"Kapan Nikah" Sama Sensitifnya dengan Kalimat "Kok, Belum Hamil"

KATA-KATA memang ajaib. Sebuah ucapan atau kalimat bisa berdampak sangat luar biasa. Efeknya bisa positif dan bisa negatif.

Seperti yang terjadi baru-baru ini. Seorang pemuda tega menghabisi nyawa tetangganya hanya karena kata-kata. Nampak seperti dipicu persoalannya sepele. Namun sebenarnya tidak sesederhana itu.

Ilustrasi pemuda menahan malu (source: Pixabay)

Pelaku membunuh ibu yang juga tetangganya itu karena mengaku tersinggung dengan perkataan korban yang berkata kepadanya, "kapan nikah".

Pemuda 28 tahun itu tak terima dengan kata-kata yang sudah sering dilontarkan korban tersebut. Dia marah. Dia pun membunuh tetangganya itu dengan amat keji.

Si pemuda tersinggung selalu ditanya kapan nikah. Warga Kampung Pasir Jonge Desa Sukawangi Kecamatan Singajaya Kabupaten Garut, itu gelap mata membunuh Iis yang sedang hamil delapan bulan.

Kepada penyidik, pelaku mengaku sakit hati oleh korban yang menyindirnya ketika melintas di depan rumahnya. Saat itu pelaku sedang duduk di depan rumah.

“Geura kawin, era ku batur, batur mah geus boga budak, ai maneh teu kawin-kawin (cepat nikah, malu sama teman. Teman lain sudah punya anak, kamu belum juga nikah),” demikian kata-kata berbuah petaka itu seperti dikutip Jawa Pos.

Menjaga perasaan

Aksi brutal pelaku menghabisi nyawa orang lain apalagi dalam kondisi hamil adalah perbuatan terkutuk dan harus ditindak seadil-adilnya oleh penegak hukum.

Namun, di samping itu, kita tentu tak boleh lantas menutup mata menimpakan kekesalan pada satu pihak semata. Di sini nampak alur yang sebenarnya terlihat kausalistik.

Lebih dari itu, terdapat  pelajaran berharga dari kejadian tersebut tentang betapa pentingnya mengendalikan diri dan cakap dalam mengelola perasaan orang lain.

Sebab, bagaimanapun, karakter orang pasti berbeda-beda. Ada yang memang acuh tak acuh betapapun sindiran seperti di atas itu disampaikan.

Namun, ada juga orang yang tak cukup pandai memahami atau menangkap suatu kalimat gurauan. Akhirnya, ia muda terkompori dan selanjutnya melakukan tindakan yang tidak produktif.

Tetapi, perlu dipahami juga bahwa gurauan yang terlampau berlebihan (apalagi jika dilakukan berulang dan berkelanjutan) pun bisa membuat orang senewan.

Jika suatu guyonan baik sikap maupun perkataan sudah melewati batas kewajaran, bisa saja seseorang yang diguyoni lepas akal sehat dan kemudian melakukan tindakan lancung.

Disinilah perlunya "berkompromi" tentang mekanisme kita dalam berkomunikasi dan di sisi lainnya mampu secara cergas memahami respon lawan bicara.

Kata "kapan nikah" sejatinya kurang lebih sama kadar sensitifitasnya dengan kalimat "Kok, belum hamil" ketika  dilontarkan kepada seorang wanita yang telah menikah bertahun masa namun belum hamil. Kalimat itu sama menyakitkannya.

Jika si pemuda langsung mengambil langkah nekat dengan menghabisi nyawa orang yang membuatnya merasa direndahkan, sementara wanita tidak.

Tetapi bukan berarti wanita tak marah. Sungguh, jauh di dalam hatinya ia murka. Dia marah luar biasa. Hatinya menangis pilu. Sakitnya bak luka menganga yang disiram air perasan jeruk nipis sebelanga.

Beruntungnya wanita tak seperti pria. Sehingga wanita bisa mengendalikan amarahnya meskipun di dalam ia menyimpan luka sembilu. Jika tidak, entah sudah berapa pertikaian yang terjadi. 

Jadi, mari mulai membangun pola interaksi yang lebih bijaksana dan mengasah kepekaan komunikasi dikala berhubungan antar sesama dalam keseharian kita.

Tentu kita tidak menyalahkan siapapun. Yang keliru adalah ketidakmampuan kita mengendalikan diri. Pengendalian itu bisa dilakukan apabila kepekaan nalar dan rasa telah berpilin menjadi jatidiri.

FIQIH ULYANA

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel