Ayah Bunda, Anak Merindukan Tatapan Mata Kita, Abaikanlah Gadget Sejenak

APAKAH anda termasuk orangtua yang berbicara kepada anak sembari menatap gadget? Padahal ia sedang berdiri tepat di hadapan anda, menanti respon dengan tatapan mata penuh harap.

Ayah Bunda, sebaiknya jangan lakukan ini, jika anda tidak ingin suatu hari anak andapun akan mengabaikan perintah, bahkan mungkin mengacuhkan teriakan anda di telinganya.

Tidak sedikit orangtua, dan mungkin juga kita, sering menganggap anak ‘tidak ada’. Bilapun ‘ada’, maka gadget jauh lebih penting daripada kehadirannya.



Komunikasi yang buruk kerapkali menjadi awal berbagai masalah hubungan orangtua dan anak. Orangtua menganggap anaknya selalu membangkang, sementara anak merasa orangtua tak memahami jiwanya.

Kesibukan sering menjadi alasan. Terlebih bila nilai-nilai agama tidak diterapkan dalam keluarga. Tak mengerti apa yang sedang digundahkan anak.

Karena interaksi yang hampa, orangtua tak bisa membedakan kapan anaknya berkata dusta, kapan berkata jujur, tak tahu dengan siapa anak bergaul, siapa saja teman dekatnya, atau bahkan jarang untuk memeluknya.

Orangtua tak lagi peka ‘membaca’ bahasa tubuh anaknya, apalagi untuk ‘mendengarkan’ jiwanya. Gadget seringkali dianggap lebih utama. Dampaknya, anak-anak kesepian karena orangtua yang sibuk dalam ilusi dunia maya.

Padahal, jiwa yang terabaikan rentan membuat seseorang menjadi pemurung, tidak percaya diri, pemberontak, atau bahkan melepaskan beban jiwanya dengan cara yang diharamkan agama seperti bunuh diri. Apalagi bagi seorang anak.

Semoga anak kita jauh dari hal-hal tersebut ya, Ayah Bunda. Karena sesungguhnya agama telah memberi petunjuk melalui Rasulullah SAW, bagaimana sebenarnya cara berkomunikasi yang baik.

Rasulullah SAW selalu menunjukkan sikap terbaiknya, baik ketika berkomunikasi dengan istri, sahabat, terlebih dengan anak kecil. Beliau senantiasa mengutamakan kelembutan dan kasih sayang ketika berbicara.

Beliau selalu membuat lawan bicara begitu dihargai hingga sanggup membuat luluh orang kafir sekalipun. Tak hanya mulut yang bersuara, mata beliau pun seakan menyiratkan ikut bicara.

Lantas bagaimana caranya berkomunikasi dan berinteraksi yang baik?

Pertama, hadapkan seluruh badan ke arah lawan bicara. Rasulullah SAW selalu menghadapkan seluruh badannya ke arah lawan bicara ketika ada yang bertanya atau berbicara kepada beliau, hingga beliau benar-benar memandangnya sempurna.

Hal ini beliau lakukan untuk menunjukkan kesungguhan. Ayah Bunda, letakkan gadget, berpalinglah ke arahnya, hadapkan seluruh badan dan tatap matanya, ketika anak anda datang menghampiri ataupun ketika anda ingin menyampaikan sesuatu.

Untuk anak usia belia, merunduklah untuk menyejajarkan arah pandangnya. Berikan perhatian penuh. Cara ini juga akan membantu anda melihat dengan jelas apakah ada yang luka di tubuhnya sekiranya ia telah mengalami pertikaian dengan kawannya.

Kedua, dengarkan cerita anak sampai selesai. Dalam sebuah riwayat diceritakan, ketika datang utusan Quraisy Utbah bin Rabiah mencoba untuk bernegosiasi, Nabi Muhammad SAW membiarkannya bicara sampai selesai, tidak memotongnya.

Setelah itu beliau bertanya, ‘Apakah kamu sudah selesai wahai Abbal Walid?’ Utbah menjawab, ‘Ya, aku sudah selesai. Barulah kemudian Nabi SAW berkata, ’Sekarang dengarkan dariku,’.

Beliaupun membacakan Al Quran surat Fushshilat ayat 13 yangmembuat tubuh Utbah gemetar ketakutan dan langsung kembali ke rumahnya.

Mendengarkan cerita anak secara utuh, selain menunjukkan perhatian, juga memberi kesempatan anda untuk berpikir, sikap apa yang akan anda lakukan.

Bersabarlah untuk tidak memotong pembicaraannya, dan bijaklah dalam menanggapi. Hal ini sangat penting terlebih ketika anak sedang menghadapi suatu konflik dengan kawannya di sekolah dan
membutuhkan dukungan orangtuanya.

Ketiga, bicaralah perlahan, jangan terburu-buru. Nabi SAW tidak pernah terburu-buru ketika berbicara. Kata-katanya jelas dan tegas. Cara ini akan memudahkan lawan bicara memahami makna pembicaraan.

Diriwayatkan dari Aisyah ra., ia berkata, “Rasulullah tidak berbicara cepat sebagaimana bicara kalian ini. Namun beliau berbicara dengan kata-kata yang jelas dan tegas, hingga orang-orang yang duduk bersama beliau dapat menghafalnya.”

Ketika tiba waktu anda untuk memberi respon, bicaralah dengan perlahan dan penuh kasih sayang. Tidak terburu-buru dan gunakan bahasa yang santun. Hadirkan perasaan cinta yang dalam dikala sedang berbicara.

Keempat, sering-seringlah memeluknya. Bukankah memeluk anak adalah sunah Rasul SAW?

Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits; “Rasulullah SAW mencium Hasan putera Ali dimana saat itu ada Aqra bin Habis At-Tamimy yang sedang duduk.

Ia (Aqra) lalu berkata, ‘Aku mempunyai sepuluh orang anak, aku tidak pernah mencium seorang pun dari mererka.’ Lalu Rasulullah SAW menatapnya seraya bersabda, ‘Barang siapa tidak menyayangi, ia tidak disayangi (oleh Allah SWT).’”

Tak perlu menunggu momen khusus untuk memeluk anak. Berbagai penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa memeluk anak akan membuat bonding/ kelekatan batin anatara orangtua dan anak semakin kuat.

BACA JUGA: Wow... Empat Kali Pelukan dalam Sehari Bisa Jadikan Anak Hebat Seperti Ini

Ketika anak merasa begitu dicintai dan diterima secara utuh, maka komunikasi akan mudah terjalin.

Ayah Bunda, pengasuhan adalah sebuah proses. Bersabarlah dan berusahalah terus dalam memahami jiwa anak. Bila gagal mendengarkan jiwanya hari ini, cobalah di kemudian hari.

Jiwa anak kian sempurna karena mendapat perhatian yang terisi penuh dari dalam keluarga. Kejiwaan yang stabil akan membuat anak percaya diri dalam menghadapi dunia luar.*

___________
*) LISDIA PRAMUHASTI, editor Keluargapedia.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel