Dikala Ayah Bunda Marah hingga Memukul Anak, Coba Renungi Ini Sejenak

PERHATIKAN ketika anak berkali-kali dibentak dengan suara keras, bahkan tak jarang cubitan mendarat tepat di paha dan tubuh.

Namun, lihatlah. Berkali-kali pula ia lupakan. Dia menangis sesenggukan sejenak hingga kesakitannya usai, lalu kembali memeluk orangtua dengan tawanya.

Ilustrasi: Pxhere.com

Tapi mengapa orangtua terkadang justru lebih berat memaafkan anak mereka, bahkan membebani mereka dengan kesalahan yang ia lakukan bukan karena kehendaknya sendiri.

Beratnya orangtua memaafkan seringkali memberi dampak yang sangat buruk kepada anak bahkan lambat laun anak akan mengikutinya.

Kesalahan bagi manusia itu manusiawi. Tidak ada satupun manusia yang tidak melakukan kesalahan. Tapi, yang terpenting dari kesalahan adalah seni saling memaafkan.

Berikut dampak buruk terhadap anak yang kerap kali mendapat perlakuan kasar orangtua, serta apa yang akan terjadi jika orang tua mengabaikan permintaan maaf.

Anak yang kerap kali mendapat perlakuan kasar maka anak akan sulit percaya kepada orangtua maupun orang lain di sekitarnya. Anak lambat laun akan mengalami krisis kepercayaan diri dan tidak dapat mengendalikan diri dan emosinya.

Hal lain yang terjadi adalah anak kerap kali merasakan kesedihan, merasa tersisihkan, mudah tersinggung dan selamanya akan merasa tidak diperhatikan dan tidak dihargai perasaannya.

Dampak buruk yang di alami oleh anak akan membekas lama, sehingga dapat mengikis rasa empati dan jiwa sosial anak. Maka berhati-hatilah.

Beratnya orangtua meminta maaf kepada anak, menimbulkan efek negatif yang membuat anak membangun jarak. Dan menjadi salah satu penyebab hilangnya keakraban antara orang tua dan anak.

Wajar jika kemudian ia kerap mengespresikan dirinya dengan kenakalan yang tidak terbendung untuk mencari kepuasan dan perhatian.

Sejatinya meminta maaf dengan segala ketulusan kepada anak mengajarkan kepadanya tentang bagaimana melakukan sesuatu dengan benar. Anak-anak lebih intuitif daripada orang dewasa, dan tanpa sadar mengamati perilaku orangtua mereka.

Jika orangtua sendiri bisa mengucapkan maaf lebih dulu dengan sikap yang tulus, maka anak juga akan melakukannya. Sebaliknya jika orang tua dengan berat hati berat melakukkannya begitupun dengan mereka.

Mengapa demikian, sebab anak adalah pantulan keluarganya. Sikap, perangai dan kebiasaan anak merupakan gambaran rumah tangga di mana dia dibesarkan, dan dengan cara apa ia dibesarkan.

Maka orangtua dituntut untuk menjadi mutiara bagi anak-anaknya, yang dapat memantulkan cahaya keindahan sehingga menjadi uswah bagi anak-anak mereka.

Sebagai proses internalisasi nilai-nilai yang baik kepada anak-anaknya, maka tuntutan untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan dan perilaku yang baik kepada anak harus di kedepankan di benak mereka agar secara otomatis anak dapat menirunya.

Anak sejatinya adalah pantulan kejiwaan rumah tangga sehingga orang lain bisa membaca seperti apa potret rumah tangga seseorang dari apa yang ditampilkan oleh anak-anaknya.

Kalau anak ceria, bahagia dan santun, atau sebaliknya, anak selalu judes, murung, dan pemarah, maka potret rumah tangganya tidak jauh dari apa yang ditampilkan anak-anaknya.

Dukungan dan kepercayaan yang di berikan pada sang anak sangat menentukan kualitas karakter dan keperibadian mereka.

Maka orangtua yang hanya tahu mencela segala sesuatu yang anaknya lakukan, niscaya akan menumbuhkan anak-anak dengan pribadi-pribadi yang minder, pesimis, dan pemberontak.

Minder dan pesimis karena merasa tidak cukup dihargai. Memberontak karena terus menerus ditekan oleh suara-suara negatif.

Kepandaian orangtua memposisikan diri adalah kunci untuk membimbing mereka. Orangtua sepenuhnya harus tahu kapan harus memberi hukuman dan kapan harus memberi pujian.

Sebab, tindakan memuji sepanjang waktu atau selalu setuju dengan segala hal yang diperbuat anak juga merupakan sesuatu yang sesungguhnya tidak dibenarkan.

Karena, memanjakan anak sama buruknya dengan kebiasaan mencela. Keduanya menjadikan anak tumbuh sebagai pemberontak.

Jangan egois untuk tidak memaafkan mereka. Beri mereka ruang dan kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka mau dan bisa berubah. Perubahan selalu membutuhkan proses, dan proses selamanya butuh waktu. Bersabarlah.

Belajarlah memaafkan, sebagaimana mereka sangat cepat melupakan. Jangan korbankan mereka, dengan kerasnya hati untuk mengalah.

NASER MUHAMMAD

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel