pada umumnya, orang sekolah hanya ingin mendapat ijazah lalu bekerja dan mendapatkan kedudukan dan status sosial yang tinggi. Lain halnya dengan Abdullah Said. Beliau memang tidak menuntaskan studi sarjananya, tetapi beliau tidak pernah berhenti membaca.

Bahkan bangku kuliah ditinggalkannya karena ada agenda besar yang mendesak untuk diwujudkannya. Beliau tidak merasa malu, minder, atau pun inferior terhadap siapapun ketika secara bertahap terus-menerus mewujudkan agenda besar yang telah menghujam benak dan sistim kesadarannya itu.

Berawal dari sebilah parang yang digunakan untuk memotong alang-alang, berangkat dari sebuah gubuk yang digunakan untuk konsolidasi visi, dan bermodal tekad dan semangat, Abdullah Said mendirikan dan membangun Pesantren Hidayatullah di Gunung Tembak Balikpapan.

Kini, setelah perjalanan Hidayatullah mencapai 40 tahun, parang itu sudah tidak terlihat, gubuk itu pun sudah lenyap. Kini, Hidayatullah telah eksis di 286 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Tentu, ini adalah suatu prestasi besar yang tidak mungkin lahir dari gagasan orang yang kerdil.

Oleh karena itu, suatu kebutuhan mendasar bagi para generasi muda bangsa di tanah air untuk mengenal siapa sebenarnya Abdullah Said.

Said adalah seorang pemuda yang mengawali gagasan besarnya dari sebuah langkah praktis, sederhana, dan tidak dipandang apa-apa oleh kebanyakan orang. Tetapi kini, mampu membuat semua orang yang mau berpikir secara objektif, angkat topi atas 'prestasi' fenomenal ini.

Keunikan Abdullah Said
Jika kita telusuri sejarahnya, maka ada sesuatu yang unik pada diri Abdullah Said. Utamanya pada gaya berpikirnya dari seorang aktivis-rasionalis menjadi seorang aktivis dan pemikir yang sufistik.

Hal ini bisa dilihat dari beberapa rekaman ceramahnya yang dalam bahasan tentang "Mengobati Kegersangan Jiwa" beliau memberikan panduan bagaimana menjadikan diri ini bermanfaat bagi ummat.

Dalam sesi ceramah tersebut beliau menegaskan bahwa seharusnya setiap Muslim itu memiliki niat yang tulus, suci dan murni untuk menjadi hamba Allah, sehingga tidak mudah terhinggapi penyakit thaga, seperti; sombong, mudah marah, dendam, iri, dengki, dan berorientasi duniawi.

Niat itu pun tak boleh sekedar niat, tetapi harus diikrarkan dalam pernyataan dan perbuatan. Tanpa itu, maka dalam situasi dan kondisi apa pun generasi Muslim hanya akan menjadi penonton dan tak akan pernah sanggup mengambil peran sebagai pemain, apalagi penentu perubahan.

Dan, niat itu tak cukup hanya dengan ikrar dalam pernyataan dan perbuatan. Harus didukung dengan membangun tradisi kenabian. Sebuah tradisi yang dibangun dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad untuk diamalkan oleh seluruh ummatnya.

Nah, tradisi itulah yang lambat laun akan memberikan dorongan, energi dan kekuatan besar bahkan petunjuk untuk mampu melihat keadaan secara jernih, sehingga akan mengantarkan kita pada keputusan yang tepat, karena tradisi tersebut adalah bentuk kepasrahan kita kepada Allah SWT.

Dasar pemikiran sufistik itulah yang kemudian mendorong Abdullah Said bergerak secara alamiah. Tidak perlu mencari-cari sensasi supaya diapresiasi, apalagi sekedar populer. Tidak perlu melakukan manuver-manuver politik supaya memimpin, apalagi sekedar ingin meraup keuntungan jabatan.

Tetapi cukup dengan melakukan apa yang dilakukan oleh Nabi. Yakni bekerja, berusaha, berdoa dan berupaya penuh kepasrahan kepada Allah SWT dengan segenap kekuatan, kecerdasan dan keikhlasan.

Abdullah Said benar-benar menanggalkan gaya aktivisnya yang notabene hanya mengandalkan kemampuan orasi, diskusi dan demonstrasi. Semua itu beliau ubah dengan melakukan dan menjaga tradisi hakiki kenabian.

Tradisi Kenabian
Apakah yang dimaksud dengan tradisi kenabian itu? Mungkin sebagian teman-teman muda agak asing dengan istilah tradisi kenabian. Bahkan, mungkin ada anggapan yang kurang tepat.

Tradisi kenabian adalah tradisi Nabi sehari-hari. Kalau kita mengikuti tradisi artis, bisa dipastikan rugi. Selain uang kita terhambur, waktu, energi dan konsentrasi belajar pun bisa berserakan.

Tetapi, kalau kita mengikuti Nabi, tidak saja energi kita akan fokus dan mendorong untuk berprestasi, tetapi juga bermanfaat bagi yang lain.

Pertama, membaca. Membaca itu adalah pesan Tuhan kepada Nabi untuk pertama kalinya. Maka, seorang Muslim hendaknya tidak pernah berhenti membaca. Pertanyaannya kemudian membaca seperti apa? Membacalah untuk diamalkan, terutama ketika membaca Al-Qur'an dan Hadits.

Kedua, sholat. Perintah ini bukan perintah main-main, loh. Bayangkan, semua perintah dalam Islam, cukup disampaikan dalam Al-Qur'an.

Tetapi sholat, Nabi harus langsung menghadap kepada Allah. Sholat pun tidak boleh ditinggalkan oleh siapapun; oleh yang sakit, dalam perjalanan, apalagi yang sehat-sehat saja. Maka, dirikanlah sholat sebagaimana Nabi melakukannya.

Ketiga, tandang ke gelanggang. Siapapun kita, mahasiswa, siswa atau mungkin juga remaja dan orang tua. Hendaknya tidak berdiam diri dalam melihat situasi dan kondisi masyarakat saat ini.

Ambil peran dan lakukanlah sesuatu walau kecil. Siapa tau, lambat laun yang kecil itu bisa menjadi solusi. Dalam pemikiran Abdullah Said poin ini ada pada kandungan surah Al-Mudatstsir ayat 1 – 7.

Demikianlah Abdullah Said dalam menempa diri dan membangun sistim kesadarannya, sehingga walaupun Hidayatullah masih perlu banyak berbenah, tetapi kiprahnya benar-benar dirasakan oleh seluruh elemen bangsa.

Terakhir, saya ucapkan Selamat Milad ke 40 Hidayatullah. Dan, seperti ungkapan Gubernur Kalimantan Timur, kami yang muda-muda Insya Allah siap melanjutkan perjuangan mulia beliau, Allahuyarham Ust. Abdullah Said.*

________
*) IMAM NAWAWI, penulis adalah kolumnis. Ikuti juga cuitan-cuitannya di @abuilmia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel