Mengapa Anak Antisosial dan Begini Sebaiknya Peran Orangtua Mengatasi

ORANGTUA acapkali stress dengan kondisi anak yang memiliki gangguan kepribadian antisosial (antisocial personality disorder).

Antisocial Personality disorder adalah kondisi mental kronis dimana cara berpikir seorang anak serta cara mengamati situasi, dan cara berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi normal dan bahkan destruktif.

Gejala gangguan kepribadian antisosial dapat dimulai pada masa kanak-kanak dan sepenuhnya terimplementasi pada usia 20-an dan 30-an.

Anak dengan gangguan kepribadian ini biasanya tidak peduli dengan nilai benar dan salah serta sering mengabaikan hak-hak, keinginan, dan perasaan orang lain.

Orang dengan gangguan ini cenderung memusuhi, memanipulasi, atau memperlakukan orang lain dengan kasar atau dengan tidak berperasaan.

Yang terparah, mereka kerapkali melanggar norma dan hukum atau membuat keributan namun tidak menunjukkan rasa bersalah atau penyesalan sedikitpun.

Semua karakteristik itulah yang kemudian membuat anak dengan gangguan kepribadian antisosial tidak dapat memenuhi tanggung jawab yang berhubungan dengan keluarga, pekerjaan, atau sekolah.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seorang anak menjadi antisosial.

1. Pola asuh keluarga

Orangtua yang tidak menerapkan aturan-aturan di dalam keluarga sehingga membuat anak menjadi tidak terorganisasi.

Orangtua yang terlalu "menyayangi" anaknya/membela anaknya walaupun salah/melindungi anaknya dari kesalahan sehingga membuat anaknya menjadi manja. Anak sepenuhnya tidak menyadari mana yang bisa dan tidak bisa dilakukan.

2. Figur Orangtua

Orangtua yang tidak mempunyai model yang baik, orangtua yang mempunyai perilaku antisosial menyebabkan anak-anaknya mengikuti model dari orangtuanya. Kehilangan orangtua atau tidak adanya figur orangtua juga menyebabkan anaknya tidak dapat menemukan model yang akan dicontohnya.

3. Lingkungan

Salah satu perkembangan dan kepribadian manusia umumnya banyak ditentukan oleh faktor lingkungan. Lingkungan sangat besar dampaknya bagi tumbuh kembang anak.

Lantas bagaimana kita mengatasi masalah antisosial pada anak?

Pertama, pola asuh keluarga menjadi demikian penting untuk kemudian diperhatikan oleh siapapun yang telah dianugrahkan padanya anak.

Apalagi kedudukan anak dalam Islam bukanlah sebuah asesoris semata tapi tanggung jawab besar yang akan dipertanggung jawabkan di hadapan pencipta kelak.

Kedua, figur orangtua haruslah merupakan cermin yang dapat memantulkan kebaikan baik secara verbal maupun nonverbal agar menjadi tempat bagi anak untuk bercermin dan meniru apa yang harus dan tidak harus di lakukan oleh anak. Sebagaimana Ismail adalah merupakan pantulan ayahhnya, Ibrahim.

"Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya." (QS al-Mumtahanah: 4).

Ketiga, lingkungan. Anak merupakan anugerah, karunia dan nikmat Tuhan yang terbesar yang harus dipelihara, sehingga tidak terkontaminasi dengan lingkungan.

Oleh karena itu, sebagai orangtua, maka wajib untuk membimbing dan mendidik sesuai dengan kehendak kemanusiaan kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Dan, menjauhkan anak-anak dari pengaruh buruk lingkungan dan pergaulan. Wajib mencarikan lingkungan yang bagus dan teman-teman yang berkelakuan positif.

Lingkungan sangat berpengaruh bagi perkembangan karakter anak. Bila anak berada pada lingkungan yang baik maka akan dapat memberikan pengaruh yang baik pula bagi perkembangan karakter anak, dan begitu juga sebaliknya.

Kita sebagai orangtua dituntut harus jeli dan pintar-pintar memilihkan lingkungan yang baik bagi anak, karena akan menentukan perkembangan karakternya di kemudian hari

Lingkungan ini dapat dimisalkan seperti lingkungan tempat Anda tinggal, lingkungan bermain anak Anda, ataupun lingkungan sekolah anak Anda.

Anak merupakan anugerah, karunia dan nikmat Tuhan yang terbesar yang harus dipelihara, sehingga tidak terkontaminasi dengan lingkungan yang tidak baik.

Lingkungan mempunyai pengaruh sangat besar dalam membentuk dan menentukan perubahan sikap dan perilaku seseorang, terutama pada anak-anak. Bukankah kisah pembunuh 99 nyawa manusia yang akhirnya lengkap membunuh 100 nyawa itu berawal dari pengaruh buruknya lingkungan?

Sehingga, nasihat salah seorang ulama supaya pembunuh tersebut mampu bertaubat dengan tulus dan terlepas dari jeratan kelamnya dosa, ialah agar ia meninggalkan lingkungan tempatnya bermukim dan pindah ke suatu tempat yang dihuni orang-orang baik yang selalu beribadah kepada Tuhan.

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

“Seseorang tergantung agama temannya, maka hendaklah seorang di antara kalian melihat teman bergaulnya”.

Olehnya para ayah dan ibu perlu selalu memastikan anak mendapatkan perhatian yang cukup serta memberikan pola asuh, teladan yang baik sebagai figur orangtua, serta peran lingkungan bagi anak.

Maka, diharapkan orang tua dapat mencapai tujuan dari pendidikan anak, serta dapat memetik hasil terbaik dari kepenatan mengasuh mereka.

"Anak-anak adalah amanat di tangan ibu bapaknya, hatinya masih suci ibarat permata yang mahal harganya, maka apabila ia membiasakannya pada suatu yang baik dan dididik, maka ia akan besar dengan sifat-sifat baik serta akan bahagia di dunia dan di akhirat". (Imam Al-Ghazali)

NASER MUHAMMAD

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel