Hubungan Orangtua dengan Anak, Cukupkah Dalih Biar Singkat Asal Berkualitas?

KERAPKALI orangtua yang super sibuk dengan dunia kerja atau meniti karirnya, lupa akan perannya di tengah keluarga.

Bukan hanya lupa akan posisinya sebagai seorang istri atau suami, ia pun lupa akan peranannya sebagai seorang ayah  atau ibu bagi anak-anaknya.

Tak sedikit orangtua yang terjebak dalam dilema ini, sehingga kadangkala memunculkan semacam tuntutan dalam diri kapan punya waktu lebih banyak untuk anak-anak mereka.

Dalam level yang tertentu, orangtua justru menganggap ini sebagai situasi normal dan dianggap sebagai kebenaran dengan dalih, "kami sibuk demi nasib anak-anak kelak". Ironis.


Bagi sebagian orangtua berpandangan tidak mengapa punya waktu yang sedikit yang terpenting adalah kualitas.

Lantas, bagaimana pula memberikan sesuatu yang berkualitas kepada seorang anak yang bertemu saja sangat jarang? Dan, bagaimana mengukur bahwa pertemuan itu memang benar-benar berkualitas?

Orangtua mesti memahami bahwa kualitas sebuah pendidikan dalam keluarga itu harus ditanam sejak dini dan harus terus di kawal hingga benar-benar matang. Sebab, jika tidak, maka anak-anak akan menjadi korban "malpraktek" orang tua.

Jika sejak dini orangtua tidak menanamkan kebaikan sebagai figur anak, maka niscaya lingkungan dan keadaanlah yang akan mendidiknya. Dan entah ia  akan menjadi apa tergantung dengan lingkungan, dan sederas apa lingkungan itu mempengaruhinya.

Anak adalah amanah Tuhan kepada ayah dan ibunya. Oleh karena itu menjadi wajib bagi orangtua menjalankan amanah kepengasuhan tersebut. Anak harus dipelihara, dididik dan dibina dengan sungguh-sungguh agar kelak menjadi anak yang baik.

Maka, kewajiban orangtua terhadap anaknya bukan hanya memenuhi kebutuhan nafkah dan memberinya pakaian semata, atau kesenangan yang sifatnya materil.

Tetapi, lebih dari itu, orangtua harus mengarahkan anak-anaknya untuk  mengerti tentang kebenaran, mendidik perangainya, memberinya contoh yang baik-baik serta mendoakannya.

Oleh karenanya, bagi para orangtua hendaknya kembali ke dalam peran mereka untuk memberikan waktu totalitasnya untuk mengemban amanah Ilahi dengan mendidik anak-anak mereka serta memberikan hak-hak mereka yang tegeser oleh kesibukan bekerja.

Jika kesibukan bekerja menjadi alasan sehingga waktu interaksi dengan anak menjadi terbatas. Atau, semata ingin memburu materi untuk memenuhi hasrat dunia atau resah akan persaingan kerja yang penuh persaingan. Maka, ingatlah Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan  (kamu). Kami akan memberi rizki kepada kamu dan kepada mereka” [Al-An’aam/6 : 151]

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepada kamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang sangat besar” [Al-Israa/17 : 31].

Kemudian, pesan Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam: 

“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051).

NASER MUHAMMAD

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel