Memaksa Meminta Maaf Tanpa Dialog Berdampak Buruk Bagi Mental Anak

SEJATINYA meminta maaf dan memaafkan adalah sifat mulia. Banyak terjadi perselisihan karena ada pihak yang enggan meminta maaf dan tak mau memaafkan.

Meskipun merupakan kebaikan dan perlu membangun kebiasaan memaafkan, namun sebagai orangtua kita sebaiknya tidak memaksa anak meminta maaf setiap ada kesalahan yang dilakukannya.

Tidak sedikit orangtua yang spontan memerintahkan anaknya untuk meminta maaf karena dianggap melakukan kesalahan tertentu tanpa merasa perlu mengetahui kronologinya.



Memaksa anak dengan cara demikian akan membuatnya menjadi terpuruk, tertuduh dan merasa tidak dihargai. Mestinya sebelum menyimpulkan anak bersalah dan menyuruhnya meminta maaf, sebaiknya kita berdialog terlebih dahulu.

Penulis dan ahli parenting, Sarah Ockwell-Smith, mengatakan bahwa memaksa anak untuk mengatakan kata maaf bukan pilihan yang baik menurut para ahli. Karena menyebabkan anak tumbuh menjadi kurang bijaksana.

"Anda justru mengenalkan kebohongan pada anak. Sebab anak tidak merasa menyesal, namun ia harus mengucapkan maaf dan menyesali perbuatannya," tulis Sarah seperti dilansir laman Huffingtonpost.co.uk belum lama ini.

"Belum lagi rasa malu atau marah yang dirasakan anak ketika Anda memaksa anak meminta maaf di depan teman-temannya. Ini justru membuat anak Anda jauh dari rasa bersalah," imbuhnya lagi.

Utamakan Dialog dan Empati

Menurut Sarah, sebenarnya yang membuat anak-anak sulit untuk ucapkan kata maaf usai melakukan kesalahan, adalah karena mereka memiliki sudut pandang yang berbeda dengan kita, orang dewasa. Ya, mereka hanya belum paham dengan sudut pandang salah dan maaf yang sebenarnya.

Satu lagi, anak-anak umumnya belum memahami arti empati. Mereka belum bisa larut dalam perasaan orang lain. Anak Anda masih pakai kacamata kuda, hanya tahu bagaimana perasaannya saja.

Sebab itu, empati sangat perlu ditanamkan pada anak Anda. Empati menjadi elemen penting dalam mengatakan kata maaf.

Anak yang sudah memahami empati, ia bisa merasakan apa yang orang lain rasakan ketika ia melakukan sesuatu pada orang tersebut. Misalnya menarik kursi, padahal Anda sedang ambil posisi duduk. Alhasil Anda terjatuh.

Si kecil baru bisa memahami bahwa Anda terjatuh karena kursi yang ia tarik sebagai lelucon. Apalagi jika anak Anda pernah melihat adegan serupa di televisi, yang selalu diikuti oleh tawa.

Anak Anda diam-diam belajar dari apa yang ia lihat. Lalu ia praktikan.

Padahal sebenarnya, jika si kecil bisa larut dalam perasaan Anda. Ia akan tahu Anda sedang merasakan sakit karena terjatuh. Lalu ia menyesal karena sudah membuat Anda sakit, kemudian lahirlah kata maaf dari bibir mungilnya.

Dekatkan kata “maaf” pada hari-hari si kecil

Membiarkannya juga bukan pilihan yang tepat. Anda perlu mengenalkan bagaimana mengenalkan rasa bersalah, menyesal, dan mengucapkan kata maaf. Berikut beberapa tips seperti dilansir The Asianparent: 

1. Beri contoh bagaimana merasa bersalah dan meminta maaf

Anak ibarat kain putih, ia butuh pengalaman hidup yang ia lihat dan dengar sendiri. Jadi sebelum Anda menegur anak yang enggan mengatakan maaf, sebaiknya berikan contoh kebiasaan meminta maaf.

Misalnya, ketika Anda tidak sengaja menumpahkan minuman pasangan Anda. Jangan ragu untuk meminta maaf kepada suami di depan si kecil.

Akan menjadi nilai plus, jika ada aksi mengambilkan minuman kembali sebagai bentuk permintaan maaf.

Dan, jangan pilih-pilih ungkapkan kata maaf. Jika Anda membuat anak Anda sedih, jangan sungkan untuk meminta maaf padanya. Dari sini anak akan belajar bahwa kata maaf bisa dilakukan oleh siapa saja.

2. Berikan alasan meminta maaf

Pada anak balita, pertanyaan “kenapa” selalu ada di kepalanya. Ketika Anda meminta maaf padanya, bisa jadi dia bertanya-tanya dalam hati.

Utarakan alasan Anda meminta maaf pada si kecil agar ia paham kenapa Anda meminta maaf. Ia sekaligus bisa belajar bahwa ia harus meminta maaf ketika melakukan sebuah kesalahan.

3. Gunakan bahasa tubuh pendukung kata maaf

Sebatas kata maaf tanpa ada penyesalan yang tulus, sama saja. Ungkapan maaf tak hanya sekadar bahasa verbal. Tapi juga termasuk bahasa nonverbal seperti salaman, pelukan, atau mengelus.

Lewat bahasa nonverbal, anak akan lebih mudah mengenal empati, serta ungkapan penyesalan Anda.

3. Ucapkan kata maaf di waktu yang tepat

Jika Anda melakukan kesalahan pada saat itu, segera ucapkan maaf pada saat itu juga. Hindari ucapkan maaf dalam selang waktu beberapa jam atau hari. Bisa-bisa anak Anda lupa dengan momen Anda melakukan kesalahan.

4. Kenalkan momen penyesalan lewat buku cerita

Jika gengsi si kecil masih tinggi, terkadang ucapan Anda kerap tak digubris. Coba temukan buku-buku cerita yang mengambil tema saling memaafkan.

Anak-anak akan lebih mudah menerima ilmu baru lewat aktivitas yang seru. Aktivitas membaca adalah salah satunya.

Mengajarkan sesuatu yang baru pada anak bukan sesuatu yang mudah, tapi bukan berarti sulit. Anda hanya butuh konsisten pada anak.

Satu lagi, jangan lupa berikan pujian pada anak Anda saat ia sudah berhasil merasa menyesal atas perbuatannya dan melontarkan kata maaf ya, Parents.

Orangtua mana yang tidak ingin memiliki anak yang mudah ucapkan kata maaf, terutama jika ia telah menyakiti orang lain. Namun, baikkah memaksa anak meminta maaf saat ia salah?

Memang benar, sikap dan ucapan meminta maaf tidak pernah memandang umur. Baik orangtua atau anak-anak, jika merasa dirinya salah maka sebaiknya meminta maaf. Tapi jangan sampai salah cara mengajarkannya pada anak.

Huffington Post | The Asianparent Indonesia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel