Ketika Orangtua Marah kepada Anak, Supaya Ditakuti atau Berharap Dihormati?

MENYIKAPI sesuatu dengan amarah itu manusiawi. Namun perlu diukur kapan harus melakukannya dan kapan tidak perlu.

Marah yang mendidik itu adalah salah satu bentuk sikap ketidaksenangan orangtua terhadap perilaku anak namun tetap disampaikan dengan cara yang bijak.

Orangtua sering kali hilang kesabaran ketika menghadapi kenakalan anak, seperti rewel, berkelahi, mencuri, tidak patuh, dan sebagainya.

Amarah itu diekspresikan dengan berbagai macam cara mulai dari bentakan, ancaman, hingga pukulan secara fisik dilakukan oleh orangtua, maksudnya supaya dapat meredam kenakalan mereka.
Lantas pertanyaannya, apakah cara-cara tersebut efektif?


Kemarahan orangtua terhadap anak kadangkala dipicu oleh banyak hal, salah satunya terkadang untuk menegaskan kepada anak akan statusnya sebagai orang tua yang harus dihormati. Namun seringkali anak bukan malah hormat, melainkan takut.

Orangtua yang tadinya ingin mendapatkan kewibawaan di hadapan anaknya, justru malah menjelma menjadi sosok yang menakutkan bagi anak. Akhirnya bukan kewibawaan yang hadir justru malah ketakutan bagi anak.

Yang terjadi kemudian, anak bukan justru melaksanakan perintah orangtua karena merasa bertanggung jawab, tetapi justru karena merasa takut.

Dampak turunannya, anak hanya akan mengerjakan sesuatu, disaat berada di bawah pengawasaan orangtuanya saja. Saat orang tuanya tidak berada disisinya, maka ia pun melalaikan seluruh perintah orangtuanya sebab merasa tak diawasi.

Orangtua Berwibawa

Sejatinya kewibawaan itu bukan dihasilkan oleh kemarahan yang tidak terukur dan serampangan, tetapi oleh integritas dan moralitas orang tua dalam mendidik putra putrinya.

Menjadi orangtua sangat dibutuhkan kesabaran yang ekstra. Sudah menjadi tanggung jawab orangtua untuk dapat mengendalikan anak-anak mereka. Akan tetapi, bukan dengan cara kekerasan fisik dan kata-kata kasar.

Anak-anak butuh waktu untuk bisa memahami segala sesuatu, sebab kitapun dulu waktu seusia mereka juga melakukan kenakalan yang sama, dengan yang mereka lakukan.

Kadang memarahi anak tidak bisa dihindari, bahkan karena beban kerja yang dimiliki orangtua disulut karena berbagai macamnya perangai anak-anak.

Namun, sebelum orangtua memarahi anak sehingga menjadi kebiasaan yang terus menerus. Orangtua perlu memperhatikan dampak buruk jika anak sering dimarahi.

Seorang Neuroscientist di Chicago Medical School, Lise Eliot, Phd, dalam bukunya, "Whats going on in There? How The Brain and Mind Develop in The First Five Years of Life", mengemukakan fakta menarik.

Lise menceritakan sebuah fakta yang begitu mencengangkan. Ia melakukan sebuah penelitian terhadap perkembangan otak bayinya sendiri. Lise memasang seperangkat alat khusus di kepala bayinya.

Alat itu lalu dihubungkan dengan kabel-kabel komputer agar dia bisa melihat setiap perubahan yang terjadi dalam perkembangan sel otak anaknya melalui layar monitor.

Saat bayinya bangun, dia memberinya ASI. Ketika bayinya minum ASI, Lise melihat gambar-gambar sel otak anaknya di layar monitor sedang membentuk rangkaian yang indah.

Ketika sedang asyik menyusui, tiba-tiba bayi Lise menendang kabel komputer. Si ibu sontak kaget dan berteriak keras, "No!".

Ternyata, teriakan si ibu membuat bayinya kaget. Saat itu juga Lise melihat gambar sel otak anaknya di layar monitor terus menggelembung seperti balon, semakin membesar dan akhirnya pecah. Selanjutnya terjadi perubahan warna yang menandai kerusakan sel otak.

Memarahi anak dengan bentakan-bentakan kasar dapat merusak visual anak seperti motorik dan sensorik yang akan mempengaruhi perilaku dan pola pikir mereka. Selain itu juga akan menyebabkan anak mengalami gangguan tumbuh kembang.

Maka, sadarilah betapa pentingnya kelemahlembutan orangtua dalam mendidik anak-anak. Tahan diri ketika ingin berteriak di depan anak, memukul mereka, atau menyakiti mereka dengan makian dan cubitan.

Ingatlah salah satu wasiat terpenting yang Rasulullah sinyalir dalam haditsnya, yang di peruntukkan bagi siapapun yang ingin menggapai surga Allah:

"Jangan marah, bagimu surga" (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab sahih At-Targhib no. 2749)

Marah yang Positif

Sebuah kisah nyata menarik, yang kemudian bisa di petik ibrahnya oleh orangtua dalam mengimplementasi marah positif, yang akan kami ceritakan berikut.

Syahdan, ada seorang ibu yang yang memiliki seorang anak. Suatu hari sang anak sedang asyik bermain-main tanah. Sementara sang ibu sedang menyiapkan jamuan makan yang diadakan sang ayah.

Belum lagi datang para tamu menyantap makanan, tetiba kedua tangan bocah yang mungil itu menggenggam debu. Ia masuk ke dalam rumah dan menaburkan debu itu diatas makanan yang tersaji.

Tatkala sang ibu masuk dan melihatnya, sontak beliau kaget dan marah sembari berkata, "idzhab ja'alakallahu imaaman lilharamain," Pergi kamu! Biar kamu jadi imam di Haramain!"

Tahukah bahwa kini anak itu telah tumbuh dewasa, dan bahkan sebagaimana perkataan ibunya dahulu, anak itu kini telah menjadi imam di masjidil Haram!.

Siapa anak kecil yang di doakan ibunya saat marah itu? Beliau adalah Syeikh Abdurrahman as-Sudais, Imam Masjidil Haram yang nada bacaan qurannya menjadi sangat favorit di kalangan pemuda muslim di seantero dunia.

Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits,

"Janganlah kalian mendoakan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitupun untuk anak-anakmu, pembantumu, juga hartamu. Jangan pula mendoakan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat dimana Allah mengabulkan doa kalian"(HR. Abu Dawud)

Kisah di atas adalah ibrah yang menarik untuk direnungkan bagi para orang tua. Hendaknya para orangtua menjaga lisan saat marah dan ada baiknya selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anaknya.

Bahkan, meskipun orangtua dalam kondisi dan posisi marah sekalipun. Sebab meyakini bahwa diantara salah satu kondisi dimana doa seseorang tak terhalang oleh sekat adalah doa orang tua untuk anak-anaknya.

Olehnya, terlepas dari betapa suram masa kecil Anda dulu atau betapa tegas (atau keras) orangtua Anda telah mendidik Anda selama ini, ketahuilah bahwa anak-anak Anda saat ini adalah pribadi yang berbeda.

Anda boleh saja menerapkan pola pengasuhan yang sama seperti yang Anda terima dari orangtua Anda dulu atau Anda ingin menerapkan pola pengasuhan yang baru, itu semua terserah kepada Anda.

Namun, ingat, bahwa anak sangat bergantung dengan apa yang dilihat dan dirasakan. Apa yang ia lihat itu juga yang akan dilakukannya, dan apa yang dirasakan ia juga akan lakukan pada orang lain.

_______
*) NASER MUHAMMAD, penulis adalah Kadepdatin PW Syabab Hidayatullah Kaltara dan kontributor Keluargapedia.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel