Bagaimana Mengelola Cemburu Dua Anak dengan Usia Berdekatan

DUA ANAK terakhir saya masih kecil-kecil. Usianya berdekatan. Jaraknya hanya 1 tahun.

Foto ilustrasi (Source: Pixabay)
Orang-orang yang pertama kali berjumpa dengan keduanya, akan berpikiran bahwa mereka kembar. Itu karena postur tubuh hampir sama, dan pakaiannya dibuat selalu kembar oleh ibunya.

Saat ini, keduanya berada pada mode aktif-aktifnya. Bahkan bisa dikatakan sangat aktif.

Di rumah, semua yang bisa dijangkau akan menjadi permainan. Piring-piring yang masih berada di keranjang setelah di cuci, diembat tanpa izin. Dijadikan mainan.

Bantal-bantal yang sudah disusun rapi, disambar. Sukses dijadikan kuda-kudaan. Lipatan-lipatan baju di lemari tak luput dari perhatiannya.

Saya beberapa kali membawa keduanya ke masjid. Karena berada di tempat luas (seperti masjid) tidak selalu didapatkannya, maka mereka seperti menemukan alam baru.

Liar dan aktif sekali. Lari ke sana, ke mari. Membuat orang lain gemas ndak karuan. Dan akhirnya sukses menarik perhatian seisi masjid.

Maka, saya lebih sering membawa seorang saja ke masjid. Gantian, biasanya. Dan susahnya, kadang ada yang tidak mau mengalah untuk tinggal.

Ketika giliran kakak dibawa, si adik menangis meronta pingin ikut. Sebaliknya, adik yang dibawa, si kakak merajuk pengen ikut. Yah, masing-masing merasa saya yang paling berhak untuk ikut.

Kalau sudah begini, terpaksa saya gunakan jurus ‘menculik’. Dengan bantuan bundanya, salah seorang dari mereka harus dialihkan perhatiannya.

Bundanya sering mengajak ke belakang, dan membuka tempat makanan. Ketika perhatiannya mulai teralihkan ke makanan, yang satu segera saya ‘culik’ dan berangkat ke masjid.

Tidak hanya soal ke masjid. Soal baju juga demikian. Sore misalnya, sehabis mandi. Adik yang biasanya duluan mandi, otomatis lebih dahulu berpakaian. Ia sudah bisa memilih sendiri baju apa yang akan digunakannya.

Kalau sudah berpakaian sedemikian rapi, giliran si kakak segera mencari bajunya yang paling bagus. Ndak mau kalah. Repotnya, kadang ia lupa bahwa ia belum mandi.

Masih enakan kalau masih urusan pakaian. Yang paling merepotkan adalah ketika tiba-tiba rewelnya datang.

Kadang, ketika si adik rewel karena satu hal, tidak ada cara membujuknya untuk diam selain gendong. Parahnya, si adik kadang lama bertahan di gendongan hingga rewelnya mereda.

Melihat adiknya enak berada di gendongan, si kakak cemburu besar. Ia juga ingin digendong. Dan, mau tidak mau, saya terpaksa harus menggendong dengan beban sekitar 25 kg sekian waktu lamanya.

Menghadapi kasus seperti ini, Ayah Edi pernah mengajarkan saya sebuah cara. Dalam rekaman parenting yang saya dengar darinya, beliau mengajarkan begini.

Jika yang satu digendong, maka arahkan wajah kepada yang satunya. Walaupun ia tidak digendong, ia tetap harus merasa diperhatikan. Sebagai gantinya, ajak dia bermain. Sehingga ia tidak perlu meminta untuk digendong juga.

Pengajaran Ayah Edi ini beberapa kali saya coba. Kadang berhasil, kadang nihil. Jadi, pelung keberhasilannya tidak 100 persen. Tergantung banyak faktor lain.

Jadi, untuk mengelola rasa cemburu keduanya, tidak ada teori khusus. Biarkan berjalan sesuai kondisi. Apa yang dirasa perlu dilakukan saat itu, lakukanlah.

Kita sebagai orang tua yang paling paham dengan situasi dan kondisi anak kita. Ya, tentunya, tetap dalam asas keadilan. Agar tidak ada yang merasa dibedakan dari yang satunya.

_____
*IBNU BASYIER, penulis adalah ayah muda tiga putra, tinggal di Tarakan, Kaltim. 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel