Mengetahui Sejak Dini Cara Kreatif Anak Belajar, Agar Ayah-Bunda tak Keliru Menilai

ORANGTUA seringkali bingung agar bagaimana si buah hati paham dengan penjelasan serta arahan yang diberikan. Kemungkinan salah satu penyebabnya karena orangtua tidak paham gaya belajar sang anak.

Orangtua perlu memahami bahwa secara umum, ada tiga gaya belajar anak, yaitu visual (penglihatan), auditori (pendengaran), dan kinestetik (gerak).

Agar anak belajar dengan optimal, sebaiknya menyesuaikan dengan gaya belajarnya. Lantas, bagaimana mendeteksi bahwa anak itu memiliki gaya belajar visual, auditori, atau kinestetik?

Ilustrasi, source: Pixabay

Pada umumnya gaya belajar anak bisa di deteksi sejak masuk ke taman kanak-kanak, sebab di sana anak-anak sudah mulai banyak berinteraksi dan bereksplorasi dengan bahan-bahan alam dan yang lainnya. Kalau masih terlalu kecil belum kelihatan bagaimana gaya belajarnya.

Selanjutnya, anak mungkin saja memiliki ketiga gaya belajar tersebut secara alami bersamaan. Tetapi, pada umumnya ada satu gaya belajar yang lebih dominan terlihat.

Oleh karena itu. Orangtua mesti paham bagaimana memperlakukan anak sesuai dengan gaya belajar dominannya, agar dapat menemukan formula yang pas dalam mengimbangi gaya belajar sang anak.

Anak yang dominan pada gaya belajar visual, tentu akan lebih mudah mengerti jika diberikan gambar, video, atau film. Namun kendala yang dihadapi oleh anak dengan gaya belar visual adalah anak mudah terganggu jika ada sesuatu yang mengganggu penglihatannya.

Misalnya, jika anak ini tengah belajar di kelas, lalu ada orang lewat. Maka dia akan otomatis terdistraksi oleh sesuatu yang bergerak di sekitarnya. Sehingga dia tidak bisa, jika diajak belajar tanpa TV dimatikan (meski mungkin suaranya di-mute).

Kelebihannya, anak-anak tipe ini biasanya mempunyai ingatan fotografis. Dia dengan mudah dapat mengingat sesuatu dari bentuk, penampilan, warna dan sebagainya yang berhubungan dengan visual.

Pada umumnya anak dengan gaya belajar visual suka menggambar, suka memperhatikan detail gambar, dan memperhatikan gejala-gejala fenomena alam yang terjadi di sekitarnya.

Oleh karena itu saat belajar, anak dengan gaya belajar visual, akan lebih mudah menghafal jika mereka dibantu dengan mind mapping, diagram alur, dan gambar-gambar dalam buku-buku catatan.

Sedangkan anak yang memiliki gaya belajar auditori atau pendengaran yang dominan maka ia cenderung mudah terganggu jika ada suara berisik. Jadi, saat dia belajar, pastikan kondisinya cukup sunyi.

Anak dengan gaya belajar auditori lebih mudah menyerap informasi melalui pendengarannya. Anak ini akan lebih mudah memahami sesuatu ketika dibacakan cerita, dibanding ia membacanya sendiri tanpa suara.

Tipe ini adalah tipe anak yang konvensional, yang cocok bersekolah yang juga menerapkan cara konvensional. Guru menerangkan di depan kelas, dan anak-anak diam menyimak dan mencatat.

Mereka mungkin sekilas saja tidak memperhatikan. Tapi, percayalah, sebab anak dengan gaya belajar auditori adalah pendengar yang baik.

Ciri paling menonjol dari anak tipe auditori adalah mereka aktif di berbagai diskusi kelompok, dan mampu menghafal lagu dengan cepat.

Berbeda dengan anak dengan gaya belajar kinestetik. Untuk belajar dengan baik, anak dengan gaya ini tidak bisa hanya duduk manis saja. Saat membaca, anak dengan gaya belajar kinestetik akan lebih mudah mengerti jika membaca sambil menunjuk huruf di buku.

Seorang anak kinestetik tidak bisa hanya diam mendengarkan dan melihat, mereka harus melakukan sesuatu. Sembari guru membacakan materi, misalnya, mereka akan menandai hal-hal penting di bukunya dengan marker, digarisbawahi, atau digambari. Jadi, jangan pernah heran jika buku catatan mereka berantakan sekali.

Mereka akan sibuk membuat diagram alur untuk menjelaskan suatu proses, dan suka membuat kerajinan tangan. Namun kendalanya biasanya ia akan merasa terganggu jika ada yang menyentuhnya.

Lalu bagaimana agar orangtua dapat mendeteksi gaya belajar anak sejak dini. Untuk mendeteksi gaya belajar anak, salah satu cara untuk bisa mengenalinya adalah dengan finger print test atau tes sidik jari, atau psikotes terhadap si anak.

Orangtua bisa membawa si kecil menemui psikolog anak dan minta untuk dilakukan finger print test. Saat hasil finger print test keluar, nanti akan kelihatan kecenderungan gaya belajar yang mana yang pas buat si kecil.

Fungsi finger test print juga bukan sekedar menganalisis gaya belajar saja, bahkan bisa untuk menjadi indikator karakter psikologis si kecil, apakah dia termasuk sanguinis, melankolis, koleris, atau phlegmatis. Keempat karakter psikologis tersebut juga bisa digunakan oleh orangtua untuk menyesuaikan gaya belajarnya.

Namun jika ingin yang lebih sederhana, maka orangtua harus sering menghabiskan waktu dengan sang anak. Orangtua perlu mengobservasi anak dan lebih peka terhadap tumbuh kembangnya.

________
*) NASER MUHAMMAD, penulis adalah pegiat literasi pada Komunitas Menulis Online Indonesia (KMO-I) dan kontributor keluargapedia.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel