Empat Nilai Penting yang Perlu Diteladankan Orangtua Pada Si Kecil

SETIAP orangtua tentu merasa bahagia bila melihat anaknya tumbuh menjadi anak yang pandai dan cerdas.

Tetapi, yang terpenting bagi orangtua sesungguhnya adalah mengasah kecerdasan emosional anak dan membekali anak-anaknya dengan nilai-nilai kepribadian yang positif.

Ilustrasi ayah dan anak perempuannya (source: Pixabay)

Dengan bekal itu si anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan berjiwa besar. Menggiring seorang anak agar menjadi pribadi yang mampu bertanggung jawab atas kepandaian dan ilmu yang dimilikinya.

Serta, mampu bertanggung jawab dalam setiap tindak tanduknya agar bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Di mana anak menjadi pribadi yang berjiwa besar dan memiliki kematangan emosional yang baik agar siap menghadapi kehidupan dengan segala problematikanya. Karena kepandaian dan kecerdasan intelejensia saja tidaklah cukup.

Proses yang harus dilalui orangtua untuk menggiring seorang anak menuju pribadi yang berjiwa besar dan memiliki kematangan emosi yang baik, tidaklah berlangsung dalam sekejap mata sebagaimana proses dipindahkannya singgahsana sulaiman oleh sang alim Ashif bin Barkhiya.

Sebab, selain membutuhkan waktu yang panjang, proses tersebut juga membutuhkan dasar yang kuat yang tentunya sedini mungkin sangat perlu untuk diupayakan oleh orang tua.

Tak heran jika anak yang tidak dipahamkan tentang nilai sejak dini akan tumbuh dengan harga mahal yang harus dibayarkan saat orang tua menua.

Kasih sayang tulus yang diberikan sejak kecil hanya akan dibalas dengan uang yang diberikan kepada orangtua sebagai wujud balasan telah membesarkanya.

Untuk itu, berikut nilai-nilai penting yang harus diajarkan orang tua kepada anaknya, agar tumbuh dengan pribadi yang bernilai budi pekerti baik :

1. Nilai Agama

Agama merupakan nilai tertinggi yang mesti ditanamkan orangtua pada anak-anaknya. Karena agama itu nasihat, nilai agama yang ditanamkan sejak dini akan menggiring sang anak untuk mengetahui yang halal dan haram serta baik dan buruk.

عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, hadits no. 55 dan no. 95).

Olehnya Rasulullah sejak dini telah memperaktekkan nasihat agama kepada anak kecil sebagai contoh nasihat nabi kepada si kecil Ibnu Abbas,


عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))

Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. 

Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: 

Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalahkepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

Sebagaimana juga diceritakan oleh sahabat Umar bin Abi Salamah radhiallahu’anhuma:

: كُنْتُ غُلاَمًا فِي حِجْرِ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ، فَقَال لِي رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ، وَكُل بِيَمِينِكَ، وَكُل مِمَّا يَلِيكَ

Sewaktu aku masih kecil, saat berada dalam asuhan Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam, pernah suatu ketika tanganku ke sana ke mari (saat mengambil makanan) di nampan. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “wahai bocah, ucaplah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu, serta ambil makanan yang berada di dekatmu”. (HR. Bukhari no.5376, Muslim no.2022)

Dan lihat apa yang terjadi pada dua anak kecil yang di didik dengan nilai agama oleh nabi sejak dini mereka tumbuh dewasa dengan pribadi-pribadi yang demikian menawan dan menakjubkan sepanjang sejarah umat manusia.

Ibnu abbas misalnya, menjadi seorang yang pakar dalam tafsir Alquran dan pakar dalam ilmu agama lainnya, hingga beliau digelari “Habrul Ummah” (Ahli Ilmu Umat ini). Ia juga bergelar Al Bahru yang berarti samuderanya ilmu.

2. Nilai Cinta dan Kasih Sayang

Sejak dini cinta dan kasih sayang perlu di bentuk untuk membingkai kehidupan anak-anak sebagai nilai yang penting.

Anak-anak yang dibesarkan dengan penuh cinta diharapkan akan menjadi pribadi yang penuh cinta bagi kehidupan dan lingkungannya kelak.

Mereka yang hatinya penuh cinta dan kasih sayang juga akan bertindak berdasarkan cinta dan kasih sayang untuk orang lain.

Anak-anak yang hidup dalam lingkungan penuh cinta dan kasih sayang akan tumbuh dan berkemang lebih baik, lebih percaya diri dan lebih sehat secara fisik maupun psikisnya.

Bukankah kasih sayang merupakan bukti keimanan, sebagaimana yang di sinyalir dalam sabda Rasulullah pada hadits Ke-13 Arbain An-Nawawi

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَس بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ [رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiyallahu anhu, pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri” (H.R alBukhari dan Muslim).

3. Nilai Kepekaan

Ajarkan anak sejak dini kepakaan terhadap masalah, agar anak menjadi pribadi yang peka terhadap kondisi orang lain. Ajarkan kepada anak tentang nilai kepekaan agar tidak menyakiti dan tersakiti oleh orang lain.

Mengajarkan nilai kepekaan sejak dini, adalah cara untuk mengajarkan pada sang anak tentang hak orang lain yang harus dihormati dan di beri ruang.

Anak yang peka akan paham tentang kondisi orang lain dan berusaha untuk membantunya. sedang anak yang tidak di bangun kepekaan positifnya sejak dini, pasti akan mendobrak hak orang lain untuk melancarkan kepentingannya sendiri tanpa peduli pada hak orang lain yang tergerus.

3. Nilai Ketegasan Bukan Kekerasan

Tegas memegang prinsip dan nilai-nilai penting untuk di tanamkan pada sang anak, agar ia dapat menetukan pilihan serta memperjuangkan pilihan-pilihan hidupnya.

Dengan nilai ketegasan anak akan teguh terhadap nilai-nilai baik yang sudah orang tua tanamkan sejak kecil. Anak akan tetap konsisten terhadap nilai-nilai kebaikan itu hingga ajal menjemput.

4. Nilai Kesadaran

Pentingnya menanamkan nilai kesadaran agar anak sadar bahwa orang tua hanya menanamkan nilai-nilai sejak kecil selanjutnya sang anaklah penentu masa depannya.

Allah telah berjanji bahwa Allah  tidak merubah keadaan seseorang, sehingga mereka merubahnya sendiri. Inilah yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d/13:11].

Hidup memanglah berada dalam lingkaran takdir, namun takdir bukan berarti pemberhentian seorang hamba untuk berusaha, justru ia merupakan ruang luas untuk berharap pada janji-Nya.

Bahwa takdir baik dan buruknya Allah merupakan anugrah bagi hamba sebab lewat jalan itulah Allah membalas kebaikan dengan kebaikan dan membalas kejahatan dengan kejahatan.

Empat nilai ini sesungguhnya hanya awal sebab banyak lagi nilai-nilai penting yang harus di tanamkan pada anak.

Namun, ketika orang tua telah menanamkan nilai agama dengan baik maka niscaya nilai yang lain akan perlahan mengikutinya.

Ajarkan pada Anak nilai sesuatu, maka niscaya ia akan belajar menghargai segala sesuatunya.

NASER MUHAMMAD

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel