Menumbuhkan Budaya Malu sebagai Basis Pendidikan Seks Bagi Sang Buah Hati

APA JAWABAN saat si kecil tetiba bertanya dengan lugu tentang seks. Lantas bagaimana sesungguhnya orangtua menjawabnya dengan tepat?

Herbert Wagemaker dalam bukunya yang berjudul Parent and Dicipline berkata:
"Seringkali kehamilan di luar nikah menjadi momen awal bagi orangtua dan anak-anak untuk membicarakan tentang seks, - Herbert Wagemaker
Ilustrasi anak kecil penasaran heran (source: Pixabay) 

Seringkali orangtua, tidak membahas atau tidak membicarakan hal ini karena bingung bagaimana menjelaskannya pada anak dan dari mana harus memulainya. Sebab, perbincangan tentang seksualitas agaknya masih menjadi tabu bagi  kita.

Topik-topik tentang seks kerap dihindari dan dijaga agar tetap menjadi rahasia, terutama dari anak-anak.

Maka, tak jarang, ketika anak bertanya tentang seksualitas, orangtua risih sehingga enggan memenuhi keingintahuan anak.

Sang anak pun akhirnya tidak mendapat informasi yang benar dan malah jadi salah kaprah. Hal paling jauh yang dilakukan orangtua dalam penjelasan ini hanya berkata, “Jangan melakukannya, itu tidak baik...”. Lalu hening, dan  tidak membicarakannya lagi.

Lalu pertanyaanya, sudah tepatkah cara dan keputusan kita untuk menjauhkan anak dari pengetahuan seks?

Pendidikan seks sangatlah penting dan tidak bisa diabaikan mengingat bahwa hari ini masyarakat modern tengah menghadapi dekadensi moral, rusaknya pergaulan, dan kaburnya batas norma kesopanan.

Maka dengan demikian pendidikan seks sejak dini, merupakan salah satu usaha preventif untuk menghadapi masalah-masalah
sosial modern ini.

Syahwat seksual merupakan salah satu bagian dari fitrah manusia. Oleh karenanya untuk memenuhi kebutuh dari fitrah suci ini.

Karena itulah, agama telah mengatur sedemikian rupa agar dalam menyalurkannya tetap berada di dalam koridor yang tepat. Tidak keluar jalur apalagi sampai menimbulkan kerusakan.

Langkah awal untuk pendidikan seks bagi anak adalah memunculkan budaya malu jika melihat dan memperlihatkan sesuatu yang tidak pantas. Salah satunya yang diatur dalam agama misalnya adalah hijab.

Dengan mengenalkan padanya fungsi hijab sebagai salah satu sarana untuk menutupi aurat maka diharapkan anak memahami fungsi hijab itu sendiri secara mendalam dan penuh kesadaran akan pentingnya hijab tersebut.

Pendidikan tentang pentingnya rasa malu perlu ditanamkan sejak dini. Pemahaman tentang aurat dan kewajiban menutupnya salah satu tujuannya adalah menumbuhkan rasa malu pada anak sehingga mereka terbiasa menjaga aurat dan menundukkan pandangan.

Anak juga harus memahami hakikat mahram agar dapat mengetahui hal yang apa saja yang boleh terlihat dari dirinya dan hal apa yang tidak boleh.

Dengan memahami hal-hal tersebut diharapkan agar sang anak dapat membatasi pergaulan dengan orang yang bukan mahramnya.

Budaya malu yang ditanamkan sejak kecil akan membawa kebaikan yang sangat banyak bagi sang buah hati sebagai benteng bagi dirinya dari lelaki ajnabi.

Budaya malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan. Malu mengajak pemiliknya agar menghias diri dengan yang mulia dan menjauhkan diri dari sifat-sifat yang hina.

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.” [Muttafaq ‘alaihi]

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.

“Malu itu kebaikan seluruhnya.”

Dalam perspektif ini maka pendidikan seks harus dibangun mulai dari menanamkan pada anak budaya malu sebagai bentengnya karena Tuhan cinta kepada orang-Orang yang memiliki rasa malu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيْرٌ يُـحِبُّ الْـحَيَاءَ
وَالسِّتْرَ ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ.

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla Maha Pemalu, Maha Menutupi, Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan. Apabila salah seorang dari kalian mandi, maka hendaklah dia menutup diri.”

Budaya malu inilah yang kemudian diharapkan dapat menjadikan anak merasa perlu untuk membentengi dirinya dari tatapan dan sentuhan orang yang bukan mahramnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِسْتَحْيُوْا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ، مَنِ اسْتَحْىَ مِنَ اللهِ حَقَّ
الْـحَيَاءِ فَلْيَحْفَظِ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى
وَلْيَذْكُرٍِِِِِِِِِِِِِِ الْـمَوْتَ وَالْبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ
اْلأَخِِِِرَة تَرَكَ زِيْنَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ
اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْـحَيَاءِ.

Hendaklah kalian malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu. Barang-siapa yang malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. 

Barangsiapa yang menginginkan kehidupan  akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh ia telah malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu.

NASER MUHAMMAD

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel