Tentang Hubungan yang Tidak Dapat Dipertahankan

SALAH satu kenyataan hidup yang paling berat diterima oleh manusia adalah kenyataan bahwa hubungan apapun suatu saat akan berakhir. Entah karena kematian, atau sebab-sebab lain di tengah jalan Kehidupan.

Orang yang dengan hatinya menolak kenyataan ini mengeraskan dirinya dengan berbagai pembenaran atas suatu hubungan yang tengah dia jalani. Lalu muncul ketakutan-ketakutan yang semakin hari semakin bertambah besar dan kuat. Ketakutan akan perpisahan.

Akal tidak lagi punya tempat pada diri orang semacam ini. Misalkan saja ada berbagai bukti yang menunjukkan kesimpulan akan perkembangan hubungan yang mulai tidak sehat, dia tetap bersikeras menuruti kecendrungan hatinya yang tidak mau tahu dan penuh dengan ketakutan.

Ketakutan tentang bagaimana dia menjalani hidupnya tanpa hubungan itu. Dia akan menepis semua bukti yang ada dan memanipulasi dirinya sendiri. Memberikan pembenaran-pembenaran yang menenangkan namun menipu.

Dia akan terus-menerus melakukannya hingga benar-benar terlambat. Ketika akhirnya dia tidak mampu melakukan apa-apa lagi selain menerima kenyataan yang menusuk dengan begitu menyakitkan.

Memang berat memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk. Namun kemungkinan itu tetap harus dipikirkan agar hati kita siap. Ibarat obat yang meski pahit tetap harus diminum demi kesembuhan.

Ada yang menolak meminum obat yang pahit itu dengan alasan dia masih merasa baik-baik saja. Lantas tiba-tiba dia ditebas oleh penderitaan yang memilukan ketika dia tak mampu lagi berbuat apa-apa.

Walaupun begitu, jangan sampai pemikiran tersebut memberatkan hati dengan ketakutan-ketakutan yang tidak perlu. Kita mesti memperlakukan kemungkinan tetap sebagai kemungkinan.

Kemungkinan tidak akan berubah menjadi Kepastian sebelum waktunya. Hal yang perlu kita lakukan hanyalah bersiap-siap. Seperti perkataan salah satu karakter di film Bourne, “Harapkan yang terbaik, persiapkan yang terburuk.”

Dalam menjalin hubungan, kita berharap hal-hal yang baik; kelanggengan, keharmonisan, dan yang paling penting: kebahagiaan. Namun kita harus mempersiapkan diri kita untuk kemungkinan-kemungkinan terburuk; perpisahan, konflik, dan yang paling buruk; penderitaan.

Tidak ada gunanya mempertahankan hubungan yang hanya melahirkan penderitaan. Namun ada beberapa penderitaan mesti dijalani demi kebahagiaan yang lebih besar di kemudian hari.

Hanya Kebijaksanaan yang dapat melihat Kebahagiaan itu. Mereka yang belum dapat melihatnya, sebaiknya tidak menghabiskan umur mereka hanya untuk penderitaan yang menghabiskan energi pikiran dan perasaan.

Mereka yang paling jumawa dengan kelanggengan adalah yang paling gampang diterjang perpisahan. Sebab mereka itu tidak sadar, kesombongan akan menutup hati dari merasakan hal-hal negatif yang akan memengaruhi kelanggengan itu, dan akal dari memikirkan kemungkinan buruk yang bisa menerpa kapan saja.

Aku kenal beberapa orang yang seperti itu. Ketika berhadap-hadapan dengan kejumawaan mereka yang dengan yakin berkata bahwa hubungan mereka akan terus bertahan, aku hanya diam.

Bibirku mengucapkan doa. Semoga memang hubungan itu akan dapat terus bertahan. Lalu satu demi satu dari mereka menyerah. Satu demi satu dari mereka kalah. Perpisahan menghantam mereka seperti badai. Kapal mereka pun karam di dalam lautan air mata.

Dari kehidupan mereka aku belajar, bahwa akupun bisa mengalami hal yang sama. Akupun bisa, suatu saat nanti, menyerah dan kalah. Maka aku sebisa mungkin tidak melepas pemikiran akan kenyataan itu dari pikiranku.

Aku tidak ingin jumawa hanya karena saat ini aku bahagia. Aku tidak ingin menutup mata bahwa mungkin di hari nanti, apa yang ada di hatiku, cinta dan rindu ini, akan mati.

Kita adalah manusia. Kita tidak dapat menghapus masa lalu. Kita juga tidak dapat mendekap masa depan dengan pasti. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan setiap momentum yang menghampiri kita dengan sebaik-baiknya.

Melakukan apapun yang diperlukan ketika membuka mata hingga kembali menutupnya untuk terus bahagia. Sehingga akhirnya jika hubungan itu tidak dapat lagi dipertahankan, kita akan baik-baik saja. Semoga.

Ahmad D. Rajiv

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel